Askara mengerjapkan mata saat cahaya matahari menyelinap malu-malu dari sela gorden biru yang sudah bertahun-tahun tidak ia lihat. Ia meraba permukaan kasurnya yang terasa empuk dan tidak berbau apek, sangat berbeda dengan alas tidur tipis di kontrakan sempitnya yang terakhir. Tangannya yang gemetar menyentuh tumpukan buku pelajaran di atas meja kayu yang masih kokoh dan bersih dari debu tebal.
Ia bangkit perlahan sambil terus memilin ujung kaus oblongnya, sebuah kebiasaan lama yang muncul setiap kali ia merasa bingung atau terdesak. "Ini tidak mungkin," bisiknya dengan suara serak yang terdengar lebih muda, tanpa sisa batuk kronis akibat rokok murahan yang biasanya menyiksa tenggorokannya. Ia menatap cermin di sudut kamar dan menemukan sosok remaja dengan rambut rapi sedang membalas tatapannya.
Dari arah dapur, tercium aroma nasi goreng margarin yang sangat familiar, aroma yang selama ini hanya muncul dalam mimpi buruknya tentang penyesalan. Suara denting sudip yang beradu dengan wajan terdengar nyata, diikuti oleh senandung kecil ibunya yang seharusnya sudah tiada dalam tragedi kebakaran hebat itu. Askara menelan ludah dengan susah payah, merasa dadanya sesak oleh harapan yang terasa begitu menyakitkan.
"Askara, cepat mandi! Nanti kamu telat sekolah, Nak," teriak ibunya dari lantai bawah dengan nada bicara yang tegas namun penuh perhatian. Askara tertegun sejenak, lalu dengan gerakan refleks ia segera menyambar handuk yang tergantung di balik pintu kayu kamarnya yang masih utuh. Ia memutuskan untuk tidak mempertanyakan logika ini dan hanya ingin segera memeluk wanita yang paling ia kecewakan itu.
Setiap langkahnya menuruni tangga terasa seperti menginjak awan, ada rasa takut jika lantai ini tiba-tiba runtuh dan mengembalikannya ke realitas yang kelam. Ia melihat ayahnya sedang duduk santai sambil membaca koran pagi, lengkap dengan kacamata baca yang bertengger di ujung hidung. Ayahnya mendongak, menatapnya tajam namun hangat, sebuah tatapan yang sudah lama hilang ditelan kebencian masa lalu.
"Kenapa bengong begitu? Ayo duduk, ibu sudah buatkan sarapan kesukaanmu sebelum berangkat," ujar ayahnya sambil melipat koran dengan gerakan tangan yang sangat presisi. Askara hanya bisa mengangguk pelan, mencoba menahan air mata yang mendesak keluar agar tidak merusak momen yang terasa sangat sakral ini. Ia menarik kursi kayu itu perlahan, duduk dengan sikap tegak yang sangat tidak biasa bagi dirinya yang dulu malas.
Ia menyuap nasi goreng itu ke dalam mulutnya, merasakan kehangatan yang menjalar ke seluruh tubuh seolah-olah ini adalah obat bagi jiwanya yang hancur. Dalam hati, Askara bersumpah tidak akan pernah menyentuh pergaulan bebas atau obat-obatan yang dulu menghancurkan kehormatan keluarganya ini. Ia akan menjaga rumah ini, menjaga orang tuanya, dan memastikan api itu tidak akan pernah menyentuh dinding-dinding penuh kenangan ini lagi.
Cahaya matahari pagi menyusup melalui celah gorden usang, menciptakan garis-garis terang yang menari di atas lantai ubin kamar yang sejuk. Askara mengerjapkan matanya berulang kali, mencoba menghalau rasa perih yang biasanya muncul akibat asap tebal yang menghantui tidurnya. Ia tertegun saat melihat poster band rock tahun sembilan puluhan masih tertempel rapi di dinding kayu, tanpa ada bekas jilatan api sedikit pun di sudut-sudutnya.
Tangannya yang gemetar perlahan meraba permukaan kasur yang empuk dan terbungkus sprei bersih beraroma detergen bunga matahari yang sangat ia kenali. "Ibu?" bisiknya pelan, suaranya terdengar jauh lebih muda dan jernih, tanpa serak akibat rokok dan teriakan frustrasi selama bertahun-tahun di jalanan. Ia menarik napas dalam-dalam, merasakan udara segar memenuhi paru-parunya, sebuah kemewahan yang seharusnya sudah hilang ditelan abu kebakaran hebat malam itu.
Askara bangkit berdiri dan segera memutar-mutar kancing kemeja seragamnya yang masih kaku, sebuah kebiasaan kecil yang selalu ia lakukan setiap kali merasa cemas atau tidak percaya pada keadaan. Ia berjalan menuju cermin retak di pojok ruangan, melihat bayangan seorang remaja dengan wajah tanpa luka parut dan mata yang belum dirusak oleh keputusasaan. "Ini tidak mungkin, aku seharusnya sudah mati bersama mereka," gumamnya sambil terus memutar kancingnya hingga nyaris terlepas.
Langkah kakinya yang ragu membawanya menuju pintu kamar yang sedikit terbuka, memperlihatkan suasana rumah yang hangat dan penuh kehidupan, bukan puing-puing hitam yang selama ini ia tangisi. Dari arah dapur, terdengar denting sendok beradu dengan piring porselen dan suara tawa lembut ibunya yang sedang menyiapkan sarapan seperti biasanya. Askara terdiam di ambang pintu, merasa takut bahwa satu langkah saja akan menghancurkan ilusi indah yang terasa begitu nyata di depan matanya ini.
Ia memutuskan untuk tidak bertanya dan hanya mengikuti alur pagi itu, seolah-olah ia memang pantas mendapatkan kesempatan untuk memperbaiki segala kekacauan yang pernah ia perbuat. Namun, saat ia melihat kalender di dinding yang menunjukkan tahun saat ia masih duduk di bangku SMA, dadanya kembali terasa sesak oleh beban rahasia masa depan. Askara bersumpah dalam hati bahwa kali ini ia akan menjadi anak yang membanggakan, meski ia belum menyadari bahwa kenyataan ini hanyalah labirin yang dibangun oleh pikirannya sendiri.
Cahaya matahari pagi menyusup malu-malu melalui celah ventilasi, menyentuh permukaan ubin yang terasa dingin di bawah telapak kaki. Askara tersentak dari tidurnya, napasnya memburu seolah baru saja berlari berkilo-kilometer jauhnya. Ia meraba dadanya yang berdegup kencang, mencari sisa rasa sesak dari asap hitam yang baru saja menghimpit paru-parunya dalam mimpi.
Suara denting sudip yang beradu dengan wajan terdengar dari arah dapur, diiringi aroma nasi goreng mentega yang sangat akrab di indra penciumannya. Askara mematung, matanya nanar menatap kalender usang di dinding yang menunjukkan angka tahun yang seharusnya sudah lama berlalu. Ia menarik napas panjang, mencoba meyakinkan diri bahwa ini bukan sekadar ilusi yang mempermainkan akal sehatnya.
"Askara, bangun! Nanti kamu terlambat sekolah lagi, Nak!" Suara itu melengking lembut, memecah keheningan pagi yang biasanya hanya diisi oleh suara bising kendaraan di luar sana. Askara tersentak, jantungnya seakan berhenti berdetak sesaat mendengar nada bicara yang sudah bertahun-tahun hanya bisa ia putar di dalam memori kepalanya yang mulai rusak.
Tanpa alas kaki, ia berlari keluar kamar dengan langkah serampangan, hampir menabrak daun pintu yang catnya sudah mulai mengelupas di beberapa bagian. Di depan kompor, seorang wanita paruh baya sedang sibuk menata piring dengan celemek bunga-bunga yang warnanya sudah memudar. Askara berhenti tepat di ambang pintu dapur, membiarkan matanya merekam setiap detail punggung yang masih tegap itu.