
Bau buku tua selalu berhasil menenangkan saraf Fathan yang kerap tegang oleh rutinitas kuliah arsitektur yang melelahkan. Di sudut paling sunyi lantai tiga Perpustakaan Pusat Universitas, di antara rak-rak tinggi berisi arsip jurnal sejarah tahun 90-an, ia menemukan tempat pelariannya. Hari itu, hujan gerimis turun membasahi jendela kaca besar, menciptakan atmosfer kelabu yang syahdu.
"Eh, sori, buku ini lo pakai enggak?"
Suara itu mengejutkan Fathan yang sedang serius mencatat referensi. Seorang mahasiswi berambut sebahu dengan tas ransel pudar berdiri di hadapannya, menunjuk buku tebal tentang tata kota Batavia tempo dulu yang tergeletak di atas meja.
Fathan mendongak, matanya langsung menangkap tatapan tajam namun teduh dari sang gadis. "Oh, enggak kok, pakai aja. Belum terlalu gue jamah dalemnya," jawab Fathan, buru-buru merapikan bukunya.
"Thanks ya. Gue Nisa, dari Sastra Indonesia," kata gadis itu sambil menarik kursi di seberang Fathan tanpa ragu, lalu duduk. "Lu sendiri anak teknik ya? Keliatan banget dari tumpukan sketsa rancangan bangunan di sebelah tu."
"Haha, ketahuan ya? Iya nih, lagi nyari referensi gaya kolonial buat tugas besar," balas Fathan sambil tersenyum simpul.
Perbincangan sore itu mengalir begitu saja, melompat dari topik arsitektur kuno hingga puisi-puisi Chairil Anwar yang dibahas Nisa dengan penuh penghayatan. Di tengah ruangan yang senyap, suara lembut Nisa terasa begitu kontras dengan kebisingan dunia luar. Bagi Fathan, pertemuan sore itu bukan sekadar kebetulan akademis. Ada getaran ganjil yang merambat di dadanya, perasaan hangat seolah ia baru saja menemukan kepingan puzzle dalam dirinya yang selama ini hilang.
Hari-hari berikutnya berubah drastis. Perpustakaan tua itu menjelma menjadi markas rahasia cinta mereka. Di balik tumpukan ensiklopedia dan aroma debu kertas, Fathan dan Nisa membangun dunia mereka sendiri. Mereka adalah dua jiwa naif yang percaya bahwa masa depan terbentang luas tanpa batas, penuh warna, dan selamanya berpihak pada mereka.
"Fan, menurut lu nanti kalau kita udah lulus, kita bakal tetep sering nongkrong di perpus kayak gini enggak?" tanya Nisa suatu siang, sambil memainkan ujung sedotan es kopi kantin yang ia selundupkan ke dalam tas.
Fathan menatap Nisa lekat-lekat, menyerap setiap detail wajah gadis itu di bawah temaram lampu belajar perpustakaan. "Pasti lah, Nis. Bahkan nanti kalau kita udah tua dan keriput, gue bakal tetep nganterin lu kesini buat baca buku sejarah, walau mungkin mata kita udah rabun."
Nisa tertawa renyah, sebuah tawa yang selalu berhasil membuat Fathan merasa menjadi pria paling beruntung di muka bumi. "Iih, gombal banget anak arsitek sekarang. Belajar merayu dari mana lu, rancangan bangunan emang bisa bikin puitis?"
"Bukan bangunannya yang bikin puitis, Nis, tapi orang yang duduk di depannya," balas Fathan tanpa ragu.
Di masa kuliah yang penuh idealisme itu, mereka merasa tak terkalahkan. Dunia terasa begitu ramah, seolah-olah semesta sengaja berkomplot untuk menyatukan dua kepala yang penuh mimpi besar. Nisa dengan novel-novel indie yang ditulisnya di sela-sela kuliah, dan Fathan dengan maket-maket bangunan masa depannya. Mereka saling melengkapi, menjadi cermin bagi satu sama lain, meyakini bahwa cinta masa muda ini adalah versi paling murni dari keabadian.
❖ ❖ ❖
Namun, musim semi kehidupan kampus tidak berlangsung selamanya. Menjelang akhir tahun keempat, bayang-bayang dunia nyata mulai merangsek masuk ke dalam kenyamanan perpustakaan tua tempat mereka biasa berlindung. Ujian akhir, revisi skripsi yang tak berujung, serta tuntutan dari orang tua masing-masing mulai mengikis waktu kebersamaan mereka.
Suatu sore di tempat biasa, suasana terasa jauh lebih dingin dari biasanya. Nisa duduk dengan gelisah, jemarinya mengetuk-ngetuk meja kayu perpustakaan berulang kali. Di depannya tergeletak sebuah surat berkop perusahaan penerbitan mayor di ibu kota.
"Fan, gue diterima magang full-time di redaksi penerbitan buku itu," ucap Nisa tanpa menatap mata Fathan. Suaranya terdengar datar, menyembunyikan getar kecemasan.
Fathan yang tadinya fokus pada revisi denah struktur bangunan langsung mengangkat kepala. Senyum bangga sempat tersungging di bibirnya sebelum ia menyadari raut wajah Nisa yang tidak biasa. "Wah, gila! Keren banget, Nis! Kenapa muka lu kaya orang mau diinterogasi polisi gitu? Harusnya kan kita seneng dong?"
Nisa menghela napas panjang, menatap Fathan dengan sorot mata yang menyiratkan beban berat. "Masalahnya, kantornya bukan di sini, Fan. Tapi di pusat kota, daerah Menteng. Dan jam kerjanya... parah banget. Belum lagi kalau ada event buku ke luar kota."
Fathan terdiam. Udara di perpustakaan tiba-tiba terasa menipis. Jarak antara kampus mereka di pinggiran kota dan pusat ibu kota bukanlah hal sepele, terutama di tengah kemacetan yang kerap melumpuhkan urat nadi transportasi.
"Terus? Artinya kita bakal jarang ketemu dong?" tanya Fathan pelan, ada nada protes yang tertahan di balik kerongkongannya.
"Bukan jarang lagi, Fan. Gue harus pindah kos ke dekat kantor supaya enggak stress di jalan. Bokap juga kemarin nanyain terus soal kepastian karier gue setelah lulus," jawab Nisa lirih. Tangannya meraih tangan Fathan di atas meja, menggenggamnya erat-erat seolah takut terlepas. "Gue takut, Fan. Takut kita sibuk sama urusan masing-masing terus tau-tau asing."
Fathan balas menggenggam tangan itu, mencoba menularkan keyakinan yang sebenarnya mulai goyah di dalam hatinya sendiri. "Hei, dengarin gue. Kita udah lewatin masa-masa skripsi begadang bareng, masa jarak beberapa kilometer doang bikin kita goyah? Kita ini belahan jiwa, ingat kan?"
Nisa tersenyum tipis, meski matanya menyiratkan keraguan yang mendalam. Mereka mencoba meyakinkan diri bahwa cinta mereka cukup kuat untuk melawan arus kesibukan dunia kerja dewasa. Namun, di sudut hati keduanya, titik jepit pertama itu telah menancap kuat, mengubah rasa aman masa kuliah menjadi awal dari sebuah kecemasan yang diam-diam mulai menggerogoti.
❖ ❖ ❖
Waktu berlalu dengan kecepatan yang menakutkan. Dua tahun setelah kelulusan, ramalan Nisa perlahan menjadi kenyataan yang melelahkan. Perpustakaan tua tempat mereka pertama kali bertemu kini tinggal kenangan masa lalu, tergantikan oleh kafe-kafe hipster ber-AC dingin dan kubikel kantor yang pengap.