Titik Temu

Amrullah Ibrahim
Chapter #8

Kotak Beludru Biru

Jakarta selalu punya cara untuk menyesakkan napas, tapi sore ini, angin yang berembus di sepanjang jalan protokol terasa berbeda. Fathan berdiri di depan etalase sebuah toko perhiasan mewah di kawasan Senayan. Napasnya memburu pelan, matanya terkunci pada sebuah kotak beludru biru tua yang terletak di barisan tengah. Itu adalah targetnya. Sudah dua tahun ia mengabaikan ajakan nongkrong teman-temannya, rela tidur hanya tiga jam sehari, dan melakukan pekerjaan lepas demi menumpuk rupiah demi rupiah di rekening tabungannya. Ia ingat setiap tetes keringat yang jatuh, setiap malam yang ia habiskan di depan layar komputer demi mengejar target deadline yang tidak masuk akal, dan setiap keraguan yang ia tepis hanya demi membayangkan hari ini.

"Mas, yang itu boleh saya liat?" suara Fathan sedikit bergetar saat ia menunjuk kotak beludru biru itu kepada pramuniaga.

Pramuniaga itu tersenyum profesional, mengeluarkan kotak kecil tersebut dengan sangat hati-hati. Saat kotak itu dibuka, kilau berlian kecil di tengah lingkaran emas putih memantul indah di mata Fathan. Cantik. Sederhana, namun memiliki bobot emosional yang jauh lebih berat dari emas itu sendiri. Ia bisa membayangkan jari manis Nisa dihiasi oleh lingkaran indah ini. Sebuah pengikat, sebuah janji, sebuah simbol kesetiaan yang ia perjuangkan mati-matian di tengah godaan kehidupan keras Jakarta.

"Ini berlian kualitas terbaik ya, Mas. Cocok banget buat lamaran," ujar pramuniaga itu ramah.

Fathan mengangguk kaku. Ia merogoh saku celananya, merasakan tumpukan uang yang sudah ia siapkan. Baginya, ini bukan sekadar perhiasan. Ini adalah simbol kemenangan. Setelah dua tahun bergelut dengan jarak yang memisahkan Jakarta dan Purwokerto—sebuah jarak yang dulu ia pikir mustahil untuk dikalahkan—ia akhirnya sampai di titik ini. Ia telah membuktikan bahwa ia mampu. Ia mampu bekerja keras, ia mampu menabung, dan ia mampu menjaga janji meski jarak terus-menerus menguji komitmen mereka setiap detiknya.

"Gue ambil yang ini, Mbak," ujar Fathan mantap.

Ia menyerahkan kartu debitnya. Saat mesin EDC berbunyi 'trak-trak-trak' dan struk keluar, Fathan merasa seolah ada beban besar yang terangkat dari pundaknya.

"Makasih banyak ya, Mas. Semoga lancar niat baiknya," ucap pramuniaga itu saat menyerahkan tas belanja kecil berisi kotak biru tersebut.

Keluar dari toko, Fathan memegang erat tas itu. Ia membayangkan wajah Nisa saat melihat cincin ini. Gadis itu pasti akan menangis bahagia. Mereka sudah melalui masa-masa tersulit, di mana rindu hanya bisa tersalurkan lewat layar ponsel retak dan suara yang terputus-putus karena sinyal yang buruk. "Akhirnya, Nis. Kita menang," bisik Fathan pada dirinya sendiri.

Ia mengeluarkan ponsel, mengetik pesan pada Nisa yang kini sudah bekerja di sebuah instansi di kampung halamannya. “Nis, hari ini hari paling bersejarah buat gue. Gue punya sesuatu yang bakal bikin lu senyum lebar. Nanti malem bisa video call?”

Fathan berjalan menuju parkiran motor. Di atas motor bututnya, ia menaruh kotak itu di dalam jaket agar aman. Jakarta sore itu tampak lebih bersahabat. Lampu-lampu kota mulai menyala, seolah merayakan keberhasilan kecil yang ia capai. Fathan membayangkan masa depan: ia akan melamar Nisa, lalu membawanya kembali ke Jakarta untuk memulai hidup baru. Ia tak peduli lagi dengan cibiran orang atau restu orang tua yang dulu begitu alot. Baginya, ia sudah cukup mapan sekarang. Ia sudah punya tabungan, ia sudah punya pekerjaan tetap. Jarak tidak akan lagi menjadi alasan untuk memisahkan mereka.

Saat ia menembus kemacetan, ia terus berpikir tentang bagaimana ia akan merangkai kata-kata saat nanti bertemu Nisa. Haruskah ia langsung melamar lewat video call, atau ia harus pulang ke Purwokerto minggu depan? Pikiran itu terus berputar, memberikan adrenalin yang menyenangkan. Ia merasa seperti seorang pemenang yang baru saja memenangkan perang besar. Ia merasa bahwa dunia akhirnya berpihak padanya, dan ia siap menyambutnya dengan tangan terbuka. Ia tak sadar bahwa takdir seringkali memiliki rencana yang jauh lebih rumit daripada yang ia bayangkan di dalam kepalanya sendiri.

❖ ❖ ❖

Sesampainya di kamar kos yang sempit, Fathan langsung meletakkan kotak beludru itu di atas meja belajar. Ia menatapnya cukup lama. Cincin itu berkilau tertimpa lampu neon kamar yang berkedip-kedip. Tiba-tiba, ponselnya bergetar. Sebuah notifikasi pesan muncul.

“Fath, maaf banget, gue lagi banyak kerjaan di kantor. Kayaknya nggak bisa VC malam ini. Besok aja ya?”

Fathan menghela napas panjang, mencoba menekan kekecewaan yang menyeruak. "Elah, sibuk mulu perasaan. Tapi ya sudahlah, mungkin emang lagi numpuk kerjaannya," gumam Fathan sambil membaringkan badan.

Ia mencoba untuk tetap positif. Bukankah dua tahun ini ia sudah terbiasa dengan penolakan-penolakan kecil seperti ini? Jarak memang membuat mereka jauh, tapi komunikasi seharusnya bisa tetap terjaga. Namun, belakangan ini, ia merasa ada sesuatu yang janggal dalam cara Nisa membalas pesannya. Terasa lebih formal, lebih kaku. Fathan menyingkirkan pikiran buruk itu. Ia menatap kembali kotak beludru biru itu. "Cincin ini jawabannya," pikirnya. "Begitu dia lihat ini, semuanya bakal balik kayak dulu lagi."

Ia bangkit, mencoba merapikan barang-barang di kamarnya yang berantakan. Ia ingin semuanya terlihat sempurna saat ia akhirnya melamar Nisa nanti. Ia bahkan sudah memikirkan tempat untuk melamar: di stasiun tempat dulu mereka berpisah, tempat di mana semuanya dimulai.

"Pokoknya harus spesial," ucapnya lagi, kali ini lebih yakin. Ia memutar lagu kesukaan mereka berdua, mencoba menenangkan debar jantungnya yang masih kencang karena kegembiraan. Namun, jauh di lubuk hatinya, ada rasa takut yang samar, seperti awan mendung yang menunggu di balik langit cerah. Apa yang akan dilakukan Nisa jika melihat cincin itu? Apakah dia akan menerima, ataukah jarak benar-benar telah mengubah segalanya?

❖ ❖ ❖

Keesokan harinya, Fathan tidak bisa fokus bekerja. Pikirannya terus melayang ke arah kotak biru di kamarnya. Saat jam istirahat tiba, ia memutuskan untuk menelepon Nisa kembali. Kali ini ia tidak akan bertanya tentang pekerjaan, ia akan langsung menanyakan hal yang lebih serius.

"Halo, Nis? Lu lagi apa?" tanya Fathan begitu sambungan tersambung.

"Eh, Fath. Gue lagi di kantin, baru mau makan siang," suara Nisa terdengar samar dengan kebisingan di sekitarnya. "Kenapa, Fath? Ada yang penting banget?"

"Iya, Nis. Penting banget. Gue... gue punya sesuatu buat lu. Bisa kita video call nanti malem? Please, lu harus luangin waktu."

Lihat selengkapnya