TITIK PENYESALAN

Bilsyah Ifaq
Chapter #1

Hangat yang Memudar

Sinar matahari pagi menyusup melalui celah gorden kamar Askara, menyinari deretan piala kejuaraan matematika yang kini mulai berdebu. Ibunya, Arini, masuk dengan langkah ringan sambil membawa nampan berisi susu hangat dan roti bakar cokelat kesukaan putra tunggalnya itu.

"Askara, bangun Sayang. Nanti terlambat sekolahnya," ujar Arini sambil mengusap lembut rambut hitam putranya yang masih berantakan. Ia selalu memastikan hari Askara dimulai dengan senyuman dan perhatian yang melimpah, seolah ingin membentengi anaknya dari kerasnya dunia luar.

Askara hanya mengerang pelan, menarik selimut lebih tinggi untuk menutupi wajahnya dari gangguan cahaya. "Iya, Bu, lima menit lagi," jawabnya dengan nada malas yang mulai sering muncul akhir-akhir ini, sebuah kontras tajam dari dirinya yang dulu selalu bangun sebelum alarm berbunyi.

Ayahnya, Baskara, duduk di meja makan sambil melipat koran pagi saat Askara akhirnya muncul dengan seragam yang tidak rapi. "Rapikan kerahmu itu, As. Seorang laki-laki dikenal dari caranya membawa diri," tegur Baskara dengan suara berat namun tetap tenang, mencoba menanamkan disiplin tanpa nada menghakimi.

Askara hanya memutar bola matanya secara tersembunyi, sebuah kebiasaan baru yang ia pelajari dari teman-teman nongkrongnya di belakang sekolah. Baginya, nasihat ayahnya kini terdengar seperti kaset rusak yang memutar lagu lama yang membosankan dan tidak lagi relevan dengan hidupnya.

Pikirannya sudah melayang jauh ke warung kopi di ujung jalan, tempat teman-temannya menjanjikan kebebasan tanpa aturan rumah yang mengekang. Di sana, ia merasa lebih hidup dan dihargai bukan karena nilai ujiannya, melainkan karena keberaniannya melanggar batas-batas yang ditetapkan orang tuanya.

Kasih sayang yang meluap di rumah itu perlahan mulai terasa seperti jeruji besi yang mencekik napasnya setiap hari. Tanpa disadari oleh kedua orang tuanya, benih pemberontakan dalam diri Askara telah berakar dalam, menunggu momen yang tepat untuk meledak dan menghancurkan kedamaian keluarga kecil mereka.

Aroma tumis kangkung dan ikan goreng memenuhi ruang makan yang sempit itu. Ibu meletakkan piring tambahan di depan Askara dengan gerakan yang terukur, seolah setiap denting sendok adalah nada kasih sayang yang tulus. Sinar matahari pagi menerobos masuk melalui celah ventilasi, menyinari butiran debu yang menari di atas meja kayu tua yang permukaannya mulai mengelupas.

"Askara, habiskan sayurnya," kata Ibu lembut, suaranya tenang namun mengandung ketegasan yang tak terbantahkan. Beliau duduk di hadapan Askara, memperhatikan putra tunggalnya dengan tatapan yang penuh harap. Bagi Ibu, piring yang bersih adalah tanda bahwa petualangan anaknya di luar sana akan dimulai dengan energi yang cukup dan hati yang tenang sepanjang hari.

Ayah yang duduk di ujung meja hanya tersenyum tipis sambil melipat koran pagi dengan rapi. Beliau meletakkan kacamatanya di atas meja, lalu menyesap kopi hitamnya yang masih mengepulkan uap panas. Ada ketenangan yang luar biasa dalam rutinitas itu, sebuah harmoni keluarga yang seharusnya menjadi tempat paling nyaman bagi siapa pun yang mendambakan kedamaian sejati.

Askara hanya mengangguk malas, jemarinya memainkan pinggiran piring tanpa minat sedikit pun untuk menyuap nasi. Pikirannya sudah melayang jauh ke lapangan bola di ujung gang, tempat teman-temannya pasti sudah menunggu dengan tawa keras dan taruhan kecil yang menantang. Baginya, setiap detik yang dihabiskan di meja makan ini terasa seperti pemborosan waktu yang sangat menyiksa.

Kehangatan rumah yang diciptakan kedua orang tuanya justru terasa seperti penjara bawah tanah yang pengap. Askara mendamba kebebasan tanpa batas, tempat di mana tidak ada aturan tentang sayuran, jam pulang, atau nasihat membosankan tentang masa depan. Ia merasa hidupnya baru dimulai saat ia melangkahkan kaki keluar dari pintu depan dan meninggalkan aroma masakan Ibu di belakangnya.

"Nanti pulangnya jangan terlalu sore, Ra. Ayah mau bicara soal pendaftaran kursusmu," ucap Ayah sambil mengetuk-ngetukkan jarinya ke permukaan meja. Askara hanya berdehem pendek, sebuah kebiasaan yang mulai sering ia lakukan untuk menghindari percakapan yang lebih panjang. Ia selalu merasa bahwa rencana-rencana besar Ayah hanya akan semakin mengekang langkah kakinya yang liar.

Ketegangan mulai merayap di antara denting alat makan ketika Askara tiba-tiba mendorong kursinya ke belakang dengan suara derit yang tajam. Ia bangkit berdiri tanpa menyelesaikan makannya, membuat Ibu tersentak kecil dan meletakkan sendoknya kembali ke piring. Ada kilat ketidaksabaran di mata Askara yang membuat suasana hangat di ruangan itu mendadak mendingin seketika.

"Aku pergi dulu, sudah telat," ujar Askara singkat tanpa menoleh sedikit pun ke arah kedua orang tuanya yang terpaku. Ia menyambar tas punggungnya yang tergeletak di kursi sebelah, lalu melangkah lebar menuju pintu keluar. Langkah kakinya yang berat berdentum di atas lantai kayu, menciptakan irama pemberontakan yang sudah lama terpendam di dalam dadanya yang bergejolak.

Ibu hanya bisa menghela napas panjang, menatap sisa sayuran di piring Askara yang hampir tidak tersentuh sama sekali. Beliau merasakan ada sesuatu yang salah, sebuah rahasia yang disimpan rapat oleh putranya di balik sikap diam yang dingin itu. Rasa curiga mulai tumbuh di benak Ibu, membayangkan apa yang sebenarnya dilakukan Askara saat ia mengaku sedang bermain bola bersama teman-temannya.

Di ambang pintu, Askara sempat berhenti sejenak, merasakan tarikan aneh di hatinya saat melihat bayangan Ayah yang menunduk lesu. Namun, ego masa mudanya jauh lebih kuat daripada rasa bersalah yang mencoba muncul ke permukaan secara perlahan. Ia menutup pintu dengan bantingan keras, memutus keterikatan emosional yang seharusnya ia jaga dengan segenap jiwa dan raganya.

Askara tidak menyadari bahwa di balik saku jaketnya, terselip sebuah korek api dan selembar kertas yang berisi rencana nekat untuk malam ini. Rahasia kecil itu terasa membakar kulitnya, sebuah beban yang ia bawa dengan bangga tanpa tahu bahwa badai besar akan segera datang. Ia tetap melangkah menjauh, meninggalkan rumah yang suatu saat nanti akan ia cari kembali di dalam isak tangis yang sia-sia.

Engsel jendela kamar Askara berderit pelan saat ia menarik tubuhnya melewati kusen kayu yang sudah mulai lapuk. Ia mendarat di atas rumput basah tanpa suara, lalu segera merapatkan jaket denimnya untuk menghalau angin malam yang menusuk kulit. Di dalam rumah, ia masih bisa mendengar sayup-sayup suara televisi yang ditonton Ayah, sebuah rutinitas membosankan yang selalu ingin ia hindari setiap harinya.

Lihat selengkapnya