Titik Temu

Amrullah Ibrahim
Chapter #6

Celah yang Tak Terlihat Komunikasi mulai retak

Aroma kopi instan yang diseduh dari termos mini di sudut meja kantor kini telah menggantikan wangi kertas perpustakaan tua yang dulu begitu akrab bagi Fathan. Jam di dinding baru menunjukkan angka sembilan malam, tetapi kesunyian ruang kerja divisi arsitektur itu terasa begitu pekat. Di hadapannya, layar monitor menampilkan puluhan lapis blueprint gedung komersial yang harus selesai direvisi sebelum rapat pleno esok pagi. Matanya perih, punggungnya kaku, namun tangannya terus bergerak lincah di atas papan ketik.

Ponsel di sebelah tumpukan sketsa bergetar singkat. Sebuah notifikasi pesan masuk dari Nisa terpampang di layar yang menyala redup. Fathan meraihnya dengan sebelah tangan, sementara matanya tetap mengawasi kursor di layar komputer.

Fathan mendengus pelan, lalu mengetik balasan singkat sambil menatap layar monitor.

Percakapan singkat itu berakhir begitu saja, tanpa kehangatan yang biasa menyelimuti hari-hari awal masa kuliah mereka. Dulu, setiap pesan adalah gerbang menuju obrolan panjang tentang puisi, makna arsitektur kehidupan, dan impian-impian naif masa muda. Sekarang, pesan-pesan mereka telah menyusut menjadi laporan cuaca emosional: sekadar informasi singkat tentang keberadaan masing-masing tanpa ada keterlibatan batin yang nyata.

Hubungan yang dulu dibina di atas fondasi keyakinan bahwa mereka adalah belahan jiwa kini mulai dimasuki angin malam yang dingin. Fathan sibuk dengan ambisinya membuktikan diri di dunia konstruksi yang keras, sementara Nisa tenggelam dalam pusaran deadline penerbitan buku dan rapat redaksi yang menguras energi mentalnya. Mereka berada di ruangan yang sama dalam peta kota Jakarta, tetapi hidup di zona waktu emosional yang benar-benar berbeda.

"Fan, ini hasil revisi struktur beton bagian sayap barat udah lu kirim ke kontraktor?" tanya Rudi, rekan sekantor Fathan, sambil membawa segelas air mineral mendekati meja kerjanya.

Fathan mengalihkan pandangannya dari layar, mengusap wajahnya yang kasar karena sisa-sisa janggut yang belum sempat dicukur. "Belum, Rud. Bentar lagi gue selesein. Sebentar lagi beres kok."

"Wah, gila sih lu, kerja mulu. Enggak takut dicuekin pacar emang? Kemarin gue liat lu nge-chat sambil senyum-senyum sendiri, tapi mukanya capek banget," ledek Rudi sambil tertawa kecil.

Fathan hanya tersenyum tipis, sebuah senyum hambar yang menyembunyikan kenyataan pahit di baliknya. "Pacar gue juga lagi sibuk banget, Rud. Sama-sama lagi merintis karier. Kalau enggak gitu, kapan lagi?"

"Iya sih, emang Jakarta kejam kalau urusan cari duit. Tapi awet-awet ya, bro. Jangan sampai gara-gara sibuk kerja, lu malah kehilangan orang yang paling penting di hidup lu," pesan Rudi menepuk bahu Fathan sebelum kembali ke mejanya sendiri.

Kata-kata Rudi berputar-putar di kepala Fathan, meninggalkan rasa ngilu yang samar di ulu hatinya. Ia tahu hubungan mereka sedang tidak baik-baik saja, tetapi ia memilih untuk menutup mata, menganggap semua kerepotan ini hanyalah fase transisi menuju masa depan yang mapan. Namun, celah-celah kecil yang tak terlihat itu perlahan mulai melebar, menunggu waktu yang tepat untuk meruntuhkan segalanya.

❖ ❖ ❖

Di belahan kota yang lain, Nisa menatap layar laptopnya dengan pandangan kosong. Dokumen naskah setebal tiga ratus halaman berkedip-kedip di hadapannya, namun pikirannya melayang entah ke mana. Suasana apartemen studio sewanya yang sempit terasa begitu sunyi, hanya diisi oleh suara dengungan AC tua yang menempel di dinding.

Ponselnya tergeletak di atas meja tanpa ada tanda-tanda kehidupan. Tidak ada panggilan masuk, tidak ada pesan baru dari Fathan. Jam dinding menunjukkan pukul sepuluh malam lewat lima belas menit.

"Dih, tumben banget belum ngabarin. Katanya tadi mau balik jam sembilan," gumam Nisa seorang diri, rasa cemas perlahan merayap di dadanya.

Ia membuka aplikasi percakapan, mengetik sebuah kalimat pendek, lalu menghapusnya kembali. Ia tidak ingin terlihat terlalu menuntut atau rewel di saat Fathan sedang berjuang dengan kariernya. Nisa tahu betul bagaimana rasanya ditekan oleh tenggat waktu kantor; ia mengalaminya setiap hari. Namun, rasanya ada yang salah ketika kelelahan itu justru menjadi tembok pemisah di antara mereka berdua.

Buzzz. Ponselnya akhirnya bergetar. Dengan penuh harap, Nisa langsung menyambar benda pipih tersebut.

Nisa menarik napas panjang, menatap layar dengan rasa hampa yang sulit dijelaskan. Pesan itu terasa begitu mekanis, ditulis oleh seorang pria yang menjalankan kewajiban alih-alih merindukan kekasihnya.

Percakapan itu ditutup begitu saja. Tidak ada kata sayang, tidak ada sapaan hangat yang dulu selalu menghiasi malam-malam mereka. Nisa meletakkan kembali ponselnya ke atas meja, memeluk kedua lututnya di atas sofa kecil. Ada jarak emosional yang terbentang begitu lebar, sebuah celah tak terlihat yang membuat mereka berdua merasa sendirian meski berada dalam satu hubungan kasih.

"Lu kemana sih, Fan? Kita kan pacaran, tapi kok rasanya kaya orang asing yang kebetulan nyewa apartemen di kota yang sama," bisik Nisa lirih pada diri sendiri, sementara butir air mata tanpa sadar menetes membasahi pipinya yang lelah.

❖ ❖ ❖

Akhir pekan yang seharusnya menjadi waktu bagi pasangan muda untuk menghabiskan waktu bersama justru berubah menjadi ajang pelarian dari kenyataan. Fathan memilih untuk mengambil pekerjaan tambahan survei lapangan di hari Sabtu, sementara Nisa memutuskan untuk menghadiri acara bedah buku di salah satu pusat perbelanjaan di kawasan Senayan.

Mereka akhirnya sepakat untuk bertemu sebentar di sebuah kedai kopi di dalam mal tempat Nisa bekerja, meski waktu yang mereka miliki sangat terbatas.

Fathan datang dengan mengenakan kemeja kasual yang sudah sedikit kusut, membawa tas ransel besar berisi gulungan kertas gambar. Ia melangkah masuk ke dalam kedai kopi yang dipenuhi oleh pengunjung akhir pekan yang bising. Matanya langsung menangkap sosok Nisa yang sedang duduk di sudut ruangan, menatap cangkir teh hangat di depannya dengan tatapan kosong.

"Hai, Nis. Sori telat, tadi macet parah di jalan tol," sapa Fathan sambil menarik kursi dan duduk di hadapan Nisa.

Nisa mendongak, tersenyum tipis sekadarnya. "Iya, enggak apa-apa, Fan. Jakarta kan emang selalu macet kalau weekend. Mau pesen apa? Biar gue panggil pelayannya."

"Gak usah, gue cukup es americano aja yang dingin biar melek," jawab Fathan, merogoh saku celananya untuk mengambil tisu dan mengelap keringat di dahinya. "Lu gimana kabarnya? Buku antologi cerpen lu yang kemarin gimana penjualannya? Lancar kan?"

"Lancar, puji Tuhan cetakan pertama udah hampir habis," jawab Nisa datar, mengaduk tehnya pelan tanpa menyentuh mata Fathan. "Lu sendiri gimana proyek cagar budaya di Kota Tua? Katanya ada masalah sama fondasi bangunan lamanya ya?"

"Ah, iya tuh. Kontraktornya bandel banget, dikasih tahu dari awal malah ngeyel pakai bahan yang gak sesuai spesifikasi. Bikin pusing kepala aja," keluh Fathan, langsung masuk ke dalam dunianya sendiri tanpa menyadari nada suara Nisa yang mulai menunjukkan kejenuhan.

Lihat selengkapnya