Matahari ibu kota belum sepenuhnya menampakkan wujudnya ketika Fathan sudah terjaga dari tidurnya yang singkat. Kamar petak berukuran tiga kali tiga meter di sebuah gang sempit kawasan Palmerah itu terasa begitu pengap. Suara bising kendaraan bermotor dari jalan raya besar sudah mulai merayap masuk, beradu dengan suara tetangga sebelah yang mulai menyalakan mesin pompa air. Di atas meja kayu lapuk yang merangkap sebagai meja kerja sekaligus meja makan, secangkir kopi hitam instan mengepulkan uap tipis. Fathan meneguknya pelan, membiarkan kepahitan cairan itu mengusir sisa-sisa kantuk yang masih menggelayuti pelupuk matanya. Hidup di Jakarta tidak pernah memberinya ruang untuk bersantai terlalu lama. Setiap detik yang berlalu adalah biaya, dan setiap rupiah yang keluar harus dipertimbangkan dengan matang.
Ia meraih ponselnya yang tergeletak di samping bantal. Layar benda persegi itu menyala, menampilkan sebuah pesan singkat dari Nisa yang dikirimkan tadi malam sebelum tidur. Pesan sederhana berisi doa dan pengingat agar ia tidak lupa makan. Fathan tersenyum kecil, sebuah senyuman tulus yang selalu berhasil menjadivitamin penawar lelah di tengah kerasnya tekanan hidup perantauan. Hubungan mereka yang terjalin jarak jauh—antara Jakarta dan kota kecil tempat asal mereka—menuntut ketulusan dan keyakinan tingkat tinggi. Nisa di sana sedang berjuang dengan dunianya, sementara Fathan di sini sedang mempertaruhkan seluruh masa depan mereka berdua di atas beton-beton dingin ibu kota.
"Pagi, Fan. Udah bangun belum? Jangan lupa sarapan ya, jangan telat maag kambuh lagi," ucap suara Nisa melalui pesan suara singkat yang ia putar berulang kali.
Fathan mengetik balasan cepat sebelum bersiap berangkat. "Udah bangun dari tadi, Nis. Ini lagi siap-siap mau jalan ke stasiun. Kamu juga jaga kesehatan ya di sana."
Rutinitas Fathan berjalan dengan presisi mesin pabrik. Pukul enam pagi ia sudah keluar dari kamar kos, berjalan kaki menyusuri lorong-lorong gang yang padat penduduk, berdesakan dengan ibu-ibu pedagang sayur dan para pekerja pabrik yang bernasib serupa. Tujuan utamanya adalah stasiun kereta rel listrik terdekat. Di dalam gerbong yang sesak, Fathan berdiri berhimpitan, menjepit tas ranselnya erat-erat di depan dada. Tidak ada ruang untuk pikiran melayang; pikirannya hanya terfokus pada satu hal: bagaimana menyelesaikan pekerjaannya hari ini dengan sempurna dan memastikan tidak ada satu sen pun pengeluaran bocor untuk hal-hal yang tidak penting.
"Geser dikit dong, Mas, ini masih bisa masuk," kata seorang penumpang wanita berkaus oranye dengan logat Betawi yang kental sambil menyenggol bahu Fathan.
"Iya, Bu, sebentar, ini saya juga udah mentok ke pintu," jawab Fathan ramah sambil mencoba merapatkan diri ke dinding gerbong.
"Makanya, kalau jam segini tuh emang lautan manusia, Fan. Lu baru nyadar apa gimana?" sapa Toni, rekan sekantor Fathan yang tak sengaja berdiri tepat di depannya di dalam gerbong yang padat.
Fathan tertawa pelan. "Bukannya baru nyadar, Ton, tapi tiap hari rasanya kayak mau copot ini badan. Padahal baru hari Selasa."
"Yaelah, baru selasa udah lemes aja lu. Namanya juga cari duit di Jakarta, kalau nggak desak-desakan, kapan kayanya?" balas Toni terbahak, mengabaikan tatapan jengkel dari penumpang lain yang terganggu oleh suara tawanya.
Setibanya di gedung kantor swasta tempatnya bekerja sebagai staf administrasi gudang logistik, Fathan langsung mengenakan rompi keselamatan berwarna hijau neon. Hari-harinya dihabiskan di dalam gudang yang luas, berdebu, dan bising oleh suara forklift yang lalu-lalang mengangkat kardus-kardus besar berisi barang inventaris. Tidak ada kemewahan AC sentral di area kerjanya; yang ada hanyalah kipas angin besar berkarat yang berputar lesu di sudut ruangan, gagal mengusir hawa gerah yang menguar dari seng atap gudang.
"Fathan, ini data inventaris yang kemarin udah diinput belum? Jangan sampe ada yang kelewat kayak minggu lalu ya," tegur Pak Joko, kepala bagian logistik, dengan suara beratnya yang selalu bernada interogasi.
"Udah beres, Pak. Ini lembar verifikasinya saya taruh di atas meja ya, lengkap sama catatan barang yang rusak kemarin," jawab Fathan tenang sambil menyerahkan map biru.
"Bagus. Kerja lu cepet juga ya, Fan. Jarang-jarang ada anak muda betah di gudang begini, kebanyakan pada songong minta pindah ke ruangan AC," puji Pak Joko sambil menepuk bahu Fathan sekilas sebelum berlalu.
Bagi Fathan, pujian bukanlah alasan untuk berpuas diri. Ia kembali ke meja sudutnya, menyalakan komputer tua berlayar cembung, dan melanjutkan pekerjaannya memilah angka-angka spreadsheet yang melelahkan. Matanya menatap layar monitor selama berjam-jam, sementara tangannya dengan lincah menari di atas kibor komputer. Di sela-sela kesibukan itu, pikirannya sering kali melayang jauh. Ia membayangkan sebuah rumah kecil sederhana di pinggiran kota, taman kecil di halaman depan, dan Nisa yang menyambutnya pulang kerja dengan senyuman hangat. Anggapan bahwa kerja keras ini adalah investasi masa depan membuatnya sanggup bertahan di tengah kesunyian batin yang kerap melanda.
❖ ❖ ❖
Siang hari di gudang logistik membawa gelombang kelelahan yang berbeda. Udara di dalam ruangan terasa semakin pekat dan menyesakkan. Fathan baru saja selesai mengangkat puluhan kardus berat berisi komponen elektronik bersama dua pekerja lapangan lainnya. Keringat bercucuran deras membasahi kemeja putihnya yang kini tampak kusam dan bernoda debu. Napasnya memburu, sementara otot-otot lengannya terasa seperti mau copot akibat beban berlebih yang harus ia pikul demi mengejar tambahan lembur sore hari.
Toni mendekatinya sambil membawa dua botol air mineral dingin yang baru saja dibelinya dari warung sebelah. Ia melemparkan salah satu botol ke arah Fathan yang langsung menangkapnya dengan sigap.
"Nih, minum dulu, Fan. Muka lu pucet amat kayak mayat hidup. Jangan terlalu diforsir, bos besar juga nggak bakal ngehargai lu mati di sini," ujar Toni memperingatkan sambil duduk di atas tumpukan pallet kayu kosong.
Fathan membuka tutup botol dan meneguk air dingin itu dengan rakus. Kesegaran air tersebut terasa membasahi kerongkongannya yang kering. "Bukannya diforsir, Ton. Tapi kalau gue nggak ambil lemburan dua jam ini, target tabungan buat bulan depan bakal meleset jauh dari perhitungan," ucap Fathan dengan suara serak.
"Lu tuh ya, hidup kok perhitungan banget kayak kasir minimarket. Sekali-kali melipir kek malem Minggu, nongkrong ngopi di pinggir jalan bareng anak-anak. Biar otak lu nggak konslet," timpal Toni menggelengkan kepala.
"Bukannya nggak mau nongkrong, Ton. Tapi gue punya tujuan yang jelas. Setiap lembar uang yang gue kumpulin di celengan digital itu punya nama; ada bata buat dinding, ada genteng buat atap, ada cincin buat..." Fathan menghentikan kalimatnya, menyadari ia hampir terlalu terbuka pada temannya itu.
"Cincin buat siapa tuh? Ciee... yang diem-diem menghanyutkan. Jadi bener nih lu mau merit tahun depan sama si Nisa?" selidik Toni dengan mata menyipit penuh selidik dan senyum usil tersungging di bibirnya.
"Udah deh, nggak usah ngaco lu," jawab Fathan salah tingkah sambil merapikan tumpukan kertas laporan di depannya.
"Yaelah, malu-malu kucing lagi si bos. Lagian wajar, Fan, lu kerja banting tulang siang malem kalau emang buat masa depan sama doi. Cuman ya itu, jangan lupa kalau badan lu juga butuh istirahat. Nanti kalau lu sakit, biaya berobat di Jakarta malah lebih mahal daripada gaji lu sebulan," nasihat Toni dengan nada yang sedikit melunak, menunjukkan sisi peduli di balik gaya bicaranya yang ceplas-ceplos.
Percakapan mereka terpotong ketika suara pengeras suara dari kantor administrasi memanggil nama Fathan untuk menghadap ke ruangan manajer keuangan. Fathan mengerutkan kening. Panggilan mendadak di jam istirahat siang jarang membawa berita baik di perusahaan tempatnya bekerja. Dengan langkah pasti namun menyimpan debar cemas di dada, ia meninggalkan area gudang dan berjalan menuju lantai dua gedung kantor utama yang ber-AC dingin.
Di dalam ruangan berukuran sedang itu, Bu Rina, sang manajer keuangan, duduk di balik meja kerja yang rapi. Di depannya terbentang lembaran laporan keuangan bulanan yang penuh dengan coretan tinta merah.