Tembok putih di ruang rehabilitasi itu tampak memuakkan, namun Askara tetap duduk diam sambil memilin ujung bajunya. Suara gesekan kain menjadi satu-satunya irama yang menenangkan sarafnya yang tegang. Ia tidak lagi mencoba mencari pintu keluar yang tersembunyi di balik halusinasinya yang megah.
"Jadi, kamu sudah siap bicara hari ini?" tanya perawat laki-laki yang berdiri di ambang pintu. Askara hanya mengangguk pelan, sebuah gerakan kecil yang terasa sangat berat. Ia mengambil napas panjang, membiarkan udara dingin rumah sakit memenuhi paru-parunya yang dulu sesak oleh asap kebakaran.
Askara mulai membuka mulut, suaranya parau namun stabil saat ia menceritakan kebohongan indah tentang masa SMA-nya. Ia mengakui bahwa semua memori tentang menjadi anak berprestasi hanyalah benteng yang ia bangun untuk lari dari rasa bersalah.
Tidak ada mesin waktu, yang ada hanyalah penyesalan yang membatu di dalam dada.
"Aku ingin mereka tahu bahwa waktu tidak bisa diputar balik, sekeras apa pun kita memohon," ucap Askara dengan nada datar. Ia menatap telapak tangannya yang gemetar, menyadari bahwa bekas luka di sana adalah nyata, sementara pelukan orang tuanya hanyalah bayangan. Ia harus menerima bahwa ia adalah penyebab kehancuran itu sendiri.
Penerimaan itu datang seperti hantaman ombak yang dingin, menyakitkan namun sekaligus membersihkan sisa-sisa khayalannya. Ia tidak lagi berteriak memanggil ibunya di tengah malam atau mencari ayahnya di sudut ruangan yang kosong. Askara memilih untuk memeluk rasa sakitnya sebagai bagian dari identitas barunya yang hancur.
Setiap kata yang ia tulis di buku catatan kecilnya kini menjadi peringatan bagi siapa saja yang masih memiliki kesempatan. Ia mencatat setiap detail keegoisannya yang dulu, berharap tidak ada lagi pemuda yang harus bangun di dalam sel isolasi pikiran. Baginya, kejujuran adalah satu-satunya cara untuk menghormati mereka yang telah tiada.
Saat matahari mulai tenggelam di balik jendela berjeruji, Askara menutup bukunya dengan mantap. Ia tahu perjalanannya masih panjang dan gelap, namun ia tidak lagi takut berjalan sendirian tanpa ilusi. Di titik ini, ia menemukan secercah kedamaian yang jujur di tengah reruntuhan hidupnya yang fana.
Semburat oranye di ufuk barat menyapu permukaan kolam kecil di tengah taman rumah sakit, menciptakan pantulan cahaya yang menusuk mata. Askara duduk di bangku kayu yang catnya sudah mengelupas, membiarkan jemarinya yang gemetar terus memilin ujung kemeja putihnya yang kusam. Setiap tarikan benang yang lepas dari kain itu seolah menjadi satu-satunya jangkar yang menahannya agar tidak melayang kembali ke dalam labirin imajinasi yang menyesatkan.
"Langitnya beda ya, Ka? Lebih pucat dari yang sering kamu ceritakan di buku catatanmu," suara Suster Rini memecah keheningan, sambil meletakkan nampan berisi obat di meja besi samping bangku. Askara tidak segera menoleh, matanya masih terpaku pada gumpalan awan yang bergerak lambat, menyadari bahwa warna ini adalah kebenaran yang selama ini ia tolak dengan segenap tenaga. Ia tidak lagi melihat bayangan Ayah yang sedang menyiram mawar atau Ibu yang melambaikan tangan dari balik jendela rumah mereka yang telah lama rata dengan tanah.
"Ini warna yang asli, Sus. Tidak terlalu indah, tapi setidaknya ini nyata," jawab Askara dengan nada bicara yang datar dan terukur, sebuah ritme yang ia pelajari untuk menjaga kewarasannya tetap di permukaan. Ia menarik napas dalam, merasakan aroma tanah basah dan sisa-sisa bau disinfektan yang tajam merasuk ke paru-parunya, menggantikan wangi masakan Ibu yang dulu sering ia ciptakan dalam halusinasinya. Kehadiran orang tuanya kini terasa berbeda; bukan lagi sebagai sosok fisik yang bisa disentuh, melainkan sebagai gema penyesalan yang jujur di lubuk hatinya.
Keputusan untuk berhenti berlari dari kenyataan pahit itu terasa seperti beban berton-ton yang mendadak diletakkan di atas pundaknya yang kurus. Askara teringat bagaimana ia sering mengunci diri di kamar perawatan, meyakini bahwa ia masih seorang siswa SMA yang punya kesempatan untuk memperbaiki nilai-nilai ujiannya dan menyelamatkan rumah dari api. Namun, setiap kali ia mencoba melangkah lebih jauh ke dalam delusi itu, rasa sakit di dadanya justru semakin menjadi-jadi, mengingatkannya pada hari ketika puntung rokoknya memicu bencana besar tersebut.
Suster Rini mengamati gerakan tangan Askara yang tidak berhenti memilin kain kemejanya, sebuah kebiasaan yang muncul setiap kali pria itu mulai menghadapi memori yang berat. "Dokter bilang kamu sudah mulai bisa menerima kronologi kejadian yang sebenarnya. Itu kemajuan besar, tapi kamu tahu kan konsekuensinya?" Suster itu bertanya dengan hati-hati, mencoba tidak memicu ledakan emosi yang sering terjadi pada pasien di bangsal isolasi ini. Askara hanya mengangguk pelan, meskipun rahangnya mengeras dan urat-urat di lehernya mulai menonjol karena tekanan batin yang hebat.
Aku tidak butuh kesempatan kedua yang palsu jika itu hanya membuatku menjadi pengecut yang bersembunyi di balik kegilaan.
Pikiran itu melintas begitu tajam, membuat Askara mendongak dan menatap Suster Rini dengan sorot mata yang penuh dengan kepedihan sekaligus ketegasan. Ia ingat betul bagaimana ia sengaja mengabaikan peringatan Ayah tentang instalasi listrik yang rusak karena ia terlalu sibuk berpesta dengan teman-temannya yang toksik. Keegoisan masa muda itu bukan sekadar kesalahan kecil, melainkan api yang melahap seluruh dunianya tanpa sisa, meninggalkan dirinya sebagai satu-satunya penyintas yang dikutuk oleh ingatan.
"Sus, apakah orang gila tetap harus menanggung dosa dari masa lalunya saat dia masih waras?" Askara melontarkan pertanyaan itu dengan diksi yang tajam, seolah sedang menguji batas moralitas di ruangan terbuka ini. Suster Rini terdiam, tidak menyangka pertanyaan seberat itu akan keluar dari mulut seorang pasien yang baru saja pulih dari episode depresi berat. Ketegangan menggantung di antara mereka, diiringi suara burung gereja yang berebut sisa remah roti di dekat kaki Askara, menambah kesan kontras antara kehidupan yang terus berjalan dan penyesalan yang berhenti di tempat.
Askara tiba-tiba berdiri, membuat bangku kayu itu berderit keras hingga Suster Rini tersentak mundur karena takut akan ada serangan fisik yang tak terduga. Namun, pria itu hanya berdiri tegak, membiarkan angin sore menerpa wajahnya yang pucat dan penuh garis-garis kelelahan yang permanen. Ia tidak lagi mencoba mencari celah untuk masuk kembali ke dalam "dunia SMA" yang indah, karena ia tahu bahwa setiap detik yang ia habiskan di sana adalah pengkhianatan terhadap kebenaran tentang kematian orang tuanya.
Konflik batin yang selama ini ia pendam meledak dalam bentuk kejujuran yang menyakitkan, saat ia menyadari bahwa seluruh usahanya menjadi "anak baik" di dalam imajinasi hanyalah cara licik untuk memaafkan diri sendiri tanpa menebus kesalahan. "Aku yang membunuh mereka, Sus. Bukan api, bukan takdir, tapi aku," ucapnya dengan suara yang bergetar hebat, namun matanya tetap kering, menunjukkan tingkat kesadaran yang sangat tinggi dan menyiksa. Pengakuan itu terasa seperti belati yang ia tancapkan sendiri ke dadanya, sebuah hukuman yang jauh lebih nyata daripada jeruji besi rumah sakit jiwa ini.
Suster Rini mencoba meraih lengan Askara, namun pria itu segera menepisnya dengan gerakan yang tidak kasar tapi penuh penolakan terhadap simpati yang murah. Ia lebih memilih untuk hancur di bawah beban kenyataan daripada utuh di dalam pelukan kebohongan yang ia ciptakan sendiri selama bertahun-tahun ini. Baginya, setiap embusan napas sekarang adalah pengingat bahwa tidak ada mesin waktu, tidak ada keajaiban pagi hari, dan tidak ada pengampunan yang bisa didapat hanya dengan membayangkan diri menjadi orang yang berbeda.
Lampu-lampu taman mulai menyala satu per satu, memberikan cahaya kekuningan yang temaram di atas jalan setapak yang penuh dengan bayangan panjang. Askara menatap pintu bangsal yang terbuka lebar, menyadari bahwa perjalanannya untuk benar-benar "pulih" baru saja dimulai dengan langkah yang paling menyakitkan dari segalanya. Ia berjalan perlahan menuju kamarnya, meninggalkan sisa-sisa khayalan tentang masa SMA di bawah bangku kayu itu, siap untuk menghadapi malam-malam panjang tanpa perlindungan dari ilusi yang selama ini melindunginya dari rasa bersalah yang tak terhingga.