Bau karbol yang menyengat menusuk indra penciuman Askara, menghancurkan aroma masakan ibu yang baru saja ia nikmati dalam mimpinya. Ia mengerjapkan mata, berharap langit-langit putih kusam di atasnya berubah menjadi poster band di kamar SMA-nya yang berantakan.
"Askara, waktunya minum obat. Ayo, duduk sebentar," suara perawat itu terdengar datar, tanpa kehangatan yang biasa diberikan ibunya setiap pagi sebelum berangkat sekolah.
Askara tidak bergerak, jemarinya masih meraba permukaan kasur yang keras dan dingin, mencari tekstur selimut wol yang ia yakini ada di sana beberapa detik lalu. "Ibu mana? Tadi dia baru saja memanggilku untuk sarapan, Sus. Aku harus segera mandi karena ada ujian sejarah hari ini."
Perawat itu hanya menghela napas panjang sembari meletakkan nampan plastik berisi pil berwarna merah muda dan segelas air putih di meja kayu yang sudah terkelupas catnya. "Ibumu sudah tidak ada sejak sepuluh tahun yang lalu, Askara. Kebakaran itu nyata, dan kamu sedang berada di bangsal perawatan sekarang."
Dada Askara terasa sesak seolah-olah oksigen di ruangan itu mendadak hilang, menyisakan ruang hampa yang menghimpit jantungnya dengan sangat kuat. Bayangan tentang dirinya yang menjadi juara kelas dan anak kebanggaan orang tua mulai retak seperti kaca yang dipukul martil besar.
"Tidak mungkin. Aku ingat betul bagaimana aku meminta maaf pada Ayah dan dia memelukku sambil menangis bahagia semalam," gumam Askara dengan suara bergetar hebat. Ia mulai menarik-narik ujung bajunya, sebuah kebiasaan lama yang muncul setiap kali dunianya mulai terasa tidak masuk akal.
Ia menoleh ke arah jendela berjeruji besi yang menampilkan pemandangan taman kering dengan beberapa orang berseragam serupa dengannya yang sedang berjalan tanpa arah. Di sanalah Askara dipaksa menghadapi kenyataan pahit bahwa dunia indahnya hanyalah pelarian dari gangguan jiwa yang ia derita selama ini.
Rasa bersalah yang ia kira telah terbayar lunas di masa lalu fiktifnya kini kembali menghantam dengan kekuatan berkali-kali lipat lebih dahsyat. Segala pencapaian dan perubahan sifat yang ia banggakan hanyalah proyeksi dari depresi berat yang menolak menerima fakta bahwa ia telah menghancurkan hidupnya sendiri.
Air mata Askara jatuh mengenai telapak tangannya yang gemetar, menyadari bahwa tidak ada mesin waktu, tidak ada keajaiban, dan tidak ada kesempatan kedua. Ia terjebak dalam sel pikirannya sendiri, meratapi abu masa lalu yang tidak akan pernah bisa ia susun kembali menjadi sebuah rumah yang utuh.
Dinding putih itu seolah menghimpit udara di paru-paru Askara, mengirimkan rasa sesak yang jauh lebih menyakitkan daripada asap kebakaran mana pun yang pernah ia bayangkan. Ia mencoba menggerakkan pergelangan tangannya, namun gesekan kasar kain pengikat yang kaku segera menghentikan niatnya. Di bawah punggungnya, sprei putih yang terasa dingin dan tajam itu sama sekali tidak menyerupai kasur empuk di rumah masa kecilnya yang selama ini ia kunjungi dalam mimpi panjang.
"Jangan ditarik terus, Askara. Kulitmu bisa lecet lagi seperti kemarin-kemarin," suara itu terdengar datar, tanpa ada nada kebencian, namun justru itulah yang membuat Askara merasa hancur. Ia menoleh perlahan ke arah sumber suara, menemukan seorang perawat berseragam biru muda yang sedang sibuk mengatur peralatan di atas meja dorong logam. Bunyi denting botol kaca yang saling bersentuhan menciptakan irama yang menyiksa telinganya, seolah mengingatkannya pada realitas yang tak terelakkan.
"Kenapa aku di sini? Di mana Ayah? Tadi pagi kami baru saja sarapan sup ayam," Askara berbisik dengan suara serak, tenggorokannya terasa seperti baru saja menelan butiran pasir kering. Ia terus menggoyangkan ujung jempol kakinya secara ritmik, sebuah kebiasaan kecil yang selalu muncul setiap kali ia mencoba meyakinkan diri bahwa ia masih memegang kendali atas dunianya sendiri. Namun, ruangan ini tidak memberikan jawaban yang ia inginkan, hanya ada bau karbol yang menusuk tajam.
Perawat itu menghentikan gerakannya sejenak, menatap Askara dengan tatapan iba yang sangat ia benci, seolah ia adalah sebuah barang pecah belah yang sudah retak seribu. "Askara, kamu harus tenang dulu. Kamu mengamuk lagi semalam, berteriak-teriak tentang api dan pintu yang terkunci, sampai petugas keamanan harus membantumu kembali ke tempat tidur ini," katanya pelan sambil mulai menyedot cairan bening dari sebuah ampul ke dalam alat suntik yang berkilau di bawah lampu neon.
"Tapi aku sudah memperbaikinya! Aku sudah jadi anak baik, aku belajar dengan rajin, aku tidak pernah lagi keluyuran malam!" Askara berteriak, suaranya naik satu oktav sementara dadanya naik turun dengan cepat. Ia benar-benar yakin telah melewati tahun-tahun SMA-nya dengan prestasi yang gemilang, menghapus semua noda hitam yang pernah ia torehkan di wajah kedua orang tuanya. Kenangan itu terasa begitu nyata, begitu hangat, dan begitu sempurna di dalam benaknya.
Perawat itu menghela napas panjang, lalu melangkah mendekat dengan langkah kaki yang nyaris tak terdengar di atas lantai linoleum yang licin. "Semua itu hanya ada di kepalamu, Askara. Kamu sudah di sini selama dua tahun sejak kejadian tragis itu. Tidak ada masa lalu yang bisa diulang, yang ada hanyalah hari ini dan pengobatanmu agar kamu tidak terus-menerus menyakiti dirimu sendiri karena rasa bersalah yang berlebihan," jelasnya dengan nada bicara yang tetap terjaga dan profesional.
Askara memejamkan mata rapat-rapat, mencoba memanggil kembali aroma parfum Ibu atau suara tawa Ayah yang menggelegar saat mereka menonton televisi bersama di ruang tengah. Namun, semakin keras ia mencoba, semakin pudar bayangan-bayangan indah itu, digantikan oleh gambaran hitam puing-puing rumah yang hangus terbakar. Ia menyadari bahwa memori tentang kesuksesannya menjadi anak teladan hanyalah sebuah benteng kokoh yang ia bangun untuk bersembunyi dari kenyataan pahit.
Tangan perawat itu dengan lembut namun pasti mengusap lengan atas Askara dengan kapas beralkohol yang terasa dingin, sebuah sensasi yang membuyarkan lamunannya tentang dunia khayalan itu. "Aku hanya ingin minta maaf pada mereka satu kali saja," gumam Askara, kali ini tanpa perlawanan, membiarkan tubuhnya melemas di atas ranjang rumah sakit yang keras. Ia tidak lagi mencoba menarik ikatan di tangannya, karena ia tahu bahwa penjara yang sebenarnya bukanlah ruangan ini, melainkan pikirannya sendiri.
Cairan penenang itu mulai mengalir masuk ke dalam pembuluh darahnya, membawa rasa dingin yang perlahan-lahan merambat ke seluruh tubuh, menumpulkan emosi yang meledak-ledak. Pandangannya mulai mengabur, dan langit-langit ruangan yang putih bersih itu tampak seolah-olah mulai mencair. Askara tahu bahwa sebentar lagi ia akan tertidur, dan ia sangat ketakutan jika saat ia bangun nanti, ia tidak akan menemukan lagi wajah orang tuanya, bahkan dalam mimpi sekalipun.
Dunia imajinasi yang ia ciptakan dengan susah payah sebagai penebusan dosa kini runtuh berkeping-keping, meninggalkan dirinya yang hancur di tengah reruntuhan ilusi yang ia buat sendiri. Tidak ada mesin waktu, tidak ada kesempatan kedua yang ajaib, dan tidak ada cara untuk menghapus api yang telah melahap segalanya di masa lalu. Ia hanya memiliki kesunyian ruangan ini dan penyesalan yang akan terus mengikutinya seperti bayangan yang enggan pergi meski cahaya telah padam.
Askara akhirnya menyerah pada rasa kantuk yang berat, membiarkan kegelapan menyelimuti kesadarannya sambil membisikkan kata maaf yang tidak akan pernah sampai ke telinga siapapun di dunia nyata. Ia menyadari sepenuhnya bahwa hidup bukanlah sebuah naskah yang bisa ditulis ulang saat kita melakukan kesalahan fatal di tengah jalan.
Kesempatan yang ia sia-siakan dahulu kini telah berubah menjadi belenggu yang mengikat jiwanya di balik jeruji besi rumah sakit jiwa yang dingin ini.
Suara gesekan kertas pada papan klip kayu terdengar sangat nyaring di ruangan yang terlalu putih itu. Dokter Aris tidak segera mendongak, jemarinya justru sibuk merapikan tumpukan catatan medis yang tebalnya sudah menyamai kamus bahasa. Askara duduk dengan kaku, kedua tangannya saling meremas di bawah meja, sebuah kebiasaan yang selalu muncul saat ia merasa terpojok oleh kenyataan.