Askara memutar pemantik apinya berulang kali, sebuah kebiasaan yang selalu ia lakukan saat rasa cemas mulai merayap di tengkuknya. Di sudut gang yang lembap itu, ia menghitung lembaran uang hasil taruhan balap liar yang tidak seberapa, sementara bayangan masa depannya kian memudar di balik kepulan asap rokok. Ia mengabaikan getar ponsel di saku celananya yang mungkin berisi pesan penuh kekhawatiran dari ibunya.
"Cuma segini? Lo bercanda ya, As?" suara serak itu datang dari arah kegelapan, membuat
Askara mendongak dan mendapati tatapan tajam dari preman pasar yang biasa dipanggil Bang Jago. Askara hanya mendengus pelan, sebuah respon khas yang menunjukkan keangkuhannya meskipun jantungnya berdegup kencang. Ia tidak suka didikte, apalagi oleh orang yang menurutnya hanya berani menggertak di kandang sendiri.
"Duitnya emang cuma ada segitu, Bang. Kalau mau lebih, ya tunggu minggu depan," jawab Askara dengan nada bicara yang sengaja ia buat datar dan sedikit menantang. Ia tidak menyadari bahwa keputusannya untuk menunda pembayaran utang adalah sebuah kesalahan fatal yang akan mengubah hidupnya selamanya. Keberanian yang ia pamerkan sebenarnya hanyalah topeng untuk menutupi rasa takutnya yang kian membesar setiap harinya.
Bang Jago melangkah maju, membiarkan cahaya lampu jalan yang redup memperlihatkan bekas luka di pipinya yang tampak mengerikan. "Gue nggak suka nunggu, apalagi sama bocah ingusan yang baru belajar nakal kayak lo," bisiknya tepat di depan wajah Askara yang kini mulai berkeringat dingin. Atmosfer di gang sempit itu mendadak menjadi sangat berat, seolah udara enggan masuk ke dalam paru-paru Askara yang mulai sesak.
Tanpa banyak bicara, Bang Jago memberikan isyarat kepada dua anak buahnya yang muncul dari balik tumpukan kardus bekas di ujung jalan. Askara menyadari bahwa kali ini ia tidak bisa sekadar melarikan diri dengan motor tua kesayangannya seperti biasanya. Musuh yang ia ciptakan bukan lagi sekadar lawan tawuran sekolah, melainkan orang-orang yang tidak segan menggunakan kekerasan fisik untuk menyelesaikan setiap persoalan.
Di tengah kepungan itu, Askara sempat berpikir untuk meminta maaf, namun ego masa mudanya yang tinggi kembali membungkam mulutnya rapat-rapat. Ia memilih untuk mengepalkan tangan, bersiap menghadapi konsekuensi dari setiap tindakan bodoh yang telah ia tumpuk selama beberapa bulan terakhir ini. Ia merasa mampu mengendalikan segalanya, tanpa tahu bahwa api kebencian yang ia sulut telah mulai membakar jembatan menuju keselamatannya sendiri.
Malam itu, di antara bau sampah dan genangan air hujan yang kotor, Askara belajar bahwa setiap pilihan memiliki harga yang harus dibayar mahal. Ketika pukulan pertama mendarat di perutnya, ia hanya bisa terkapar sambil menatap langit malam yang gelap tanpa bintang sama sekali. Ia tidak pernah menduga bahwa rasa sakit fisik ini hanyalah awal dari penderitaan panjang yang akan merenggut kebahagiaan orang-orang yang paling ia sayangi.
Knalpot motor yang menderu keras di ujung aspal hitam itu seakan merobek keheningan malam yang lembap. Askara meremas stang motornya kuat-kuat, merasakan getaran mesin yang merambat hingga ke pundaknya yang tegang. Di bawah sinar lampu merkuri yang berkedip tidak stabil, bayangan tubuhnya tampak memanjang dan gemetar di atas tanah berkerikil.
"Gas aja terus, Kar, jangan sampai nyali lu ciut cuma gara-gara lampu jalan mati," celetuk seorang pria bertato di lehernya sambil meludah ke samping. Askara tidak menyahut, ia hanya memperbaiki posisi duduknya dan terus memutar-mutar cincin perak di jari manis kiri, sebuah kebiasaan kecil yang selalu ia lakukan setiap kali merasa terpojok oleh keadaan yang tidak pasti.
Udara malam itu terasa berat oleh aroma bensin dan debu jalanan yang menyesakkan dada. Di sisi lain lintasan, sekelompok pemuda dengan jaket kulit hitam tampak tertawa meremehkan, seolah hasil balapan ini sudah tertulis di atas kertas. Askara tahu betul bahwa kekalahan malam ini berarti ia harus menyerahkan lebih dari sekadar uang taruhan yang sudah menipis di dompetnya.
"Lu tahu kan aturannya? Kalau kalah lagi, urusannya bukan cuma soal duit atau motor butut ini," ancam preman setempat yang bertindak sebagai wasit, suaranya parau dan dingin. Ia melangkah mendekat, memberikan tekanan fisik yang membuat Askara harus menelan ludah berkali-kali demi membasahi tenggorokannya yang terasa sangat kering dan kaku.
Askara memaksakan sebuah tawa kecil yang terdengar hambar, mencoba menutupi rasa takut yang mulai menjalar ke ujung jari kakinya. "Santai saja, Bang, mesin ini belum pernah mengecewakan kalau cuma buat balapan kelas teri begini," sahutnya dengan nada bicara yang sengaja dibuat santai, meski keringat dingin mulai membasahi dahi dan punggung jaket denimnya.
Keputusannya untuk mempertaruhkan sisa uang kuliah semester ini adalah sebuah langkah nekat yang berulang kali ia sesali dalam diam. Namun, sifat keras kepalanya selalu menang, mendorongnya untuk terus menggali lubang yang lebih dalam demi menutupi kesalahan-kesalahan kecil di masa lalu yang kini telah membengkak menjadi ancaman nyata bagi keselamatan nyawanya.
Tiba-tiba, suara sirine polisi terdengar sayup-sayup dari kejauhan, membuat suasana di garis start berubah menjadi kepanikan yang teredam. Beberapa orang mulai bersiap melarikan diri, namun sang preman justru mencengkeram kerah jaket Askara dengan sangat kuat. "Jangan coba-coba kabur, atau rumah orang tuamu yang bakal jadi jaminan utang-utang busuk ini!"
Askara tertegun, jantungnya seakan berhenti berdetak saat mendengar ancaman yang melibatkan kedua orang tuanya yang tidak tahu apa-apa di rumah. Fokusnya pecah berkeping-keping, dan saat itulah ia menyadari bahwa dunia imajinasi tentang kemenangan yang ia bangun selama ini hanyalah fatamorgana yang siap menghancurkan realitas hidupnya yang paling rapuh.
Ia mencoba menarik nafas panjang, namun oksigen seolah hilang dari sekitarnya, menyisakan sesak yang luar biasa di dalam rongga dadanya yang mulai bergemuruh. Dengan tangan yang masih gemetar hebat, ia kembali memutar cincin di jarinya, menyadari bahwa setiap putaran itu adalah detik-detik menuju kehancuran yang ia ciptakan sendiri tanpa pernah bisa ia hentikan.
Malam semakin larut, dan ketika lampu jalan di atasnya benar-benar padam total, Askara hanya bisa menatap kegelapan di depannya dengan tatapan kosong yang penuh dengan rasa sesal. Tidak ada lagi jalan untuk berbalik, karena di balik bayang-bayang itu, ia mulai melihat wajah kecewa ayahnya yang muncul sebagai hantu dalam benaknya yang mulai tidak stabil.
"Keluar dari rumah ini kalau kamu cuma mau merusak nama baik Ayah!" Suara Ayah menggelegar, menggetarkan kaca jendela ruang tamu yang sudah buram oleh debu. Urat-urat di lehernya menegang, memerah seperti besi panas yang baru saja ditempa. Ia berdiri kaku di ambang pintu kamar Askara, menunjuk ke arah jalanan luar dengan jari yang gemetar karena amarah yang sudah mencapai puncaknya.
Askara tidak menjawab dengan kata-kata, melainkan dengan tawa sinis yang terdengar seperti parutan logam. Ia terus menyambar pakaian dari lemari, melipatnya dengan asal dan menjejalkannya ke dalam tas ransel hitam yang ritsletingnya sudah setengah rusak. Baginya, setiap bentakan Ayah hanyalah musik latar yang membosankan dari sebuah drama keluarga yang sudah terlalu lama ia tonton tanpa minat.
"Askara, tolong, jangan begini. Bicara baik-baik dengan Ayahmu," isak Ibu yang sedari tadi berdiri di sudut ruangan, meremas ujung daster batiknya yang sudah luntur. Matanya sembap, menatap putra tunggalnya dengan pandangan memohon yang hancur. Namun, Askara seolah tuli, ia justru menarik tasnya dengan gerakan kasar hingga beberapa buku di atas meja belajar terjatuh ke lantai kayu dengan suara berdebum.
Langkah Askara tertahan sejenak saat Ibu nekat mendekat dan mencengkeram lengan jaket denimnya yang berbau asap rokok. Pegangan tangan Ibu yang kecil dan rapuh itu terasa seperti beban yang menghambat kebebasannya. Askara menarik napas panjang, lalu dengan satu sentakan bahu yang dingin, ia menepis tangan itu. Tenaga yang berlebihan membuat Ibu kehilangan keseimbangan dan jatuh terduduk di atas lantai yang dingin.
"Jangan sentuh aku," gumam Askara pelan, nyaris seperti desisan, tanpa sedikit pun rasa bersalah yang terpancar dari matanya yang gelap. Ia melangkahi kaki Ibu yang bersimpuh tanpa rasa iba, seolah wanita yang melahirkannya itu hanyalah rintangan fisik di jalan keluarnya. Ayah meraung memanggil namanya sekali lagi, sebuah teriakan yang penuh keputusasaan, namun Askara terus berjalan menuju pintu depan.