Askara mengetuk-ngetukkan jari telunjuknya ke atas meja kayu ruang tamu, sebuah kebiasaan lama yang muncul setiap kali ia merasa ada sesuatu yang tidak sinkron dengan logika kepalanya. Di hadapannya, sepiring pisang goreng hangat masih mengepulkan uap, persis seperti aroma sore hari di rumah mereka sepuluh tahun yang lalu sebelum api melahap semuanya tanpa sisa.
Ibunya datang dari arah dapur sambil mengelap tangan pada celemek bunga-bunga yang tampak terlalu cerah, hampir terasa menyakitkan untuk dipandang mata. "Dimakan dong, As. Nanti dingin malah keras, kamu kan paling anti kalau makanannya sudah tidak renyah lagi," ujar wanita itu dengan nada suara yang begitu lembut, namun entah mengapa terdengar seperti rekaman rusak di telinga Askara.
"Iya, Bu, sebentar lagi aku habiskan," jawab Askara singkat, mencoba meniru ritme bicaranya yang dulu, meski lidahnya terasa kelu seolah sedang mengunyah pasir besi yang dingin. Ia memperhatikan bayangan ibunya di lantai keramik putih yang bersih mengilat, namun bayangan itu tampak sedikit bergetar, seakan-akan cahaya di ruangan ini tidak benar-benar berasal dari lampu gantung di atas mereka.
Askara bangkit berdiri, melangkah menuju jendela besar yang menghadap ke halaman depan tempat ayahnya sedang sibuk memangkas tanaman pagar dengan gunting raksasa yang berisik. Ia menyentuh bingkai jendela kayu yang dicat cokelat tua, namun ujung jarinya tidak merasakan tekstur serat kayu yang kasar, melainkan sensasi dingin yang datar seperti menyentuh permukaan layar kaca yang sangat tebal.
"Ada yang salah," bisik Askara pada dirinya sendiri sambil meremas pinggiran kemeja sekolahnya yang masih berbau detergen segar, sebuah aroma yang seharusnya mustahil ia hirup kembali setelah sekian lama mendekam di sel isolasi. Ia mencoba mengingat detail kecil tentang tetangga sebelah rumah, namun saat ia menoleh ke arah pagar samping, yang tersisa hanyalah kabut putih tebal yang tidak bergerak sama sekali.
Langkah kaki ayahnya mendekat ke arah pintu, suaranya terdengar berat namun penuh kebanggaan yang belum pernah Askara dengar di kehidupan nyatanya yang hancur berantakan. "Anak Bapak memang hebat, nilai fisikamu kali ini benar-benar membuat orang sekampung iri," kata ayahnya sambil menepuk bahu Askara, namun tangan itu tidak memiliki bobot, seolah-olah ia hanya ditepuk oleh gumpalan udara kosong.
Askara memejamkan mata erat-erat, mencoba mengusir rasa pening yang mulai menyerang pangkal tengkoraknya, namun saat ia membukanya kembali, warna dinding ruang tamu itu mulai luntur menjadi abu-abu kusam. Di sudut ruangan, ia melihat bayangan jeruji besi yang samar-samar mulai tumpang tindih dengan foto keluarganya yang terpajang rapi, membuktikan bahwa kedamaian ini hanyalah benteng rapuh yang ia bangun di dalam kepalanya yang sakit. Kejanggalan mulai muncul di dunia barunya, memaksa Askara untuk mempertanyakan realitas yang ia jalani.
Sendok perak di tangan Askara berdenting pelan saat membentur pinggiran piring porselen, sebuah kebiasaan kecil yang selalu ia lakukan untuk memastikan realitas di sekitarnya tetap padat dan nyata. Di hadapannya, kepulan uap dari sup ayam buatan Ibu menari-nari di bawah cahaya lampu gantung ruang makan yang hangat, menciptakan suasana yang begitu domestik dan tenang. Ayah duduk dengan santai sambil menyesap teh hangatnya, sesekali melontarkan senyum kecil yang membuat kerutan di sudut matanya terlihat sangat jelas, tanda bahwa pria tua itu benar-benar merasa bahagia malam ini.
Suara gesekan kursi kayu di lantai ubin yang dingin menjadi satu-satunya interupsi sebelum sebuah raungan tajam tiba-tiba menyayat keheningan ruangan, membuat telinga Askara berdenging hebat. Suara sirine pemadam kebakaran itu meledak begitu saja, seolah-olah armada truk merah raksasa sedang melaju tepat di samping telinganya dengan kecepatan penuh. Askara tersentak hingga air di gelasnya berguncang hebat, menciptakan riak-riak kecil yang membasahi taplak meja putih bersih yang baru saja diganti oleh Ibu sore tadi.
"Ayah, dengar itu? Ada kebakaran di dekat sini?" tanya Askara dengan nada bicara yang cepat dan sedikit serak, matanya bergerak gelisah menatap jendela kaca yang tertutup rapat. Ia meletakkan sendoknya dengan kasar, jemarinya mulai mengetuk-ngetuk permukaan meja secara repetitif, sebuah tanda kecemasan yang tidak bisa ia sembunyikan. Namun, Ayah hanya terus mengunyah potongan wortel dengan tenang, seolah frekuensi suara yang memekakkan telinga itu sama sekali tidak menembus ruang makan mereka yang kedap suara.
Ibu justru tersenyum lembut sambil mengusap sisa kuah di sudut bibirnya dengan serbet kain, gerakannya begitu lambat dan penuh kedamaian yang terasa janggal bagi Askara. "Dengar apa, Nak? Hanya ada suara jangkrik di luar sana, makanlah supmu sebelum dingin, nanti rasanya tidak enak lagi," jawab Ibu dengan suara yang sangat jernih dan datar. Tidak ada kepanikan dalam sorot matanya, tidak ada gerakan refleks untuk memeriksa keadaan luar, seolah dunia di balik dinding rumah mereka sedang baik-baik saja tanpa ada ancaman api.
Rasa tidak percaya mulai merayap di tengkuk Askara, membuatnya nekat berdiri dan melangkah lebar menuju jendela besar yang menghadap langsung ke arah jalan raya utama kompleks mereka. Ia menyibakkan gorden beludru cokelat dengan sentakan kuat, mengharapkan cahaya lampu strobo merah dan biru yang berkedip-kedip atau kepulan asap hitam yang membubung ke langit malam. Namun, yang ia dapati hanyalah kegelapan yang sunyi, dengan lampu jalan yang berpijar kuning statis tanpa ada satu pun kendaraan yang melintas di aspal yang kering.
Kenapa mereka tidak mendengar apa-apa, padahal suaranya sekeras ini?
Askara menekan kedua telapak tangannya ke telinga, mencoba meredam raungan sirine yang kini berubah menjadi suara gemeretak kayu yang terbakar hebat, sangat mirip dengan memori yang selalu menghantuinya. Ia menoleh kembali ke meja makan, melihat Ayah dan Ibu yang masih bercengkerama pelan, bibir mereka bergerak tanpa suara yang sinkron dengan apa yang Askara tangkap secara visual. Dunianya mulai terasa seperti kaset rusak yang diputar paksa, di mana suara dan gambar tidak lagi berjalan beriringan dalam satu harmoni yang logis.
"Askara, duduklah, kau membuat Ibu bingung dengan tingkahmu itu," tegur Ayah sambil meletakkan cangkir tehnya, suaranya terdengar sangat jauh seolah berasal dari dasar sumur yang dalam. Askara memperhatikan tangan Ayah yang tampak sedikit transparan saat terkena bias cahaya lampu, sebuah detail yang membuatnya ingin berteriak namun suaranya tertahan di kerongkongan. Ia mulai merasa ada yang salah dengan saraf pendengarannya, atau mungkin dengan seluruh realitas yang sedang ia pijak saat ini di dalam rumah impiannya.
Ia mencoba mengatur napas, namun aroma sup ayam yang gurih perlahan-lahan berubah menjadi bau sangit kain yang terbakar dan aroma menyengat dari daging yang hangus dijilat api. Askara mundur selangkah hingga punggungnya menabrak lemari pajangan, menyebabkan piala-piala kuningan miliknya bergetar dan menimbulkan suara gemerincing yang anehnya terdengar seperti tawa ejekan. Keringat dingin mulai membasahi pelipisnya, mengalir turun melewati rahangnya yang mengeras karena menahan ketakutan yang luar biasa besar yang mulai membuncah.
"Ini tidak mungkin, aku baru saja memperbaiki semuanya, aku sudah menjadi anak baik sekarang!" seru Askara dengan suara yang pecah, mencoba meyakinkan dirinya sendiri lebih daripada orang tuanya. Ia memandang ke arah tangannya, berharap menemukan noda tanah dari kebun atau tinta dari tugas sekolah, namun yang ia lihat hanyalah bayangan abu-abu yang mulai mengabur di tepiannya. Ayah dan Ibu kini berhenti bergerak sepenuhnya, membeku dalam posisi makan seperti manekin di etalase toko yang kehilangan nyawa dan fungsinya.
Suara sirine itu mendadak berhenti, digantikan oleh suara tawa parau seorang pria yang sangat ia kenali sebagai musuh bebuyutannya di masa lalu, bergema dari sudut ruangan yang gelap. Askara menyadari bahwa dinding ruang makan yang megah itu mulai retak, memperlihatkan lapisan beton kusam dan berlumut dari sebuah ruangan sempit yang berbau obat-obatan kimia. Imajinasi tentang keluarga yang utuh dan makan malam yang hangat perlahan-lahan mengelupas seperti cat lama yang terpapar panas matahari, menyisakan kenyataan yang jauh lebih dingin dan mengerikan.
Ia mencoba menggapai tangan Ibu untuk terakhir kalinya, namun jemarinya hanya menembus udara kosong yang hampa, sementara sosok wanita yang ia cintai itu memudar menjadi butiran debu putih. Ruang makan yang hangat itu runtuh, berganti menjadi sel isolasi dengan dinding empuk dan lampu neon yang berkedip menyakitkan, memperlihatkan Askara yang meringkuk di sudut lantai dengan pakaian pasien yang lusuh. Ternyata, semua pengampunan dan kesempatan kedua yang ia jalani hanyalah konstruksi pikiran yang hancur akibat rasa bersalah yang tidak akan pernah bisa dimaafkan oleh waktu.
Bingkai kayu jati itu terasa kasar saat Askara mengusap pinggirannya dengan ibu jari, sebuah kebiasaan yang selalu ia lakukan untuk menenangkan denyut nadinya yang tidak beraturan. Di dalam bingkai tersebut, Ibu tersenyum lebar sambil memegang piring berisi kue lapis, sementara Ayah berdiri tegap di sampingnya dengan tangan yang merangkul bahu Ibu. Namun, pagi ini ada sesuatu yang terasa ganjil karena garis wajah mereka seolah mencair dan menyatu dengan latar belakang dinding rumah yang berwarna krem pucat.
Askara memejamkan mata sejenak, lalu membukanya kembali dengan harapan penglihatannya hanya terganggu oleh sisa kantuk yang masih menggelayut. Ia mengucek matanya berkali-kali sampai sudut matanya memerah, tetapi potret di hadapannya justru semakin memudar, meninggalkan siluet abu-abu yang tidak lagi memiliki nyawa. "Gak mungkin, tadi malam masih jelas banget," gumamnya dengan suara serak yang bergetar pelan di tengah kesunyian ruang tamu yang terasa terlalu luas untuknya sendiri.
Tangannya yang gemetar terangkat untuk menyentuh permukaan kaca pelindung foto itu, mencoba mencari kepastian melalui indra peraba yang biasanya tidak pernah berbohong.
Alih-alih merasakan dinginnya kaca yang keras, jemarinya justru menembus bingkai tersebut seolah-olah benda itu hanyalah proyeksi cahaya yang rapuh. Udara dingin yang hampa menyapu telapak tangannya, memberikan sensasi gigil yang menjalar cepat hingga ke sumsum tulang, membuat bulu kuduknya berdiri seketika.
Ia menarik tangannya kembali dengan sentakan kasar, seolah baru saja menyentuh bara api yang tidak terlihat namun mampu membekukan aliran darahnya. Ketakutan mulai merayap dari ujung kakinya, merambat naik ke dada hingga membuatnya merasa sesak, seakan oksigen di ruangan itu mendadak lenyap ditelan kegelapan yang tak kasat mata. Askara mencoba memanggil nama Ibunya, namun tenggorokannya terasa tersumbat oleh gumpalan rasa bersalah yang selama ini ia tekan dalam-dalam di sudut pikirannya.