Tit Tak Sempurna

Amrullah Ibrahim
Chapter #44

Air Mata di Kursi Roda

Suara alunan musik gamelan yang lembut bercampur dengan nyanyian sinden mengalun syahdu di ruang resepsi Grand Ballroom Hotel Emerald. Hari itu, gedung tersebut disulap menjadi taman bunga yang megah dengan dominasi warna putih dan emas, mencerminkan kesakralan dan kemewahan. Di tengah pelaminan yang bertahtakan ukiran kayu jati, duduk sepasang pengantin baru dengan balutan busana pengantin adat Jawa berwarna putih gading yang serasi. Samaira tampak anggun dengan paes agung yang menghiasi dahi dan jilbabnya yang tertata rapi, sementara Arkan terlihat gagah dan tampan dalam beskap senada.

Pesta pernikahan itu adalah puncak dari perjalanan panjang yang berliku. Sebuah penyatuan dua keluarga besar yang sempat terpisah oleh tembok ego dan kesalahpahaman selama bertahun-tahun. Namun, hari ini, semua sekat itu telah runtuh. Ratusan tamu undangan, mulai dari kerabat dekat, sahabat, hingga rekan bisnis kedua belah pihak, memadati ruangan untuk memberikan doa restu. Wajah-wajah bahagia terlihat di setiap sudut ruangan, menyaksikan bersatunya dua insan yang saling mencintai di atas pelaminan yang megah.

Acara utama telah selesai dilaksanakan, mulai dari prosesi akad nikah yang khidmat di pagi hari hingga acara adat panggih pengantin yang meriah. Kini, tibalah saatnya sesi foto bersama dan ramah tamah dengan para tamu. Samaira dan Arkan berdiri tegak di pelaminan, menyalami satu per satu tamu yang datang dengan senyum yang tak pernah lepas dari bibir mereka. Kaki mereka mungkin sudah terasa pegal setelah berjam-jam berdiri, namun hati mereka dipenuhi oleh rasa syukur yang tak terhingga.

Di sudut ruangan, dekat dengan meja VIP, duduk dua sosok pria paruh baya yang menjadi saksi kunci sejarah panjang keluarga mereka. Arman Dirgantara dan Ammar Kirana, dua sahabat karib sejak muda yang sempat berseteru hebat, kini duduk berdampingan. Arman terlihat sehat dan gagah dengan setelan jas berwarna biru tua, sementara Ammar... kondisinya berbeda.

Penyakit yang selama ini disembunyikan oleh Ammar telah menggerogoti fisiknya secara perlahan namun pasti. Meskipun wajahnya masih menyiratkan ketampanan masa muda, tubuhnya terlihat kurus dan pucat. Ia duduk di atas sebuah kursi roda berwarna perak, didorong perlahan oleh Arman. Meskipun begitu, matanya yang tajam masih memancarkan semangat hidup yang kuat, terutama hari ini. Hari di mana putri semata wayangnya, Samaira, resmi menjadi istri dari putra sahabatnya, Arkan.

Sesaat setelah acara hiburan musik dimulai, suasana di dalam ballroom mendadak berubah hening dan haru. Bukan karena alunan musik yang melankolis, melainkan karena pemandangan yang menyentuh hati di depan pelaminan. Arman, dengan langkah yang perlahan namun pasti, mendorong kursi roda Ammar mendekati panggung pelaminan yang tinggi. Pandangan mata seluruh tamu undangan seketika tertuju pada dua sahabat yang kini terlihat begitu kompak dan saling mendukung.

Samaira dan Arkan di atas pelaminan, yang tengah sibuk menyapa tamu, menyadari perubahan suasana tersebut. Mereka menghentikan aktivitas mereka sejenak dan menatap ke arah tangga pelaminan. Jantung Samaira berdegup kencang, bukan karena gugup menghadapi tamu, melainkan karena melihat sosok ayahnya yang duduk di kursi roda. Ada campuran rasa haru, rindu, dan cemas yang tiba-tiba menyeruak di dalam dadanya.

❖ ❖ ❖

Arman dengan penuh kehati-hatian menuntun kursi roda Ammar menaiki ramp khusus yang telah disediakan pihak hotel menuju area pelaminan. Meskipun Ammar menolak untuk dibantu naik ke panggung utama, Arman bersikeras. Ia tidak ingin sahabatnya itu kelelahan. Ammar sendiri hanya tersenyum tipis menanggapi perhatian berlebihan dari Arman. Baginya, bisa hadir di pernikahan Samaira saja sudah merupakan anugerah terbesar dari Tuhan.

Di atas pelaminan, Samaira dan Arkan tidak bisa lagi menahan diri. Mereka berdua segera turun dari kursi pelaminan yang megah dan berjalan menghampiri Arman dan Ammar yang sudah sampai di atas panggung. Samaira tidak menghiraukan gaun pengantinnya yang panjang dan berat, ia melangkah dengan cepat, air mata sudah mulai menggenang di pelupuk matanya.

Ammar yang duduk di kursi roda, didorong oleh Arman, menatap kedua pengantin baru yang mendekat dengan sorot mata yang sulit diungkapkan dengan kata-kata. Di sana terpancar rasa bangga, haru, dan juga kesedihan yang mendalam. Kesedihan karena ia tahu waktunya di dunia ini mungkin sudah tidak lama lagi, namun juga kelegaan yang luar biasa karena tugas terbesarnya untuk mengantarkan putrinya ke gerbang pernikahan telah berhasil ia tunaikan.

"Ayah..." panggil Samaira lirih, suaranya bergetar hebat.

Ammar tersenyum lebar, memperlihatkan kerutan di sudut matanya yang semakin dalam. Ia merentangkan kedua tangannya yang kurus dan renta, menyambut pelukan putrinya. Arkan berdiri di samping Samaira, ikut menundukkan kepalanya memberi hormat kepada ayah mertuanya, sementara Arman berdiri di belakang kursi roda Ammar, menyaksikan momen sakral tersebut dengan mata berkaca-kaca. Persahabatan yang sempat retak kini terjalin kembali dengan lebih kuat di atas fondasi cinta anak-anak mereka.

Lihat selengkapnya