TITIK PENYESALAN

Bilsyah Ifaq
Chapter #3

Malam Terkutuk

Asap hitam pekat masih terasa menyesakkan paru-paru Askara, meski kejadian itu sudah berlalu berbulan-bulan lamanya. Setiap kali ia memejamkan mata, lidah api yang menjilat langit-langit rumah kayu mereka seolah menari kembali di pelupuk matanya. Suara kayu yang berderak patah dan jeritan tertahan dari dalam kamar orang tuanya menjadi melodi pengantar tidur yang menyiksa setiap malam tanpa henti.

Ia berdiri mematung di depan sisa-sisa fondasi rumah yang kini hanya berupa arang dan abu yang mendingin. Jemarinya yang kasar terus memainkan korek api di saku celana, sebuah kebiasaan kecil yang muncul sejak ia kehilangan segalanya dalam semalam. "Harusnya aku tidak pergi malam itu," bisiknya pelan, suaranya serak tertelan angin sore yang membawa aroma tanah basah dan sisa pembakaran.

Penyesalan itu datang terlambat, seperti surat yang dikirim ke alamat yang sudah lama kosong dan ditinggalkan penghuninya. Dulu, Askara sering menganggap teguran ayahnya sebagai gangguan bising yang harus dihindari dengan cara membanting pintu keras-keras. Ia lebih memilih hura-hura bersama teman-teman yang kini menghilang satu per satu saat ia jatuh terpuruk ke titik paling rendah dalam hidupnya.

"Askara, makanannya sudah dingin," suara ibunya seolah terngiang kembali di telinga, lembut namun penuh kekhawatiran yang tulus. Kini, ia rela menukar apa pun, bahkan nyawanya sendiri, hanya untuk mendengar omelan remeh tentang kamarnya yang berantakan. Namun, kenyataan hanya menyisakan sunyi yang memekakkan telinga di tengah reruntuhan bangunan yang dahulu ia sebut sebagai tempat pulang paling nyaman.

Laporan polisi menyatakan ada unsur kesengajaan dalam kebakaran tersebut, sebuah fakta yang menghujam jantungnya lebih dalam daripada rasa bersalah itu sendiri. Musuh-musuh yang ia ciptakan karena keangkuhan masa mudanya telah mengambil harta paling berharga yang ia miliki sebagai bentuk balas dendam. Ia sadar bahwa api itu tidak hanya membakar kayu dan beton, tetapi juga menghanguskan masa depan dan harapan yang pernah ada.

Langkah kakinya terasa berat saat ia mulai meninggalkan area bekas rumahnya, menyeret bayang-bayang kegagalan yang tak akan pernah bisa ia hapus. Setiap sudut kota kini terasa seperti pengingat akan kebodohannya yang tak termaafkan dan kesia-siaan masa muda yang ia hamburkan. Askara tahu bahwa mulai hari ini, ia akan hidup sebagai mayat berjalan yang terus memikul beban dosa di atas pundaknya yang mulai rapuh.

Di bawah lampu jalan yang mulai berkedip, ia menatap telapak tangannya yang gemetar karena amarah dan kesedihan yang bercampur menjadi satu. Tidak ada lagi kesempatan untuk meminta maaf atau sekadar mencium tangan kedua orang tuanya sebelum mereka berangkat tidur. Dunia Askara telah runtuh sepenuhnya, menyisakan ruang gelap di hatinya yang kini hanya berisi gema penyesalan yang tak akan pernah menemukan jalan keluar.

Langkah kaki Askara menghantam aspal dengan irama yang kacau, menciptakan suara debum yang beradu dengan sunyinya jalanan pemukiman. Paru-parunya terasa panas, seolah-olah udara yang ia hirup sudah terkontaminasi oleh sisa pembakaran dari kejauhan. Ia tidak peduli dengan rasa sakit di kakinya yang mulai kaku, karena pikirannya hanya tertuju pada satu titik koordinat yang kini tampak seperti neraka kecil di ujung cakrawala.

Langit malam yang seharusnya hitam pekat kini berubah menjadi jingga kemerahan yang mengerikan, memantulkan cahaya dari kobaran yang kian membesar. Cahaya itu tidak memberikan kehangatan, melainkan membawa firasat buruk yang membuat bulu kuduk Askara berdiri tegak. Ia terus memacu kecepatannya, melewati deretan pohon peneduh jalan yang tampak seperti bayangan hitam raksasa yang sedang mengawasinya dalam diam.

Bau bensin yang tajam tiba-tiba menyergap indra penciumannya, menusuk hingga ke pangkal tenggorokan dan memicu rasa mual yang hebat. Aroma kimiawi itu bercampur dengan bau kayu terbakar dan kain hangus yang terbang bersama angin malam yang kering. Askara menutup hidungnya dengan punggung tangan, namun bau kematian itu seolah sudah meresap ke dalam pori-pori kulitnya, menandakan bahwa sesuatu yang sangat salah sedang terjadi.

Saat ia berbelok di persimpangan terakhir, pemandangan di depannya membuat jantungnya seakan berhenti berdetak sedetik. Tiga buah motor sport melesat pergi dengan kecepatan tinggi, memecah kesunyian malam dengan raungan knalpot yang memekakkan telinga. Para pengendara itu mengenakan jaket gelap tanpa identitas, meninggalkan jejak debu dan aroma karet ban yang terbakar di atas aspal yang mulai memanas karena radiasi api.

Askara terpaku menatap rumahnya yang kini sudah tidak lagi menyerupai tempat tinggal, melainkan tumpukan kayu dan beton yang sedang dilalap api besar. Lidah api menjilat-jilat ke arah atap, merambat dengan cepat melalui gorden jendela yang terbuka lebar seolah sengaja memancing si jago merah masuk. Suara retakan kayu yang patah terdengar seperti rentetan tembakan, memecah keheningan malam yang kini dipenuhi oleh jeritan samar dari kejauhan.

Ia mencoba mendekat, namun hawa panas yang luar biasa mendorongnya mundur secara paksa hingga ia hampir terjatuh. Matanya yang mulai perih karena asap mencari-cari tanda keberadaan kedua orang tuanya di antara kerumunan tetangga yang mulai berdatangan dengan ember di tangan. Namun, pintu depan rumahnya sudah tertutup oleh reruntuhan plafon yang membara, menutup satu-satunya akses keluar bagi siapa pun yang masih berada di dalam sana.

Seharusnya aku tidak pergi malam ini, seharusnya aku mendengarkan ucapan Ayah untuk tetap di rumah dan menjaga pintu belakang.

Penyesalan mulai merambat di hatinya, lebih cepat dan lebih menyakitkan daripada api yang sedang meruntuhkan bangunan di depannya itu. Askara berteriak memanggil nama ibunya hingga suaranya serak, namun hanya suara gemuruh api dan ledakan kecil dari dapur yang menyahut panggilannya. Ia menyadari bahwa motor-motor yang pergi tadi bukanlah sekadar orang lewat, melainkan pembawa pesan maut yang telah ia undang sendiri lewat keegoisannya.

Tangan Askara gemetar hebat saat ia mencoba meraih ponsel di sakunya, namun benda itu jatuh ke tanah dan layarnya retak seribu. Ia berlutut di atas aspal yang kasar, merasakan butiran keringat dingin bercampur dengan abu yang turun dari langit seperti salju hitam yang terkutuk. Dunia di sekitarnya perlahan memudar, menyisakan bayangan rumah yang runtuh dan kenyataan pahit bahwa ia mungkin telah kehilangan segalanya dalam satu malam yang singkat.

Seorang pria paruh baya menarik bahu Askara, mencoba menjauhkannya dari dinding yang mulai miring dan siap roboh kapan saja. Askara meronta, ingin menerjang masuk ke dalam bara yang menyala-nyala itu demi menebus kesalahan yang belum sempat ia perbaiki. Namun, tenaga pria itu jauh lebih kuat, menahannya di batas aman sementara api di depannya semakin tinggi, seolah sedang menertawakan ketidakberdayaan pemuda yang baru saja kehilangan dunianya.

Lihat selengkapnya