Udara sore di kawasan Setiabudi terasa begitu ramah, memantulkan bias cahaya keemasan dari gedung-gedung tinggi yang mulai menyalakan lampu fasad mereka. Di dalam sebuah kafe minimalis beraroma biji kopi Flores yang kuat, Fathan duduk gelisah di kursi sudut. Di hadapannya, sebuah kotak kecil berbalut velour hitam tergeletak manis di samping cangkir espresso yang sudah mendingin. Di dalam kotak beludru itu, sebuah cincin bermata berlian kecil berkilauan, memantulkan cahaya lampu gantung kafe dengan anggun. Fathan tidak henti-hentinya tersenyum sendiri, membuat pelayan kafe yang melintas tadi sempat meliriknya penuh tanya.
"Sumpah ya, kali ini rencana gue bakal jalan mulus banget tanpa ada hambatan," gumam Fathan pelan sambil merapikan kerah kemeja flanelnya yang sudah ia setrika sebanyak tiga kali siang tadi.
Ponsel di atas meja bergetar singkat, menampilkan nama Nisa di layar. Fathan langsung menyambar ponsel itu dengan gerakan kilat, seolah takut panggilan itu keburu terputus.
"Halo, Sayang! Lo lagi di mana sekarang? Jangan bilang masih di kubikel kantor ya," sapa Fathan penuh semangat, suaranya hampir melengking saking gembiranya.
Di ujung seberang sana, tawa renyah Nisa terdengar membahana, diiringi suara bising kertas dan deru pendingin ruangan kantor. "Ih, santai dong, Bro! Gue masih di meja kerja nih, baru banget nutup laptop. Kenapa sih, lu nelpon gaya banget kayak orang mau ngelamar kerjaan aja?"
Fathan terkekeh renyah, berusaha menyembunyikan degupan jantungnya yang bergemuruh hebat tidak karuan. "Emang mau ngelamar sih, tapi bukan lamar kerjaan. Udah, buruan deh lo beresin tas, terus cabut ke sini. Gue udah pesenin meja favorit kita di sudut kafe."
"Yaelah, sabar dikit napa, Bos! Kerjaan kantor gue numpuk banget nih gara-gara si Bu Rini minta revisi laporan anggaran mendadak. Setengah jam lagi deh ya baru gue meluncur ke stasiun," jawab Nisa dengan nada manja yang selalu berhasil membuat Fathan merasa seperti pria paling beruntung di dunia.
"Oke, oke, gue tungguin ya. Awas jangan pake ngaret kayak kemarin-kemarin, atau cincin yang gue siapin buat suapin elu nanti malah gue telen sendiri," ancam Fathan bercanda.
"Ih, apaan sih bawa-bawa cincin segala! Jangan bikin penasaran deh, emangnya ada apaan sih hari ini? Perasaan ulang tahun gue kan masih bulan depan," balas Nisa, nada suaranya terdengar penasaran.
"Udah, dateng aja dulu makanya. Pokoknya lu bakal kaget setengah mati," tandas Fathan sebelum akhirnya menutup sambungan telepon dengan senyum yang belum juga luntur dari wajahnya.
Fathan menyandarkan punggungnya ke sofa, menarik napas dalam-dalam lalu menghembuskannya perlahan untuk meredakan gemuruh di dadanya. Rencana pertemuan hari ini bukanlah pertemuan biasa. Setelah hampir enam bulan mereka menjalani hubungan jarak jauh karena Nisa harus pindah tugas ke Bandung demi urusan proyek kantor, Fathan sudah membulatkan tekadnya. Ia tidak sanggup lagi menghitung hari hanya melalui layar ponsel berukuran lima inci yang sering kali pecah pikselnya. Ia ingin mengakhiri jarak ini dengan sebuah kepastian mutlak.
Skenario lamaran itu sudah ia susun sedemikian rupa di dalam kepalanya selama berminggu-minggu. Ia membayangkan bagaimana Nisa akan mendorong pintu kafe dengan napas tersengal-sengal karena terburu-buru, lalu terkejut melihat meja yang dipenuhi bunga tulip putih—bunga kesukaan Nisa. Ketika Nisa duduk, Fathan akan berpura-pura mengambilkan tisu, lalu berlutut di lantai kafe sambil membuka kotak velour hitam tersebut. Ia bahkan sudah menyiapkan kalimat-kalimat manis yang ia hafalkan semalaman di depan cermin kamar kosnya.
"Gue bakal bikin hari ini jadi momen paling gila seumur hidup kita," ucap Fathan pada dirinya sendiri, membayangkan betapa bahagianya Nisa nanti hingga meneteskan air mata haru.
Kegembiraan Fathan benar-benar berada di puncaknya. Setiap detik yang berlalu terasa begitu lambat karena ia tidak sabar ingin segera melihat wajah kekasihnya itu secara langsung, bukan lagi melalui tangkapan kamera web yang kaku. Ia memesan segelas minuman tambahan, merapikan letak kotak cincin di saku jaketnya, dan terus memandangi pintu masuk kafe setiap kali bel kecil di atas pintu berbunyi menyambut pengunjung yang datang.
❖ ❖ ❖
Waktu menunjukkan pukul tujuh malam lewat lima belas menit. Keramaian kafe mulai berangsur-angsur padat, dipenuhi oleh para pekerja kantoran yang ingin melepas penat sepulang beraktivitas. Fathan melirik jam tangan digitalnya untuk kesekian kalinya. Alisnya mulai bertaut membentuk garis tipis. Seharusnya Nisa sudah tiba di stasiun sejak sepuluh menit yang lalu jika ia naik kereta cepat seperti biasa.
Ia mengambil ponselnya kembali, lalu mengetik pesan singkat cepat ke WhatsApp Nisa.
Sayang, lu udah di mana? Gue udah nunggu setengah jam nih di kafe. (Fathan, 19:18)
Lima menit berlalu. Pesan itu hanya centang dua abu-abu, belum berubah menjadi biru. Fathan mulai merasa sedikit gelisah, namun ia masih mencoba berpikiran positif. Mungkin baterai ponsel Nisa habis, atau mungkin sinyal di dalam gerbong kereta sedang buruk seperti biasanya.
Ia memutuskan untuk menelepon langsung. Tut... tut... Panggilan tersambung, namun tidak ada respons di ujung sana hingga operator seluler otomatis memutus sambungan.
"Duh, ni anak kebiasaan banget kalau ditelepon malah di-silent," gerutu Fathan pelan, jemarinya mengetuk-ngetuk permukaan meja kayu kafe dengan tidak sabar.
Titik jepit pertama mulai merayap masuk ke dalam kebahagiaan yang tadinya meluap-luap. Rasa cemas perlahan-lahan menggeser antusiasme tinggi yang memenuhi dada Fathan sejak sore tadi. Ia tahu betul kebiasaan Nisa yang terkadang ceroboh, namun Nisa tidak pernah sekalipun mengabaikan panggilannya tanpa alasan yang jelas, apalagi di hari penting yang sudah mereka rencanakan bersama jauh-jauh hari.
Ponsel Fathan akhirnya bergetar hebat. Dengan gerakan cepat, ia langsung mengangkatnya tanpa melihat nama penelepon.
"Nis! Lu ke mana aja sih? Bikin gue jantungan aja!" semprot Fathan setengah panik begitu sambungan terhubung.
"Ehm, halo? Fathan ya?" suara seorang wanita terdengar dari seberang sana, bukan suara Nisa.
Fathan tertegun sejenak, keningnya mengernyit bingung. "Eh? Iya, saya Fathan. Ini siapa ya? Kok handphone Nisa ada di ibu?"
"Duh, Mas Fathan, ini saya Siska, rekan sekantor Nisa," jawab suara di seberang dengan nada yang terdengar buru-buru dan cemas. "Nisa tadi pingsan di ruang arsip kantor pas mau beres-beres pulang."
Dunia Fathan seolah mendadak berhenti berputar. Suara bising di dalam kafe seketika lenyap dari pendengarannya, digantikan oleh dengung tajam yang menusuk telinga. Cangkir espresso di hadapannya mendadak terasa begitu jauh, sementara kotak velour berisi cincin di saku jaketnya tiba-tiba terasa sangat berat, bagaikan balok timah yang menekan dadanya.
"Pingsan...?" suara Fathan tercekat di tenggorokan, napasnya mendadak terasa pendek. "Maksud Ibu apa, Siska? Nisa pingsan gimana? Dia baik-baik kan?"
"Tadi dia maksain lembur, Mas, terus kecapekan parah karena beberapa hari ini kurang tidur dan jarang makan bener. Tadi pas mau berdiri, badannya langsung ambruk. Ini kami lagi siap-siap bawa dia ke klinik terdekat pakai taksi online," jelaskan Siska cepat.