Tradisi pingitan selama seminggu penuh membuat Samaira dan Arkan harus rela terpisah dinding rumah tanpa boleh saling bertatap muka secara langsung.
Aturan adat yang diwariskan turun-temurun itu mendadak terasa seperti hukum besi yang kejam bagi dua orang yang sedari kecil tidak pernah terpisahkan oleh jarak lebih dari sehari. Rumah keluarga Samaira dan rumah keluarga Arkan yang kebetulan hanya berjarak beberapa rumah di kompleks perumahan elit tersebut, kini bagaikan benteng pertahanan yang memisahkan dua kubu. Tidak boleh ada pertemuan fisik, tidak boleh ada sapaan langsung, bahkan ponsel mereka sempat disita secara bergantian oleh para ibu demi menjaga kesakralan tradisi menjelang hari pernikahan.
Samaira duduk melamun di tepi tempat tidurnya yang berseprai putih gading. Ia mengenakan piyama tidur bercorak bunga lavender, menatap kosong pada pantulan dirinya sendiri di meja rias. Suasana rumah terasa begitu sunyi, hanya diisi oleh suara detak jarum jam dinding antik di lantai bawah yang berdenting lambat.
"Sudah malam, Mai. Kenapa belum tidur?" suara Ibu terdengar lembut dari balik pintu kamar yang terbuka sedikit. Ibu melangkah masuk sambil membawa segelas susu hangat, meletakkannya di atas nakas sebelah tempat tidur.
"Aku tidak bisa tidur, Bu," jawab Samaira pelan, suaranya terdengar lesu. Ia menoleh menatap ibunya dengan mata menyiratkan kerinduan yang mendalam. "Rasanya aneh sekali berada di rumah ini tanpa mendengar suara mobil Arkan masuk ke garasi sebelah, atau tanpa melihat bayangannya di teras rumah."
Ibu tersenyum kecil, lalu mengelus puncak kepala putrinya dengan penuh kasih sayang. "Ini hanya seminggu, Sayang. Tradisi pingitan ini ada tujuannya. Biar nanti saat kalian bersanding di pelaminan, rasa rindu itu menjadi berkah tersendiri. Anggap saja ini ujian kesabaran terakhir sebelum kalian resmi mengarungi bahtera rumah tangga bersama."
"Tapi rasanya seperti disekap, Bu. Padahal kami tinggal di kompleks yang sama," protes Samaira setengah merajuk, membuat ibunya terkekeh geli.
"Dulu waktu zaman Ibu dipingit, boro-boro tinggal di kompleks yang sama, ketemu aja sama Ayahmu harus curi-curi pandang di balik jendela masjid," kenang Ibu sambil merapikan selimut Samaira. "Sudah, habiskan susunya, lalu pejamkan mata. Jangan terlalu dipikirkan. Arkan juga pasti sedang melakukan hal yang sama di rumahnya."
Setelah ibunya keluar dan menutup pintu rapat-rapat, kesunyian malam kembali merayap masuk ke dalam kamar. Samaira bangkit dari ranjang, berjalan pelan menghampiri jendela kaca kamarnya yang menghadap langsung ke arah jalan setapak samping rumah—jalur yang biasa mereka lewati sewaktu kecil untuk pergi bermain sepeda bersama.
Di sisi lain, di rumah yang berjarak tidak sampai seratus meter dari sana, Arkan mengalami nasib serupa. Ia mondar-mandir di dalam kamarnya yang berantakan dengan kertas-kertas desain arsitektur berserakan di atas meja kerja. Pikirannya sama sekali tidak bisa fokus pada proyek gedung perkantoran yang harus ia selesaikan minggu depan. Bayangan wajah Samaira terus berkelebat di dalam benaknya, menciptakan gejolak rindu yang semakin lama semakin menyesakkan dada.
❖ ❖ ❖
Rasa rindu yang membuncah membuat malam-malam terasa begitu panjang bagi Arkan yang mondar-mandir gelisah di dalam kamarnya.
Arkan melirik jam dinding digital di atas meja komputernya. Pukul 23.15 WIB. Rumahnya sudah lama padam dari segala aktivitas. Kedua orang tuanya sudah lama masuk ke kamar tidur masing-masing, terlelap dalam mimpi indah menyambut hari-hari besar anak lelaki satu-satunya. Namun, bagi Arkan, waktu seolah berjalan merayap sangat lambat, mirip jarum jam yang digerakkan oleh siput kelelahan.
Ia mendengus kesal, lalu menghempaskan tubuhnya ke atas kasur empuk berukuran king size. Suara pegas tempat tidur berdecit pelan. Ia menatap langit-langit kamar yang dicat warna biru gelap dengan hiasan tatahan bintang fosfor yang berpendar remang-remang.
"Sial. Kenapa harus ada tradisi pingitan kuno seperti ini?" gumam Arkan pelan pada kamarnya yang kosong.
Otaknya terus berputar, mengingat kembali hari-hari ketika mereka masih bebas bertemu setiap sore, duduk di teras sambil menikmati pisang goreng buatan bibi rumah, atau berdebat kusir soal desain interior rumah masa depan mereka. Kini, jangankan mengobrol langsung, melangkahkan kaki keluar gerbang rumah saja sudah menjadi pelanggaran berat yang siap disemprot oleh omelan sang ibu keesokan paginya.
Arkan bangkit kembali dari kasurnya. Ia berjalan menuju jendela kamar di lantai dua yang menghadap ke arah rumah Samaira. Dari celah gorden tipis berwarna putih tulang, ia bisa melihat lampu kamar Samaira di lantai atas masih menyala terang, memancarkan pendar kuning hangat yang menembus kegelapan malam.
"Apakah dia juga sedang memikirkanku?" batin Arkan. Rasa penasaran itu mencengkeram hatinya kuat-kuat.
Ia meraih ponselnya yang tergeletak di atas meja, membuka aplikasi pesan singkat, lalu mengetik sebuah kalimat rindu: Mai, kamu sudah tidur? Aku kangen. Namun, tepat sebelum tombol kirim ditekan, ia teringat ancaman ibunya kemarin sore: Kalau ketahuan melanggar pingitan lewat chat atau telepon, cincin pernikahan kalian ditunda sebulan! Dengan gerutuan tertahan, Arkan menghapus pesan tersebut lalu melempar ponselnya kembali ke atas kasur dengan rasa frustrasi yang meluap-luap.
Ia butuh udara segar. Atau lebih tepatnya, ia butuh melihat sosok itu secara langsung, meskipun hanya dari kejauhan, meskipun hanya sebatas bayangan di balik jendela kaca yang dingin. Tanpa pikir panjang, Arkan mengenakan jaket hoodie berwarna hitam kesayangannya, melangkah mengendap-endap keluar kamar menuju pintu belakang rumah yang langsung terhubung ke halaman samping yang rimbun oleh tanaman hias.
Udara malam Jakarta yang sejuk menerpa wajahnya begitu ia berhasil menginjakkan kaki di atas rumput halaman yang basah oleh embun. Langkah kakinya dibuat senyap mungkin, menghindari bunyi gesekan sepatu yang bisa memancing perhatian satpam atau anggota keluarga yang belum tidur.
❖ ❖ ❖
Tiba-tiba, tiga ketukan pelan terdengar di kaca jendela—kode rahasia masa kecil yang mereka miliki sejak duduk di bangku TK.