Siang itu, terik matahari Bandar Lampung seolah mencairkan aspal jalanan, tetapi di bawah rindangnya tajuk pohon mahoni tua di sudut taman kota, udara terasa jauh lebih ramah. Daun-daun kering berserakan di atas tanah cokelat yang lembap, menciptakan aroma khas tanah basah yang bercampur dengan angin kemarau. Di sinilah, tepat lima tahun lalu, sebuah sumpah diikrarkan oleh dua insan muda yang memandang masa depan dengan mata penuh binar keyakinan.
Fathan dan Nisa, dua nama yang dulu sering dihubungkan dengan sejuta mimpi besar, pernah duduk berjam-jam di bangku kayu panjang yang catnya kini sudah mulai mengelupas. Masa muda menawarkan ilusi bahwa waktu adalah sumber daya yang takkan pernah habis. Saat itu, dunia terasa begitu lapang, siap untuk ditaklukkan oleh siapa saja yang memiliki keberanian.
"Lo yakin nanti kita bakal sukses bareng, Fan? Gila ya, bayangin aja kalau kita udah punya segalanya," ucap Nisa kala itu, jemarinya dengan santai memainkan sehelai daun mahoni yang jatuh ke pangkuannya. Matanya menerawang jauh menembus celah-celah dedaunan, menatap langit senja yang mulai jingga.
Fathan menoleh, tersenyum lebar dengan keyakinan khas anak muda yang belum pernah tersandung kerasnya realitas hidup. "Yakin banget lah, Nis. Gue nggak bakal biarin masa depan kita suram. Lo cukup tunggu gue di sini. Begitu gue sukses di Jakarta, gue bakal balik lagi buat jemput lo."
"Janji ya?" Nisa menengadah, mengulurkan kelingkingnya dengan tatapan menantang sekaligus penuh harap.
Fathan menyambut tautan kelingking itu dengan mantap. "Janji. Sumpah demi apa pun, gue bakal balik sebagai orang sukses."
Kini, waktu telah berputar jauh. Lima tahun bukan waktu yang sebentar, namun bagi Fathan, tahun-tahun tersebut terasa seperti kilatan cahaya yang menyiksa. Di tengah hiruk-pikuk ibu kota yang kejam, impian besar untuk menaklukkan dunia ternyata tidak semudah membalikkan telapak tangan.
Fathan menatap pantulan dirinya di cermin kamar kosnya yang sempit di kawasan Manggarai, Jakarta Selatan. Kemeja putih yang ia kenakan sudah agak kekuningan di bagian kerah, saksi bisu dari keringat dan lembur berbulan-bulan yang dijalaninya sebagai pekerja kreatif lepas dengan bayaran pas-pasan.
Ponsel di atas meja berdering nyaring, membuyarkan lamunannya. Nama Nisa tertera di layar. Dengan perasaan campur aduk antara rindu dan rasa bersalah yang kian menumpuk, Fathan mengangkat panggilan tersebut.
"Halo, Fan? Lu jadi balik Lampung weekend ini? Udah lama banget kita nggak ketemu, jujur gue kangen," suara Nisa terdengar di seberang, bernada ceria namun menyisakan sedikit kelelahan yang disembunyikan.
Fathan menarik napas panjang, mencoba menstabilkan suaranya agar terdengar baik-baik saja. "Halo juga, Nis. Soal balik... eh, jujur kerjaan gue lagi padet banget nih. Klien rewel minta revisi mulu."
"Yah... gitu mulu alesan lu, Fan. Kapan sih lu nggak sibuk?" suara Nisa berubah sedikit ketus, menunjukkan kekecewaan yang sudah sering ia pendam.
"Bukannya gitu, Nis. Gue kan lagi berjuang demi masa depan kita juga. Biar nanti waktu kita nikah, nggak ada beban finansial," balas Fathan cepat, mencoba membela diri.
"Iya, tapi capek, Fan. Lu di Jakarta, gue di sini. Waktu terus jalan, umur kita juga nambah. Kadang gue ngerasa janji di bawah pohon mahoni itu cuma angan-angan doang," gumam Nisa pelan, namun kata-kata itu menusuk tepat di ulu hati Fathan.
Fathan terdiam. Percakapan itu menggantung dalam keheningan yang panjang. Ia menyadari betapa mudahnya mengucap janji manis ketika dunia terasa tak terbatas, namun betapa menyakitkannya ketika janji itu mulai terkikis oleh jarak, waktu, dan kenyataan hidup yang pahit.
❖ ❖ ❖
Tekanan dari obrolan singkat itu membuat Fathan gelisah sepanjang hari. Ia memutuskan untuk keluar dari kamar kosnya dan berjalan-jalan tanpa arah di trotoar Jakarta yang padat. Asap kendaraan bermotor dan deru klakson bersahutan, menciptakan simfoni kekacauan kota besar yang tidak pernah tidur.
Di sebuah warung kopi sederhana pinggir jalan, Fathan memesan segelas es teh manis untuk meredakan kepalanya yang pening. Pikirannya melayang kembali ke masa-masa kuliah di Lampung. Betapa polosnya mereka saat itu. Mereka mengira cinta dan tekad saja sudah cukup untuk membeli segalanya.
Seorang teman lama, Rio, tiba-tiba mengirim pesan singkat menanyakan kabar. Fathan membalasnya dengan keluhan singkat tentang hubungannya dengan Nisa yang mulai di ambang keretakan. Tak lama kemudian, ponselnya berdering tanda panggilan masuk dari Rio.
"Halo, Bro! Lu kenapa kayak orang linglung gitu di chat? Masalah Nisa lagi?" tanya Rio langsung tanpa basa-basi begitu Fathan mengangkat telepon.
"Iya, Yo. Dia mulai nuntut kepastian. Masalahnya, dompet gue sekarang aja tipis banget. Buat hidup di Jakarta sebulan aja megap-megap, gimana mau nikahin dia?" keluh Fathan frustrasi, tangannya meremas gelas plastik hingga airnya hampir tumpah.