Titik Temu

Amrullah Ibrahim
Chapter #4

Layar Telepon dan Rindu yang Digital

Suara ketukan hujan di jendela kamar kosan Rani beradu dengan dengung pelan pendingin ruangan yang usang. Di atas meja kayu yang dipenuhi tumpukan kertas laporan keuangan, sebuah ponsel menyala terang, menampilkan wajah Dimas yang membingkai layar dalam format vertikal. Resolusi video call itu tidak pernah benar-benar sempurna; terkadang piksel wajah Dimas pecah menjadi kotak-kotak hijau buram ketika sinyal penyedia seluler mendadak anjlok. Namun, bagi Rani, layar berukuran lima inci itu adalah dunia paling nyata yang ia miliki saat ini.

"Eh, sayang, tunggu-tunggu, muka kamu tadi sempat nge-freeze mirip zombie," tawa Rani pecah, sebelah tangannya sibuk merapikan helaian rambut yang menutupi mata.

Dimas di ujung sana—yang sedang duduk di sudut ruang tamu apartemennya di kota yang berbeda, dikelilingi tumpukan buku teknik dan cangkir kopi dingin—ikut terkekeh. Suaranya terdengar sedikit terlambat sepersekian detik akibat jeda transmisi satelit. "Ah, masa? Padahal aku udah pasang senyum paling ganteng sedunia buat kamu. Sinyal emang suka nggak kerja sama kalau lagi kangen."

"Alasan klasik! Bilang aja pulsa internet kamu habis buat nonton bola semalem," balas Rani, bibirnya mengerucut pura-pura ngambek, meski matanya berbinar-binar hangat.

"Sumpah demi apa, demi kuota sebulan ke depan yang tinggal sisa pas-pasan, aku nggak nonton bola semalem. Demi Allah, aku ngerjain laporan revisi struktur beton sampai jam dua pagi, terus mikirin kamu," ucap Dimas dengan nada yang dibuat-buat serius, membuat Rani tergelak lagi.

Fase awal hubungan jarak jauh atau LDR ini memang memiliki candunya sendiri. Hubungan mereka baru berjalan tiga bulan sejak Dimas harus pindah tugas ke luar kota demi promosi jabatan yang sudah iaimpikan sejak lama. Pada minggu-minggu pertama kepindahannya, tangisan adalah menu wajib setiap kali sambungan telepon ditutup. Namun, seiring berjalannya waktu, mereka menemukan ritme baru. Teknologi, dengan segala macam aplikasi penyiaran video dan perpesanan instan, menjelma menjadi jembatan ajaib yang seolah-olah memangkas ratusan kilometer jarak geografis di antara mereka.

"Kamu tahu nggak, tadi sewaktu aku makan siang di kantin kantor, aku pesenin menu yang persis banget kayak yang biasa kita makan di warung pojok sebelah kampus dulu," cerita Rani sambil mendekatkan layar ponselnya ke arah piring siomay yang tinggal sisa bumbu kacang.

Dimas mendekatkan wajahnya ke layar, seolah-olah bisa mencium aroma makanan tersebut. "Ih, curang banget! Mana enak siomay kantin dibanding siomay abang-abang langganan kita? Bumbu kacangnya pasti encer kan?"

"Tahu aja kamu! Beneran encer kayak kuah sop. Nggak ada pedas-pedasnya sama sekali. Rasanya hambar, mirip banget kayak suasana kantin kalau nggak ada kamu yang usil ngambilin tahu goreng di piringku," ujar Rani, nada suaranya mendadak melunak, menyisakan keheningan kecil di antara deru angin malam yang menempel di kaca jendela.

Dimas menghela napas pelan dari balik layar. Sorot matanya berubah teduh. "Sabar ya, Sayang. Ini kan baru permulaan. Nanti kalau cuti aku cair bulan depan, aku langsung meluncur naik kereta paling pagi ke sana. Kita bakal maraton jalan-jalan seharian penuh sampai kamu pegel."

"Beneran ya? Awas kalau sampai batal lagi kayak bulan kemarin dengan alasan lembur mendadak. Aku bakal ngambek seminggu penuh dan nggak mau angkat telepon dari kamu," ancam Rani, meski ia tahu persis ia tidak akan pernah sanggup mendiamkan pria itu lebih dari dua jam.

"Iya, bawel. Sumpah demi apa pun, nggak bakal batal. Tiketnya udah aku bookmark di aplikasi, tinggal bayar nanti pas gajian," jawab Dimas meyakinkan.

Percakapan-percakapan seperti itu berulang nyaris setiap malam. Rasanya begitu manis, begitu intens, hingga terkadang membuat Rani lupa bahwa raga mereka terpisah oleh jarak yang amat nyata. Melalui layar telepon, mereka bisa membahas apa saja: dari gosip kantor Rani yang membosankan, keluh kesah Dimas tentang atasannya yang perfeksionis, hingga rencana masa depan pernikahan yang kelak akan mereka bangun bersama. Teknologi membuat semuanya terasa begitu dekat. Sentuhan virtual berupa emoji hati bertubi-tubi, panggilan video selama delapan jam tanpa putus saat tidur malam, hingga fitur screen sharing untuk menonton film bioskop secara bersamaan, menciptakan sebuah ilusi yang sangat meyakinkan.

Ilusi bahwa jarak bukanlah apa-apa. Ilusi bahwa cinta yang kuat mampu menembus ruang dan waktu tanpa hambatan berarti.

"Sayang, coba deh kamu angkat tangan kanan kamu ke layar," pinta Dimas tiba-tiba dengan senyum misterius.

Rani mengernyitkan dahi, bingung, namun tetap menuruti permintaannya. Ia mengangkat tangan kanannya dan menempelkan telapak tangannya tepat di atas permukaan kaca ponsel yang hangat akibat prosesor yang bekerja keras.

Dimas melakukan hal yang sama di ujung sana. Ia menempelkan telapak tangan kirinya ke layar ponselnya. Di mata Rani, melalui bingkai video tersebut, tangan mereka terlihat seolah-olah saling bersentuhan, dipisahkan oleh lapisan tipis kaca dan ribuan kilometer daratan.

"Nah, tuh kan, tersambung kan? Katanya LDR itu berat, buktinya tangan kita bisa saling pegang gini," kata Dimas dengan nada bercanda yang menenangkan.

Rani tersenyum tipis, namun di balik senyum itu, ada sebuah sengatan kecil yang tiba-tiba menusuk ulu hatinya. Ia menatap layar itu lekat-lekat. Telapak tangannya memang tampak menempel pada telapak tangan Dimas di layar, tetapi yang ia rasakan di dunia nyata hanyalah dinginnya permukaan kaca yang keras. Tidak ada kehangatan kulit. Tidak ada debar nadi yang bisa dirasakan secara langsung. Itu hanyalah pantulan cahaya, sekumpulan piksel warna yang diatur oleh kode-kode digital di dalam cip komputer.

Teknologi memang berhasil menciptakan pelarian yang indah dari rasa sepi. Namun, semakin sering Rani menggunakan pelarian itu, semakin ia menyadari bahwa layar telepon tidak pernah benar-benar bisa memeluk seseorang.

❖ ❖ ❖

Hari-hari berikutnya berjalan dalam lingkaran rutinitas digital yang sama. Bangun tidur, hal pertama yang Rani lakukan bukanlah meregangkan otot atau menghirup udara pagi di balkon, melainkan meraba sisi kasur yang kosong—sebuah kebiasaan refleks yang selalu berakhir dengan kekecewaan hampa—lalu langsung menyambar ponsel di nakas untuk mengecek pesan WhatsApp dari Dimas.

Pagi, Cantik. Jangan lupa sarapan ya, jangan telat lagi kayak kemarin.

Pesan singkat itu selalu berhasil mambuat sudut bibir Rani terangkat. Ia membalasnya dengan cepat, menyertakan stiker kucing lucu yang sedang melambaikan tangan. Namun, seiring berjalannya hari, kebiasaan menatap layar ini mulai menunjukkan sisi retaknya. Suatu sore di kantor, ketika Rani sedang sibuk merekap data keuangan yang rumit, ponselnya bergetar hebat di atas meja. Sebuah panggilan video masuk dari Dimas.

Rani mengangkatnya dengan sebelah tangan sementara tangan kanannya masih mengetik angka-angka di kibor komputer. "Halo, Sayang? Ada apa? Aku lagi agak repot nih, laporan bulanan mau dikumpul jam empat sore."

"Kamu tuh ya, kalau ditelepon bukannya fokus ngobrol malah sibuk sendiri sama komputernu," protes Dimas dari seberang layar, suaranya terdengar sedikit teredam karena ia sepertinya sedang berada di kedai kopi yang cukup bising. "Aku cuma mau pamer nih, aku baru saja ketemu klien penting buat proyek baru perusahaan."

"Iya, bagus banget, Sayang. Selamat ya buat kamu," jawab Rani setengah hati, matanya masih menatap layar monitor komputer yang memuat sel-sel excel berwarna putih menyilaukan. "Udah dulu ya, bosku lagi jalan ke arah meja nih."

"Eh, sebentar dulu, Ran! Kamu tuh ya..."

Klik.

Rani memutus sambungan secara sepihak demi menghindari omelan atasannya yang terkenal galak. Ia menghela napas panjang, memijat batang hidungnya yang terasa pegal. Namun, begitu pekerjaannya selesai dan ia kembali menatap ponsel untuk mengirim pesan permohonan maaf, ia mendapati balasan dari Dimas yang bernada dingin.

Yaudah, sibuk terus aja. Giliran aku mau cerita pas lagi senggang malah dimatiin.

Rani tertegun membaca kalimat singkat itu. Ada rasa bersalah yang langsung mencuat di dadanya, namun di sisi lain, ada rasa lelah yang teramat sangat. Ia ingin sekali merespons dengan penjelasan panjang, tetapi jemarinya terasa berat di atas layar sentuh. Di sinilah letak titik jepit pertama dalam hubungan jarak jauh mereka mulai menjepit ruang napas Rani.

Komunikasi yang diandalkan sebagai penyelamat hubungan perlahan-lahan berubah menjadi medan ranjau. Ketika jarak memisahkan, setiap kata yang diketik kehilangan intonasi aslinya. Sebuah kalimat candaan bisa disalahartikan menjadi sindiran tajam. Sebuah keterlambatan membalas pesan selama sepuluh menit bisa memicu kecurigaan yang tidak beralasan. Teknologi yang tadinya diagung-agungkan sebagai pemersatu jarak, kini justru memperbesar setiap kesalahpahaman kecil menjadi masalah besar yang melelahkan.

Malam harinya, mereka mencoba memperbaiki keadaan melalui sambungan telepon suara.

"Gue tuh cuma capek, Dim. Seharian di kantor ngurusin angka-angka, pas giliran istirahat pengennya tenang, malah ributin hal sepele kayak tadi," keluh Rani dengan nada lelah.

Dimas menghela napas berat di ujung sana. "Lu kira gue nggak capek apa, Ran? Gue di sini kerja banting tulang juga buat siapa kalau bukan buat masa depan kita? Lu malah gampang banget mutusin telepon gitu aja kayak nggak menghargai gue."

"Bukannya nggak menghargai, Tuhan! Gue lagi buru-buru, lu ngertiin dikit dong posisi gue!" balas Rani, suaranya mulai meninggi, menembus batas ruang suara ponsel.

"Lu tuh ya, dari dulu emang egois! Selalu mikirin diri sendiri!" seru Dimas, nadanya ikut tersulut emosi.

Lihat selengkapnya