TITIK PENYESALAN

Bilsyah Ifaq
Chapter #4

Kehancuran Jiwa

Askara duduk mematung di sudut kamar yang lembap, jemarinya terus memilin ujung kain seprai yang sudah mulai koyak. Matanya yang cekung menatap kosong ke arah dinding, seolah-olah di sana terpampang layar lebar yang memutar ulang rekaman api yang melahap rumahnya. Aroma sangit kayu terbakar seakan tidak pernah benar-benar hilang dari indra penciumannya, terus menghantui setiap tarikan napasnya yang berat.

"Askara, makan dulu. Ibu sudah buatkan sayur lodeh kesukaanmu," suara lembut itu tiba-tiba terdengar dari balik pintu kayu kamarnya yang sedikit terbuka. Askara menoleh cepat, kilatan harapan muncul di matanya yang redup, namun detik berikutnya bahunya kembali merosot lemas. Dia tahu betul bahwa suara itu hanyalah gema dari memori yang ia kunci rapat-rapat di dalam kepalanya yang mulai kacau.

Kewarasannya kini berada di ujung tanduk, tergerus oleh rasa bersalah yang lebih tajam daripada belati mana pun yang pernah ia pegang. Setiap kali ia mencoba memejamkan mata, bayangan wajah ayahnya yang penuh kekecewaan muncul di balik kobaran api yang membumbung tinggi ke langit malam. Ia sering kali berteriak di tengah malam, memohon ampun pada kegelapan yang sama sekali tidak memberikan jawaban atau penebusan dosa.

Ia mulai sering bicara sendiri, meyakinkan bayangan di cermin bahwa semua ini hanyalah mimpi buruk yang akan segera berakhir saat fajar tiba. Askara menciptakan dunianya sendiri, sebuah ruang di mana ia masih mengenakan seragam SMA dan bisa mencium tangan ibunya sebelum berangkat ke sekolah. Namun, setiap kali ia menyentuh dinding kamar rumah sakit yang dingin, ilusi itu hancur berkeping-keping layaknya kaca yang dipukul martil.

"Aku anak baik sekarang, Pak. Lihat, aku tidak pernah lagi keluyuran malam," gumam Askara sambil tersenyum tipis pada sudut ruangan yang kosong melompong. Ia mulai merapikan buku-buku khayalan di atas meja kayu yang rapuh, seolah-olah sedang mempersiapkan diri untuk ujian nasional yang sudah lewat bertahun-tahun lalu. Baginya, kenyataan adalah musuh yang harus ia hindari dengan segala cara demi menjaga kewarasannya.

Depresi itu bukan lagi sekadar kesedihan, melainkan parasit yang telah mengambil alih kendali atas pusat saraf dan cara pandangnya terhadap dunia luar. Askara kehilangan kemampuan untuk membedakan mana bau obat-obatan penenang dan mana bau parfum melati yang biasa dipakai ibunya saat pergi ke pengajian. Baginya, garis antara masa lalu yang hancur dan masa depan yang mustahil kini telah lebur menjadi satu kabut tebal yang menyesakkan.

Seorang perawat masuk dengan langkah hati-hati, membawa nampan berisi obat-obatan berdosis tinggi untuk meredam kegelisahan pasien di depannya itu. Askara hanya menatap perawat itu dengan pandangan bingung, seolah-olah wanita berseragam putih itu adalah penyusup di dalam rumahnya yang damai. Ia tidak menyadari bahwa jeruji besi di jendela kamarnya adalah bukti nyata bahwa ia telah kalah dalam pertarungan melawan pikirannya sendiri.

Askara memutar-mutar kunci motor karatan di jari telunjuknya, sebuah kebiasaan lama yang selalu muncul setiap kali dadanya terasa sesak oleh sunyi yang mencekam. Di dalam kontrakan sempit yang berbau apek ini, ia kembali duduk bersila di atas kasur tipis yang sudah kehilangan empuknya sejak lama. Cahaya lampu neon yang berkedip-kedip di langit-langit seolah mengejek kekacauan hidupnya yang kini hanya berisi tumpukan kardus mi instan dan botol-botol minuman keras yang isinya tinggal tetesan terakhir.

"Askara, ayo makan dulu, Nak. Ibu sudah buatkan sambal kesukaanmu," suara lembut itu tiba-tiba merayap masuk ke telinganya, terdengar begitu nyata di tengah heningnya malam yang dingin. Askara tersentak, punggungnya menegak kaku sambil matanya liar menyisir setiap sudut ruangan yang remang-remang untuk mencari sosok wanita yang sangat ia rindukan itu. Ia ingin sekali menjawab, namun tenggorokannya terasa tersumbat oleh gumpalan penyesalan yang tak kunjung bisa ia telan habis sejak kejadian kebakaran hebat itu.

Ia segera bangkit dan menghampiri meja kayu kecil di pojok ruangan, berharap menemukan piring berisi nasi hangat dan lauk pauk yang biasanya disiapkan oleh ibunya dengan penuh kasih sayang. Namun, kenyataan pahit justru menghantamnya saat jemarinya hanya menyentuh debu tebal dan permukaan meja yang mulai lapuk dimakan usia. Tidak ada makanan, tidak ada aroma masakan ibu, yang ada hanyalah bau logam berkarat dan sisa-sisa kehancuran masa mudanya yang ia sia-siakan begitu saja.

"Maafkan aku, Bu. Aku janji tidak akan pulang larut lagi malam ini," bisik Askara dengan suara serak, bicaranya mulai melantur seolah-olah bayangan hitam di sudut ruangan adalah sosok ibunya. Ia seringkali tertawa sendiri lalu tiba-tiba menangis tersedu-sedu sambil memukuli dadanya yang terasa sangat nyeri akibat beban rasa bersalah yang tak tertanggungkan. Baginya, bicara dengan kekosongan jauh lebih baik daripada harus menghadapi fakta bahwa orang tuanya telah tiada karena ulahnya sendiri.

Setiap kali ia mencoba memejamkan mata, memori tentang api yang melahap rumah mereka kembali hadir, membakar setiap jengkal ketenangannya hingga ia merasa gila dalam kesendirian. Askara tidak lagi peduli pada dunia luar, ia lebih memilih tenggelam dalam halusinasinya yang menyakitkan namun memberinya sedikit ruang untuk kembali merasa dicintai. Di balik jeruji imajinasinya, ia masih menjadi anak sekolah yang nakal, bukan seorang pria hancur yang sedang menunggu sisa-sisa nyawanya habis dimakan waktu.

Malam itu, saat ia kembali mendengar suara pintu diketuk perlahan, Askara tersenyum lebar dan berlari kecil untuk membukanya dengan harapan besar bahwa ini adalah kesempatan kedua yang nyata. Namun, ketika pintu itu terbuka, ia hanya melihat lorong panjang rumah sakit jiwa yang dingin dengan para perawat yang menatapnya penuh iba dari kejauhan. Sadarlah ia bahwa kehangatan keluarga yang ia rasakan hanyalah kepingan memori yang sengaja ia pelihara untuk menutupi kenyataan bahwa ia kini benar-benar sendirian di dunia ini.

Lantai semen yang dingin menusuk telapak kaki Askara saat ia berdiri di tengah riuhnya pasar subuh. Bau amis ikan dan sayuran busuk menyengat hidungnya, namun matanya hanya terpaku pada satu titik di ujung lorong sempit. Di sana, seorang pria paruh baya dengan kemeja batik kusam yang sangat ia kenali sedang berdiri tenang sambil memegang selembar koran pagi.

Lihat selengkapnya