Matahari sore di ibu kota meredup perlahan, menyisakan bias jingga pucat yang menembus kaca jendela kamar kos Fathan yang sempit. Ruangan itu terasa pengap, dipenuhi oleh aroma kopi instan yang sudah dingin sejak beberapa jam lalu di atas meja kayu. Fathan duduk bersila di atas kasur lipatnya, punggungnya menyandar kaku pada dinding kamar yang catnya mulai mengelupas. Di hadapannya, sebuah benda persegi pipih menyala terang, memancarkan cahaya biru dingin yang menyorot langsung ke wajahnya yang tampak lelah. Layar ponsel itu menampilkan ruang obrolan dengan Nisa, sebuah garis penanda aktif yang tidak lagi bergerak, seolah membeku di tengah jalan.
Sudah lebih dari enam jam Fathan menatap layar tersebut tanpa berkedip sedikit pun. Setiap kali dering kecil atau getaran sekecil apa pun tercipta dari benda lain, napasnya sempat tercekat karena mengira itu adalah balasan dari Lampung. Namun, harapan itu selalu pupus seketika begitu ia melihat bahwa notifikasi tersebut hanyalah pesan promosi aplikasi belanja atau grup kantor yang sama sekali tidak penting. Waktu seakan berhenti berputar, terjebak dalam sebuah lingkaran penantian yang menyiksa batin. Detik demi detik berlalu terasa begitu lambat, menyeret jarum jam dinding ke angka yang semakin malam, sementara kebisuan di dalam kamar terasa semakin pekat dan menyesakkan dada.
"Gila, ini beneran gak ada balasan sama sekali? Parah banget," gumam Fathan pelan, suaranya terdengar serak memecah keheningan ruangan yang sunyi.
Ia mencoba meletakkan ponselnya telungkup di atas kasur, berharap dengan tidak melihatnya, rasa cemas di dalam dadanya bisa sedikit mereda. Namun, baru dua menit berlalu, tangannya sudah kembali meraih benda tersebut. Rasa penasaran yang bercampur takut bergolak hebat di dalam kepalanya, menciptakan badai pikiran yang membuatnya tidak bisa fokus melakukan hal lain. Ia teringat pertengkaran kecil via pesan teks semalam, di mana ia merespons keluhan Nisa dengan nada dingin akibat kelelahan bekerja. Fathan tahu ia salah, tetapi gengsinya sebagai seorang lelaki yang sedang berjuang di tanah rantau sering kali membuatnya terlambat untuk sekadar meminta maaf secara tulus.
"Lu emang bego, Fan. Kenapa kemarin harus pake nada ketus segala sih?" maki Fathan pada dirinya sendiri, jemarinya mengetik lalu menghapus kembali sebuah kalimat permohonan maaf di layar ponselnya.
Kebisuan ini terasa jauh lebih menyiksa daripada sebuah teriakan atau amarah yang meluap-luap. Ketika seseorang marah, setidaknya ada reaksi yang bisa dibalas, ada argumen yang bisa diperdebatkan untuk mencari jalan keluar. Namun, ketika yang didapat hanyalah kebisuan total, ruang hampa itu mendadak menjadi hakim paling kejam yang menghakimi setiap kesalahan masa lalu. Fathan merebahkan tubuhnya telentang menatap langit-langit kamar yang kosong, membiarkan pikirannya melayang jauh kembali ke masa-masa indah ketika mereka masih bisa tertawa bersama tanpa beban jarak dan waktu yang memisahkan.
❖ ❖ ❖
Jam di dinding kini menunjukkan pukul sembilan malam, tetapi kantuk sama sekali tidak mendatangi kelopak mata Fathan. Ia bangkit dari posisinya, berjalan mondar-mandir di dalam kamar kos yang hanya berukuran tiga kali tiga meter itu. Langkah kakinya berderit pelan di atas lantai keramik yang dingin. Setiap sudut ruangan itu seolah menyimpan kenangan tentang betapa beratnya ia bertahan hidup demi mewujudkan janji masa muda yang pernah diikrarkan di bawah pohon mahoni. Bayangan wajah Nisa yang kecewa terus berkelebat di dalam benaknya, menghadirkan rasa bersalah yang kian menumpuk dan menekan ulu hatinya.
"Capek banget sumpah, pala gue puyeng mikirin ginian terus tiap malem," keluhnya sambil memijit pelipisnya yang berdenyut kencang.
Ia kembali duduk di tepi kasur, meraih secangkir air putih hangat untuk membasahi tenggorokannya yang terasa kering. Ponsel di sampingnya kembali menyala kala sebuah panggilan masuk terpampang di layar. Jantung Fathan langsung berdegup kencang, matanya melebar penuh harap. Namun, begitu ia membaca nama yang tertera, harapan itu berubah menjadi kekecewaan yang getir. Bukan Nisa, melainkan ibunya dari kampung halaman yang menanyakan kabar mingguan. Fathan menarik napas dalam-dalam, mencoba menetralkan suaranya agar terdengar riang sebelum menekan tombol hijau penerima panggilan.
"Halo, Ma? Iya, Fathan baik-baik aja kok di Jakarta. Kerjaan lancar," ucap Fathan berbohong demi tidak membuat orang tuanya khawatir di rumah.
"Alhamdulillah kalau lancar, Nak. Jangan lupa istirahat, jangan terlalu memorsikan diri buat cari uang terus. Oh iya, kemarin Nisa sempat nanya ke Ibu, katanya kamu jarang ngabarin dia ya belakangan ini?" suara lembut sang ibu di seberang telepon langsung menusuk tepat ke jantung Fathan.
Fathan terdiam sejenak, menelan ludahnya yang terasa kelat. "Ah, nggak kok, Ma. Cuma lagi sama-sama sibuk aja urusan pekerjaan."
"Ya udah, kalau ada masalah itu diselesaikan baik-baik. Komunikasi itu penting dalam hubungan jarak jauh, jangan sampai ego kalian berdua malah merusak apa yang udah dibangun lama," nasihat ibunya dengan bijak sebelum akhirnya menutup sambungan telepon tersebut.