Pagi hari pernikahan tiba dengan gemercik air wudhu dan pancaran sinar matahari hangat yang menyinari halaman rumah dipenuhi dekorasi bunga putih. Suasana di sekitar kediaman yang dulunya menjadi saksi bisu pertumbuhan Samaira dan Arkan kini telah disulap menjadi tempat suci yang sakral. Rangkaian bunga melati segar menghiasi setiap sudut pintu masuk, menebarkan wewangian lembut yang berpadu dengan udara sejuk pagi hari. Di dalam kamar masing-masing, kesibukan dan debar jantung bercampur baur menjadi satu, menandai babak baru dari lembaran hidup yang selama ini mereka nantikan.
Samaira duduk di depan cermin rias dengan balutan busana pengantin tradisional bernuansa putih bersih. Seorang perias pengantin profesional dengan telaten merapikan selubung kain penutup kepala yang membingkai wajahnya. Di balik pantulan cermin, Samaira menarik napas panjang, mencoba meredakan gejolak di dadanya.
"Tenanglah, Samaira. Kamu terlihat sangat cantik hari ini," bisik ibunya lembut sambil merapikan lipatan kain baju putrinya dengan mata berkaca-kaca penuh haru.
Samaira tersenyum tipis, menggenggam jemari ibunya yang terasa dingin. "Aku gugup sekali, Ibu. Rasanya semua ini seperti mimpi yang berjalan terlalu cepat."
"Ini bukan mimpi, Sayang. Ini adalah awal dari takdir indah yang sudah dipersiapkan untukmu," balas sang ibu sambil mengecup puncak kepala putrinya penuh kasih sayang.
Sementara itu, di ruangan seberang, Arkan sedang mengenakan jas pengantin berwarna senada dengan bantuan sang ayah. Arman menepuk pelan pundak putranya dengan bangga, memberikan tatapan penuh keyakinan yang mampu meluruhkan sisa-sisa kegelisahan di wajah Arkan.
"Bagaimana perasaanmu, Pengantin Pria?" tanya Arman dengan senyuman lebar.
Arkan merapikan kerah jasnya, lalu menarik napas dalam-dalam. "Jantungku berdegup lebih kencang daripada saat aku menghadapi ujian nasional dulu, Ayah. Tapi aku siap."
"Bagus. Ingatlah bahwa hari ini bukan sekadar memenuhi janji masa lalu, melainkan awal dari tanggung jawab besarmu untuk menjaga wanita yang paling kamu cintai," pesan Arman bijak.
Langkah kaki mereka kemudian bergerak keluar menuju halaman utama tempat meja ijab kabul telah berdiri megah di bawah tenda putih berhiaskan kelopak bunga. Para tamu undangan dari kerabat dekat dan sahabat masa kecil mulai berdatangan, mengisi kursi-kursi yang telah disediakan dengan senyuman hangat dan pancaran mata penuh doa restu.
❖ ❖ ❖
Arkan duduk tegang di hadapan meja ijab kabul, sementara Samaira menunggu dengan degup jantung luar biasa di ruang terpisah di balik tirai putih.
Di bawah naungan tenda putih yang dihiasi juntaian bunga sedap malam, Arkan duduk di kursi kayu jati berukir tepat di hadapan penghulu dan dua orang saksi nikah. Udara pagi yang cerah seolah tidak mampu mengurangi ketegangan yang merayap di sekujur tubuhnya. Telapak tangannya terasa dingin, dan ia terus-menerus meremas ujung celananya sendiri demi mengalihkan rasa gugup yang melilit di tenggorokan.
Penghulu, seorang pria paruh baya bersorban putih, merapikan berkas-berkas nikah di atas meja kaca kecil di hadapan mereka. "Apakah semuanya sudah siap, Nak Arkan?" tanya penghulu ramah namun berwibawa.
"Insya Allah siap, Pak Penghulu," jawab Arkan dengan suara yang sedikit parau, berusaha menegakkan postur tubuhnya agar tampak tenang di hadapan para saksi.
Di ruangan terpisah yang hanya dibatasi oleh tirai kain putih transparan, Samaira duduk bersila di atas permadani empuk bersama beberapa orang pengiring pengantin wanita. Jantungnya berdegup kencang seirama dengan ketukan jarinya sendiri di atas lutut. Melalui celah tipis kain tirai putih itu, ia bisa melihat siluet Arkan yang duduk tegak di balik meja akad.
"Samaira, kamu tidak apa-apa? Wajahmu pucat sekali," tanya sahabat karibnya sejak masa kuliah dengan nada khawatir, menyodorkan segelas air mineral hangat.
Samaira menggeleng pelan, menerima gelas tersebut lalu meneguknya sedikit untuk membasahi tenggorokannya yang terasa kering. "Aku tidak apa-apa... hanya saja rasanya seperti mau pingsan mendengarkan suara debar jantungku sendiri."