Tit Tak Sempurna

Amrullah Ibrahim
Chapter #40

Sujud Syukur di Sejadah Panjang

Malam menjelang hari pingitan, suasana rumah terasa begitu khusyuk di bawah temaram lampu kamar yang menenangkan jiwa. Di luar jendela, angin malam berhembus lembut, membawa kesejukan yang meresap hingga ke dalam tulang. Langit tampak bersih tanpa awan, menampakkan hamparan bintang yang berkelap-kelip tenang seolah turut menyaksikan detik-detik sakral perpindahan fase kehidupan dua insan yang sebentar lagi akan resmi disatukan dalam ikatan pernikahan. Tidak ada lagi suara bising kendaraan atau ketegangan sengketa keluarga yang sempat meruncing beberapa waktu lalu; yang tersisa hanyalah keheningan malam yang kudus dan penuh berkah.

Samaira duduk bersimpuh di atas sajadah empuk berwarna biru tua di kamarnya yang bernuansa minimalis. Lampu tidur dipadamkan, digantikan oleh pancaran cahaya kuning hangat dari lampu sudut ruangan yang menciptakan bayangan lembut di dinding kamar. Ia baru saja merampungkan rakaat terakhir dari sholat sunnah malam yang ia dirikan dengan penuh kekhusyukan. Hatinya bergemuruh pelan, diliputi oleh rasa haru yang teramat sangat. Besok, hari pingitan resmi dimulai, dan setelah itu, pintu gerbang menuju bahtera rumah tangga yang sebenarnya akan terbuka lebar menyambut mereka.

"Waktu berjalan begitu cepat," bisik Samaira pada dirinya sendiri, jemarinya meraba permukaan kain mukena putih berenda yang ia kenakan.

Ingatannya melayang jauh menembus ruang dan waktu, mengenang kembali masa-masa ketika ia dan Arkan masih duduk bersama di bangku sekolah, berbagi tawa di ruang musik yang berantakan, hingga menghadapi badai penolakan keluarga yang hampir meruntuhkan asa mereka. Siapa sangka, takdir Tuhan bekerja dengan cara yang begitu misterius dan indah. Dari sekadar persahabatan masa kecil yang diuji oleh jarak, kesalahpahaman, dan ego orang tua, kini mereka berdiri di ambang pintu halal.

Samaira menarik napas dalam-dalam, meresap aroma wangi minyak wangi non-alkohol yang melekat di sajadahnya. Di rumah sebelah, di balik dinding pembatas yang memisahkan tempat tinggal mereka, ia tahu Arkan sedang melakukan hal yang sama. Malam ini adalah malam perenungan terakhir sebelum status mereka berubah sepenuhnya. Sebuah malam di mana segala lelah, air mata, dan doa yang dipanjatkan bertahun-tahun lamanya bermuara pada satu titik kepasrahan yang sempurna kepada Sang Pencipta.

❖ ❖ ❖

Usai menunaikan sholat tahajud terakhir mereka sebagai orang yang belum terikat sah, Samaira dan Arkan merenungkan perjalanan panjang takdir yang mempertemukan mereka. Di kamar bernuansa tenang itu, Samaira menundukkan kepala, membiarkan butiran bening lolos dari kelopak matanya yang terpejam. Sholat malam ini terasa begitu berbeda; ada beban emosional yang terangkat bersih dari dadanya, digantikan oleh kelegaan yang luar biasa.

"Ya Allah..." gumam Samaira pelan, suaranya bergetar menahan haru.

Ia teringat bagaimana dulu mereka sempat berada di ambang perpisahan ketika perjodohan bisnis orang tua hampir menghancurkan kebebasan memilih mereka. Ia teringat air mata yang tumpah di ruang musik sekolah, ketakutan saat video protes mereka disiarkan di hadapan keluarga besar, hingga malam-malam panjang penuh doa di sepertiga malam di mana ia hanya bisa menyebut nama Arkan dalam diam. Perjalanan itu tidak mudah. Ada banyak duri yang harus mereka lewati, banyak ego yang harus dipangkas, dan banyak air mata yang harus dibayar mahal demi meraih restu yang kini berada di depan mata.

Di kamarnya sendiri, Arkan melakukan hal yang serupa. Pemuda itu duduk bersila di atas sajadah, menyandarkan keningnya cukup lama dalam sujud syukur yang panjang. Napasnya terdengar teratur, namun jiwanya bergejolak penuh rasa syukur. Arkan merenungkan bagaimana Tuhan membalikkan keadaan dengan begitu sempurna. Dari kemarahan para ayah, penolakan sosial, hingga akhirnya luluh oleh keikhlasan anak-anaknya.

"Terima kasih telah menjaganya untukku, ya Allah," batin Arkan dalam sujudnya.

Ia menyadari bahwa apa yang mereka miliki saat ini bukanlah hasil dari kehebatan rencana manusia, melainkan pertolongan langsung dari langit. Jarak, waktu, dan pertentangan keluarga yang dulu terasa sebagai dinding tebal, ternyata hanyalah cara Tuhan untuk menguji seberapa kuat akar cinta dan keimanan di antara mereka berdua. Kini, dinding itu telah runtuh, digantikan oleh jembatan suci yang akan membawa mereka menuju ridha-Nya.

Lihat selengkapnya