Aroma wangi bunga melati putih yang tajam namun menenangkan mendadak memenuhi seluruh sudut ruang tamu keluarga Arman dan Ammar, mengusir bau khas sore hari dan menggantikannya dengan keharuman yang sarat akan makna kesakralan. Wangi tersebut berasal dari rangkaian roncean melati yang baru saja diantarkan oleh vendor dekorasi tradisional, menandakan dimulainya persiapan fisik yang nyata menuju hari paling sakral dalam hidup Samaira dan Arkan. Setelah sekian lama melewati badai keraguan, konflik keluarga, dan air mata di stasiun kereta, kini mereka duduk berdampingan tanpa ada lagi sekat ketakutan yang menghalangi. Ruang tamu itu didekorasi sederhana namun elegan, dengan cahaya lampu kuning hangat yang memantul di dinding putih bersih rumah keluarga Arkan.
Samaira merapikan letak hijab segi empat berwarna krem yang melingkar rapi di kepalanya, mencoba meredakan debar jantung yang tiba-tiba bergemuruh kencang di dalam dadanya. Di hadapannya, sebuah meja mahoni berukuran besar telah dipenuhi oleh berbagai macam katalog pernikahan, brosur katering, dan setumpuk sampel kertas.
"Kamu yakin mau pakai warna gading buat tema undangannya, Sam? Nggak mau agak krem keemasan biar kelihatan lebih mewah?" tanya Arkan lembut sambil menoleh ke arah gadis di sebelah kanannya, jemarinya membolak-balik lembaran katalog dengan penuh kehati-hatian.
Samaira tersenyum tipis, menatap lurus ke arah tumpukan kertas tersebut sebelum menjawab, "Warna gading jauh lebih klasik dan sederhana, Ar. Sesuai sama apa yang selalu kita impikan dulu waktu masih zaman sekolah. Nggak usah terlalu mencolok, yang penting esensinya sampai ke orang-orang yang kita undang."
"Bener juga ya," Arkan terkekeh pelan, suaranya terdengar begitu hangat dan menenangkan di telinga Samaira. "Kalau dipikir-pikir, perjalanan kita dari seragam abu-abu sampai bisa duduk di sini ngurusin undangan pernikahan rasanya kayak mimpi panjang yang akhirnya punya akhir bahagia."
"Iya, mimpi panjang yang hampir aja gagal total gara-gara aku nyaris kabur naik kereta waktu itu," balas Samaira sambil mencolek lengan Arkan pelan, diiringi tawa renyah yang mencairkan suasana kaku di antara mereka.
"Tapi kan kenyataannya kamu nggak jadi kabur, kan? Karena ada Varisha yang jadi pahlawan kesiangan di peron stasiun," timpal Arkan dengan mata berbinar jenaka, menikmati setiap detik kebersamaan yang dulu terasa begitu sulit digapai.
Suasana sore itu mengalir begitu natural, memadukan gelak tawa kecil dengan kesibukan administratif yang biasanya melelahkan. Di balik aroma melati yang terus menguar, ada ketenangan batin yang luar biasa besar menyelimuti jiwa Samaira, seolah semesta sendiri sedang merestui langkah mereka menuju lembaran baru kehidupan rumah tangga.
❖ ❖ ❖
Di atas meja mahoni yang lebar dan mengkilap itu, tumpukan contoh kertas undangan berwarna gading terbentang sangat luas di hadapan mereka berdua yang kini duduk berdampingan secara resmi sebagai pasangan yang telah melalui proses lamaran keluarga minggu lalu. Kertas-kertas tebal bertekstur linen tersebut memuat berbagai macam pilihan font, mulai dari gaya kaligrafi klasik hingga modern minimalis. Samaira meraba permukaan kertas sampel tersebut dengan ujung jemarinya, merasakan tekstur kasar yang elegan di bawah telapak tangannya.
"Ini ada draf cetak percobaan untuk halaman depan, Sam. Coba dicek lagi gelarnya, jangan sampai ada salah huruf kayak nama marga ommu waktu itu," ujar Arkan sambil menyodorkan sebuah selembar kertas khusus berukuran A4 yang memuat draf tata letak nama pengantin.
Samaira menerima kertas tersebut dengan kedua tangannya, mendekatkannya ke wajah untuk memeriksa setiap detail tulisan dengan sangat teliti. "Biar aku baca pelan-pelan ya. Takutnya ada yang terlewat."
"Silakan, Yang Mulia. Waktu dan tempat dipersilakan," canda Arkan ringan sambil menyandarkan punggungnya ke sofa ruang tamu, memperhatikan keseriusan di wajah calon istrinya dengan tatapan penuh kasih sayang yang tak pernah berubah sejak bertahun-tahun lalu.
Samaira mendengus kecil, namun senyuman tak mampu ia sembunyikan dari bibirnya. "Jangan bikin aku hilang konsentrasi, Ar. Ini urusan negara masa depan kita."
"Siap, bos. Aku diam sekarang," kata Arkan sambil menutup mulutnya dengan tangan seolah sedang mengunci bibirnya rapat-rapat.
Namun, keheningan itu tidak bertahan lama ketika pintu utama ruang tamu terbuka setengah, dan ibu Arkan muncul membawa nampan berisi dua cangkir teh chamomile hangat serta piring kecil berisi kue jajan pasar. Beliau meletakkan nampan tersebut dengan senyuman ramah yang selalu berhasil membuat Samaira merasa menjadi bagian dari keluarga itu.
"Bagaimana undangannya, anak-anak? Ada yang kurang jelas dari pihak percetakan?" tanya Ibu Arkan lembut sambil merapikan letak cangkir di atas meja.