Malam telah larut ketika pesta usai dan kedua keluarga kembali ke kediaman masing-masing, meninggalkan Samaira dan Arkan berdua di rumah baru mereka yang terletak tepat di tengah-tengah rumah orang tua mereka. Suara hiruk pikuk musik organ tunggal, tawa para tamu undangan, dan ucapan selamat yang silih berganti sepanjang hari kini perlahan memudar, digantikan oleh simfoni jangkrik yang bernyanyi lirih di balik semak-semak pekarangan. Jalan setapak yang menghubungkan ketiga rumah itu kini sunyi senyap, diterangi cahaya lampu taman berwarna kuning temaram yang menimpa paving block dengan pola yang tenang.
Arkan mendorong pintu kayu jati berwarna cokelat tua di hadapan mereka, lalu menahan daun pintu tersebut agar Samaira bisa melangkah masuk terlebih dahulu. Samaira, yang masih mengenakan kebaya pengantin berwarna krem gading dengan hiasan payet yang berkilau tertimpa cahaya lampu teras, melangkah masuk dengan anggun namun kakinya terasa sedikit berat. Bukan karena beban gaunnya, melainkan karena gelombang emosi yang bergejolak di dalam dadanya. Aroma kayu baru dan cat tembok yang segar menyambut mereka begitu melampaui ambang pintu.
"Selamat datang di rumah kita, Air," bisik Arkan lembut di telinga Samaira, tepat setelah ia menutup pintu dan mengunci dunia luar dari kehidupan mereka yang baru.
Samaira menoleh, mendapati suaminya itu berdiri di ambang pintu dengan senyum tipis yang tulus namun tampak kelelahan di sudut matanya. Arkan melonggarkan ikatan dasi kupu-kupunya dengan gerakan yang agak kaku, seolah menyadari akhirnya hari panjang ini telah usai. Samaira balas tersenyum, sebuah senyuman yang memancarkan kelegaan sekaligus sedikit rasa canggung yang tak bisa ia sembunyikan sepenuhnya. Di usia mereka yang kini menginjak dua puluh empat tahun, setelah perjalanan panjang yang berliku dari bangku sekolah dasar hingga akhirnya duduk di pelaminan siang tadi, berdiri berdua di ruangan ini terasa begitu nyata dan tidak nyata secara bersamaan.
"Rasanya... aneh," aku Samaira jujur, suaranya terdengar sedikit bergetar saat ia melangkah lebih jauh ke dalam ruang tamu yang masih kosong melompong, kecuali sebuah sofa panjang beludru berwarna abu-abu dan satu meja kopi kayu jati kecil di tengahnya.
"Aneh karena akhirnya kita tidak perlu lagi sembunyi-sembunyi di gang sempit dekat rumah, atau menunggu panggilan video tengah malam untuk saling menyapa?" goda Arkan berjalan mendekat, langkah kakinya bergema pelan di lantai marmer yang dingin.
Samaira tertawa renyah, memukul pelan lengan Arkan. "Bukan itu maksudnya, Tuan Haryanto. Tapi aneh karena ini nyata. Kita di sini, di rumah kita sendiri. Di antara rumah Ayah dan Om Arman."
Arkan mengangguk, sorot matanya melembut saat menatap wanita yang kini sah menjadi istrinya itu. Letak rumah mereka adalah simbol kompromi yang manis; sebuah bangunan bergaya minimalis modern yang berdiri tepat di tengah-tengah tanah milik keluarga besar mereka—sebuah jembatan fisik yang menghubungkan dua dinasti keluarga sahabat karib yang sempat retak karena drama masa lalu anak-anak mereka, namun kini bersatu kembali dengan restu semesta.
❖ ❖ ❖
Pintu kayu utama tertutup rapat, mengunci dunia luar dan menyisakan keheningan malam yang hangat serta menenangkan. Setelah berbincang singkat di ruang tamu tentang betapa lelahnya kaki mereka akibat berdiri seharian menerima tamu, Arkan mengajak Samaira menapaki anak tangga menuju lantai dua, di mana kamar pengantin mereka berada. Langkah kaki mereka di atas karpet tebal yang melapisi tangga terasa begitu diredam, seolah menghormati kesakralan malam yang sedang mereka tapaki bersama.
Arkan membuka pintu ganda berwarna putih di ujung lorong lantai dua, lalu menyalakan sakelar lampu yang langsung menerangi sebuah ruangan yang luas dan lega. Nuansa kamar itu didominasi warna krem lembut dan aksen kayu, dengan jendela besar yang menghadap langsung ke arah halaman belakang rumah orang tua Samaira. Tempat tidur king size tampak mengundang dengan seprai putih bersih dan tumpukan bantal empuk. Di sudut ruangan, ada sebuah meja rias kayu jati dengan cermin bundar besar, di mana Samaira akan menghabiskan beberapa jam berikutnya untuk melepaskan atribut pengantinnya.
Samaira melangkah masuk ke dalam kamar dengan perasaan yang campur aduk. Rasa senang, canggung, dan haru bercampur menjadi satu di dalam dadanya. Ia berjalan menuju meja rias, lalu duduk di kursi beludru berwarna dusty rose di depannya. Pantulan dirinya di cermin menampakkan seorang wanita asing yang mengenakan sanggul Jawa penuh hiasan melati segar dan kebaya pengantin yang indah namun terasa sesak untuk waktu yang lama.
"Kamu pasti tidak sabar melepaskan semua hiasan rambut ini, kan?" tanya Arkan berdiri di belakang kursi meja rias, menatap pantulan wajah Samaira di cermin dengan tatapan lembut yang memuja.
"Jujur saja, kepalaku terasa agak pusing karena sanggul ini lumayan berat, Ark," aku Samaira tersenyum masam, mencoba menggerakkan kepalanya sedikit untuk merasakan bebannya.
"Kalau begitu, biar aku bantu. Aku tidak ingin istriku pingsan di malam pertama pernikahan kita hanya karena sanggul rambut," gurau Arkan ringan, mencoba mencairkan kecanggungan yang mulai merayap di udara kamar yang tenang.
❖ ❖ ❖
Samaira melepas hiasan melati di rambutnya sambil menatap pantulan dirinya di cermin kamar pengantin, sementara Arkan mendekat perlahan dari belakang untuk membantu membuka kancing kebaya luar istrinya.
Samaira mulai melepaskan satu per satu jepit rambut yang menahan rangkaian bunga melati dan hiasan kepala berbentuk mahkota kecil yang terbuat dari perak. Setiap helaan napasnya terasa hangat di kulit. Aroma melati yang kuat namun menenangkan perlahan menguar di udara kamar. Satu per satu bunga putih bersih itu ia letakkan di atas meja rias, menciptakan tumpukan kecil harum semerbak di hadapan cermin.