TITIK PENYESALAN

Bilsyah Ifaq
Chapter #6

Memperbaiki Takdir

Askara merapikan kerah seragam SMA-nya yang kaku di depan cermin, memastikan tidak ada satu pun lipatan yang mengganggu pemandangan. Ia menyisir rambutnya dengan rapi, sebuah kebiasaan baru yang menggantikan gaya acak-acakan masa lalunya yang kelam. Di meja belajar, tumpukan buku kalkulus dan catatan sejarah tertata rapi, siap untuk dibawa ke sekolah demi mempertahankan peringkat pertama di kelas.

"Askara, sarapan dulu, Nak. Ibu sudah buatkan nasi goreng kesukaanmu," panggil ibunya dari arah dapur dengan suara yang lembut dan penuh kehangatan. Askara menarik napas panjang, menikmati aroma bumbu yang menelusup ke kamarnya, sebuah kemewahan yang dulu sering ia abaikan demi nongkrong di persimpangan jalan bersama teman-teman berandalnya.

Ia melangkah turun dengan langkah yang mantap, lalu mencium kening ibunya sebelum duduk di kursi kayu ruang makan yang terasa sangat kokoh. Ayahnya menurunkan koran pagi, menatap Askara dengan binar kebanggaan yang belum pernah Askara lihat di kehidupan sebelumnya yang hancur. "Nilai fisikamu kemarin luar biasa, Ayah bangga kamu bisa berubah jadi sedisiplin ini," ujar sang ayah sambil menepuk bahunya.

"Aku cuma mau melakukan yang terbaik buat Ayah dan Ibu, itu saja," jawab Askara singkat sambil menyuap nasi gorengnya dengan tenang. Ia sengaja tidak banyak bicara, takut jika terlalu banyak kata akan merusak momen sempurna yang sedang ia jalani sekarang. Setiap detiknya terasa seperti anugerah yang harus ia jaga dengan ketat agar tidak tergelincir kembali ke lubang hitam masa lalu.

Di sekolah, Askara tidak lagi menghabiskan waktu di belakang kantin untuk merokok atau membolos pelajaran olahraga yang membosankan. Ia menjadi pusat perhatian guru-guru karena ketekunannya dalam mengerjakan tugas dan keberaniannya mengangkat tangan saat diskusi kelas berlangsung. Teman-teman lamanya sempat mengejek, namun Askara hanya membalas dengan senyuman tipis tanpa sedikit pun niat untuk kembali bergabung.

Sore harinya, Askara pulang tepat waktu dan langsung membantu ayahnya membersihkan kebun belakang yang selama ini terbengkalai. Ia memangkas rumput liar yang menjalar, seolah sedang memotong semua kenangan buruk dan kesalahan yang pernah ia perbuat di masa mudanya yang egois. Keringat membasahi kausnya, namun rasa lelah itu justru membuatnya merasa jauh lebih hidup dan berguna dibandingkan sebelumnya.

Malam pun tiba, Askara merebahkan tubuhnya di ranjang dengan perasaan puas yang sangat luar biasa menyelimuti seluruh dadanya. Ia memandangi langit-langit kamar sambil membayangkan masa depan cerah yang kini sudah berada tepat di depan matanya yang berbinar. Namun, saat ia mulai memejamkan mata, sayup-sayup terdengar suara sirine ambulans dan bau asap menyengat yang terasa sangat nyata menembus dinding imajinasinya.

Suara denting piala yang diletakkan di atas meja kayu ruang tamu terdengar begitu nyaring di telinga Askara. Benda berkilau itu bukan sekadar logam, melainkan bukti nyata bahwa ia telah melangkah jauh dari bayang-bayang kegagalan masa lalunya. Ia berdiri mematung, memandangi pantulan wajahnya yang kini tampak jauh lebih tenang dan penuh harapan daripada sebelumnya.

Ibu muncul dari arah dapur dengan celemek yang masih terikat di pinggang, membawa aroma gurih ayam goreng bumbu kuning yang memenuhi seisi ruangan. Senyumnya merekah lebar, sesuatu yang jarang Askara lihat di masa-masa suram yang ia ingat dulu.

"Ibu tidak menyangka kamu bisa sehebat ini, Nak," ucapnya sambil mengusap bahu Askara dengan lembut.

Askara hanya bisa mengangguk pelan sambil meremas ujung kemeja seragamnya yang rapi, sebuah kebiasaan kecil saat ia merasa haru. "Ini baru awal, Bu. Aku janji akan terus memberikan yang terbaik untuk kalian berdua," jawabnya dengan nada suara yang mantap namun rendah, tanpa ada lagi keraguan yang biasanya menyelinap di sela kata-katanya.

Ayah menyusul masuk, melepaskan helm motornya dan langsung terpaku melihat piala perak di atas meja. Beliau tidak banyak bicara, hanya menepuk punggung Askara dengan kuat hingga putranya itu sedikit terhuyung. Namun, tatapan mata Ayah yang berkaca-kaca sudah cukup menjelaskan betapa besarnya rasa bangga yang bergejolak di dalam dadanya.

Malam itu, meja makan terasa jauh lebih hangat dari biasanya, seolah-olah setiap suapan nasi adalah perayaan atas kehidupan yang baru. Askara memperhatikan cara Ibu menuangkan air minum dan cara Ayah bercerita tentang rekan kerjanya dengan semangat. Ia merasa telah berhasil memutar kemudi takdirnya menuju jalan yang jauh lebih terang dan penuh kedamaian.

Setiap tawa yang pecah di ruang makan itu menjadi bahan bakar yang membakar semangat Askara untuk tetap berada di jalur yang benar. Ia bersumpah dalam hati tidak akan pernah lagi menyentuh dunia kelam yang dulu hampir menghancurkan segalanya. Rasanya, ia telah benar-benar mengalahkan bayang-bayang api yang dulu menghanguskan rumah dan masa depannya.

Namun, di tengah keriuhan makan malam itu, Askara tiba-tiba merasakan sensasi dingin yang merambat di ujung jemari kakinya. Suara tawa Ayah perlahan-lahan terdengar seperti gema yang memantul dari jarak yang sangat jauh. Ia mencoba mengabaikannya dengan menambah porsi makanannya, berusaha meyakinkan diri bahwa ini semua adalah kenyataan yang mutlak.

Mengapa semuanya terasa terlalu sempurna untuk menjadi nyata?

Lihat selengkapnya