Langit sore di penghujung hari itu perlahan-lahan berubah warna dari biru terang menjadi gradasi jingga keemasan yang memukau, sebelum akhirnya meredup menyambut malam yang hangat. Resepsi pernikahan yang digelar secara intim di halaman belakang rumah mereka berubah menjadi lautan cahaya lampu gantung temaram yang digantung berpola di antara dahan-dahan pohon besar, menciptakan suasana magis yang menyihir setiap pasang mata. Senyum kebahagiaan terpancar jelas di wajah seluruh kerabat, keluarga besar, serta sahabat terdekat yang hadir untuk merayakan hari bersejarah tersebut. Alunan musik instrumental yang lembut mengalun pelan, berpadu harmonis dengan suara obrolan ringan dan derai tawa yang mengisi setiap sudut halaman.
Samaira berdiri di atas pelaminan sederhana bernuansa rustic, mengenakan kebaya pengantin berwarna putih gading berpotongan elegan yang dipadukan dengan hijab senada. Di sampingnya, Arkan berdiri tegak dengan setelan jas hitam formal yang membuatnya tampak gagah, sesekali mengangguk ramah menyambut para tamu yang datang bersalaman.
"Selamat ya, Arkan, Samaira. Semoga kalian bahagia selalu sampai kakek nenek," ucap seorang kerabat sambil tersenyum lebar.
"Terima kasih banyak, Bibi. Silakan menikmati hidangannya ya," balas Arkan sopan dengan senyuman tulus terukir di bibirnya.
"Terima kasih kunjungannya, Bi," sahut Samaira ramah, mengeratkan genggaman tangannya pada buket bunga kecil di tangannya.
Suasana pesta terasa begitu hidup dan penuh warna. Lampu-lampu kecil yang melingkar di batang pohon berkedip lembut seiring angin malam yang berhembus sepoi-sepoi, membawa aroma harum bunga melati dan wewangian malam yang menenangkan. Namun, di balik kemeriahan dan sorot lampu sorot yang menyilaukan mata, hari yang panjang dan melelahkan ini mulai menuntut harga yang harus dibayar oleh fisik kedua mempelai. Berjam-jam berdiri menyambut ratusan tamu undangan membuat tenaga mereka terkuras habis, menyisakan rasa pegal yang mulai menjalar dari telapak kaki hingga ke punggung.
❖ ❖ ❖
Di tengah riuhnya para tamu undangan yang masih antusias memberikan ucapan selamat serta berfoto bersama di atas pelaminan, Samaira mulai merasakan kelelahan yang luar biasa melanda tubuhnya. Berjam-jam berdiri mengenakan kebaya pengantin bertabur payet yang berat serta sepatu hak tinggi membuat napasnya terasa sedikit memburu. Kepalanya mulai terasa pening akibat kelap-kelip lampu dekorasi dan ramainya suara bising di sekitarnya.
Samaira mencoba bertahan, memaksakan seulas senyum setiap kali ada kilatan kamera dari ponsel para tamu yang mengabadikan momen tersebut. Namun, di balik senyuman manisnya, keringat dingin mulai bercucuran di pelipisnya, dan tubuhnya sedikit terhuyung ke depan sebelum ia berhasil menguasai keseimbangannya kembali.
"Kamu tidak apa-apa, Sam?" bisik Arkan pelan di tengah sebuah sesi foto, menyadari perubahan drastis pada postur tubuh istrinya yang mendadak menegang.
Samaira menoleh sekilas, menatap suaminya dengan pandangan yang menyiratkan kepenatan tingkat tinggi. "Kakiku sudah mati rasa, Arkan. Kebaya ini rasanya semakin lama semakin berat seperti membawa batu," bisik Samaira lirih, berusaha agar suaranya tidak tertangkap oleh mikrofon atau didengar oleh tamu yang sedang bersiap naik ke pelaminan.
Arkan mengangguk paham. Ia tahu persis batas ketahanan wanita yang kini telah resmi menjadi istrinya itu. Tanpa menunggu acara selesai sepenuhnya, Arkan segera memberikan gestur sopan kepada keluarga yang berdiri di dekat tangga pelaminan untuk mengambil alih situasi sejenak.
❖ ❖ ❖