Langit Jakarta pagi itu tampak begitu cerah, menyaput megahnya gedung Balai Sidang dengan bias keemasan matahari yang perlahan naik. Namun, keriuhan dan tawa bahagia para wisudawan yang berhamburan di halaman seolah menguap begitu saja bagi Fathan. Langkah kakinya terasa berat, seperti terseret beban tak kasat mata. Di genggamannya, sebuah toga hitam terlipat rapi bersanding dengan map ijazah yang menjadi simbol akhir dari perjuangan panjang mereka selama empat tahun terakhir.
Di seberang selasar, di bawah naungan pohon angsana yang rindang, Nisa berdiri menatapnya. Gadis itu mengenakan kebaya kutubaru modern berwarna soft pink yang berpadu sempurna dengan kain batik lilit. Senyumnya mengembang, tetapi di balik binar mata indahnya, tersimpan gurat kelelahan dan kecemasan yang teramat sangat. Fathan mempercepat langkahnya, menghampiri perempuan yang telah mengisi hari-hari kuliahnya dengan sejuta warna, suka, maupun duka.
"Eh, lu ke mana aja dari tadi? Dicariin juga sama mama gue," sapa Nisa begitu Fathan berdiri tepat di hadapannya. Suaranya terdengar renyah, meski ada sedikit getar tertahan di sana.
"Tadi ngurus berkas administrasi sebentar di dalam, Nis. Rame banget, puyeng kepala gue," jawab Fathan sembari menghela napas panjang, mencoba meredakan debar jantungnya yang mendadak tidak karuan. "Sumpah, nggak nyangka banget kita akhirnya lulus juga ya. Rasanya baru kemarin kita kelabakan ngerjain skripsi bareng di perpus."
Nisa tertawa kecil, jemarinya merapikan lipatan toga di bahu Fathan. "Iya, gila ya. Nggak terasa banget waktu jalan begitu cepat. Tapi, rasanya lulus tuh nggak cuma seneng doang, Fath. Ada rasa aneh yang bikin dada gue sesak."
"Sesak kenapa lagi? Udah lulus kok malah sedih," cerca Fathan lembut, menatap lekat-lekat mata Nisa.
Nisa mengalihkan pandangannya sejenak ke arah gerbang kampus yang dipadati kendaraan lalu-lalang. "Bukan sedih karena skripsi, Fath. Tapi karena setelah hari ini... semuanya bakal berubah. Lu tau sendiri kan kondisi keluarga gue gimana?"
Suasana di antara mereka mendadak berubah senyap, kontras dengan keriuhan di sekitar mereka yang sibuk berfoto bersama keluarga. Fathan terdiam. Kalimat itu seperti batu besar yang menghantam ulu hatinya. Ia sangat tahu. Sejak awal, hubungan mereka tidak pernah berdiri di atas tanah yang datar. Nisa adalah anak sulung dari keluarga tradisional di sebuah kota kecil di Jawa Tengah, sementara Fathan adalah pemuda rantau yang masih merintis masa depannya di ibu kota.
"Iya, gue tau, Nis," bisik Fathan lirih, suaranya nyaris tenggelam oleh deru knalpot kendaraan di jalan raya. "Tapi kan kita udah sepakat buat jalanin pelan-pelan. Lu tetap harus pulang ke kota lu dulu kan buat laporan ke orang tua?"
"Bukan cuma laporan, Fath," potong Nisa cepat, kali ini ia menatap Fathan dengan mata berkaca-kaca. "Bapak udah mutusin. Selepas wisuda ini, gue nggak boleh balik ke Jakarta lagi. Gue harus ngurusin usaha keluarga di sana, dan... dan soal perjodohan itu, Bapak tetap bersikeras."
Dunia Fathan seolah berhenti berputar seketika. Perjodohan itu. Topik sensitif yang selama ini berusaha mereka hindari dan kubur dalam-dalam kini bangkit kembali, tepat di hari raya kemenangan akademis mereka.
"Tapi kan kita udah bahas ini, Nis! Lu udah janji bakal ngomong pelan-pelan ke bapak lu!" protes Fathan, nada suaranya sedikit meninggi sebelum akhirnya ia sadar dan kembali melembutkannya. "Maksud gue... lu nggak bisa langsung nurut gitu aja tanpa mikirin masa depan kita."
"Fath, please... jangan bikin gue makin berat," pinta Nisa dengan suara bergetar, air mata akhirnya tumpah juga membasahi pipinya. "Lu tau kan posisi gue? Gue anak pertama. Adik-adik gue masih sekolah. Gue nggak mungkin membangkang sama Bapak setelah semua pengorbanan beliau buat kuliah gue."
Fathan mengatupkan rahangnya rapat-rapat. Jemalinya terkepal di balik saku celana. Rasa marah, kecewa, dan tak berdaya bergemuruh di dadanya secara bersamaan. Ia ingin marah pada keadaan, pada takdir yang seolah mempermainkan ketulusan cinta mereka. Namun, di sisi lain, ia melihat betapa hancurnya hati Nisa saat ini.
"Oke, oke. Maafin gue, Nis. Emosi gue tadi," ucap Fathan mengalah, lalu ia merogoh saku bajunya dan mengeluarkan sehelai tisu untuk menghapus jejak air mata di pipi gadis itu. "Jangan nangis dong, hari ini hari wisuda kita. Jangan dirusak sama air mata."
Nisa menerima tisu tersebut sambil tersenyum pahit. "Gimana bisa nggak nangis, Fath? Kereta gue ke Purwokerto berangkat nanti sore jam empat. Itu artinya, waktu kita tinggal beberapa jam lagi."
"Jam empat sore?" Fathan tertegun. "Cepat banget? Kenapa nggak besok aja pulangnya?"
"Tiketnya udah dibeliin sama Bapak sejak seminggu yang lalu. Nggak bisa diubah," jawab Nisa lemah.
Fathan menengadah, menatap langit Jakarta yang kini mulai diselimuti awan kelabu. Takdir seolah sedang berlari kencang, meninggalkan mereka berdua yang masih tertatih di garis start kehidupan nyata. Hari kelulusan yang seharusnya menjadi babak baru yang membahagiakan, justru berubah menjadi awal dari sebuah perpisahan yang menyesakkan dada.
❖ ❖ ❖
Waktu berjalan begitu kejam, berdetik jauh lebih cepat dari biasanya. Selepas sesi foto bersama dosen dan rekan seangkatan, Fathan dan Nisa memutuskan untuk langsung bergegas menuju stasiun. Mereka memilih menggunakan kereta commuter line agar terhindar dari kemacetan Jakarta yang terkenal kejam di jam-jam siang menuju sore. Di dalam gerbong kereta yang padat, mereka berdiri berhimpitan di antara para penumpang lain. Tidak banyak percakapan yang tercipta; tangan mereka saling bertaut erat di balik pegangan besi, seolah menyalurkan sisa-sisa kekuatan terakhir sebelum badai perpisahan benar-benar menghantam.
"Lu yakin mau nganterin gue sampe stasiun Gambir, Fath? Mendingan lu istirahat aja di kosan, badan lu juga pasti pegal-pegal kan seharian pakai toga?" tanya Nisa di tengah deru suara roda besi kereta yang bergesekan dengan rel.
Fathan menggeleng tegas, matanya menatap lurus ke depan. "Ngomong apa sih lu, Nis? Mana mungkin gue biarin lu pergi sendirian di hari kayak gini. Udah, diem aja, nikmati detik-detik terakhir kita di kota ini."
Nisa hanya bisa menghela napas, menyandarkan kepalanya sejenak di bahu Fathan. Aroma parfum bercampur keringat dan udara AC kereta berpadu menjadi memori sensorik yang kelak akan sangat dirindukan oleh keduanya. Setibanya di Stasiun Gambir, suasana riuh langsung menyambut. Para calon penumpang lalu-lalang menyeret koper besar, sementara pengeras suara terus menerus mengumumkan jadwal keberangkatan kereta antarkota.
Mereka berdua duduk di salah satu bangku tunggu peron, menatap deretan rangkaian kereta eksekutif yang terparkir anggun di jalur rel. Waktu keberangkatan tinggal tersisa setengah jam lagi.
"Fath, lu dengerin gue ya," Nisa memecah keheningan, memegang kedua tangan Fathan dengan erat. "Hubungan kita ini... bakal masuk fase yang berat banget. Jarak Jakarta-Purwokerto itu nggak dekat. Belum lagi tekanan dari keluarga gue."
"Gue tau, Nis," sahut Fathan cepat. "Tapi lu jangan ngomong seolah-olah kita bakal putus sekarang. Kita kan masih bisa LDR. Handphone aktif 24 jam, video call bisa kapan aja."
"LDR itu gampang diomongin, Fath, tapi susah banget dijalanin," sangkal Nisa dengan mata berkaca-kaca. "Apalagi kalau di sana nanti Bapak bakal terus-terusan jodohin gue sama anak rekan bisnisnya. Gue takut... gue takut ketahanan gue goyah."
"Hei, lu percaya sama gue kan?" Fathan menatap tajam ke dalam mata Nisa, meyakinkan perempuan itu dengan segenap jiwa raganya. "Selama lu nggak nyerah, gue nggak akan pernah mundur sejengkal pun. Gue bakal kerja keras di Jakarta, ngumpulin modal, terus nanti gue bakal datengin bapak lu secara jantan."
Nisa tersenyum getir, meskipun ada kehangatan yang merambat di dadanya mendengar ucapan penuh keyakinan dari kekasihnya itu. "Lu selalu tahu cara bikin gue tenang, Fath. Tapi dunia nyata nggak sesederhana itu."
"Biar dunia yang rumit, asalkan kita tetap satu tujuan, semuanya bakal baik-baik aja," balas Fathan lembut.
Pengeras suara stasiun tiba-tiba berdengking, mengumumkan bahwa kereta Argo Lawu tujuan Gambir - Purwokerto telah siap dinaiki dan para penumpang dipersilakan untuk bersiap. Jantung Fathan terasa berhenti berdetak sesaat. Pengumuman itu seperti lonceng kematian bagi kebersamaan mereka yang tersisa dalam hitungan menit.
Nisa berdiri dari duduknya, merapikan tas ransel yang menggantung di punggungnya. Tangannya yang satu lagi memegang erat tali koper berukuran sedang.
"Udah waktunya ya, Fath," bisik Nisa, suaranya parau menahan tangis yang mendesak keluar.