Titik Temu

Amrullah Ibrahim
Chapter #10

Retaknya Komunikasi

Malam minggu di ibu kota tidak pernah benar-benar sunyi. Dari luar jendela kamar kos Fathan yang sempit di kawasan Palmerah, suara knalpot brong, klakson kendaraan yang bersahut-sahutan, dan deru bising lalu lintas berpadu menjadi satu simfoni kekalutan yang memekakkan telinga. Fathan duduk bersila di atas lantai keramik yang dingin, menatap layar ponsel pintarnya yang menyala terang di tengah temaram lampu kamar. Jarinya terdiam di atas papan tik virtual, ragu-ragu untuk mengetik balasan atas pesan singkat yang baru saja masuk dari Nisa beberapa menit yang lalu. Pesan itu singkat, tetapi telak menghujam ulu hatinya: “Kamu tuh makin lama makin sibuk, Fan. Kapan sih sebenarnya ada waktu buat aku? Capek tahu digantungin begini terus.”

Fathan menghela napas panjang, membiarkan udara berat keluar dari rongga dadanya. Kepenatan bekerja selama sepekan penuh di gudang logistik masih melekat di sekujur tubuhnya. Punggungnya terasa remuk redam setelah seharian harus mengangkat ratusan kardus berat tanpa henti, mengejar target bonus bulanan demi masa depan hubungan mereka berdua. Namun, alih-alih mendapatkan sambutan hangat atau sekadar ucapan terima kasih atas kerja kerasnya, ia justru dihadapkan pada protes yang sudah berulang kali mereka perdebatkan.

Ia mendengus pelan, lalu memutuskan untuk menelepon Nisa langsung agar kesalahpahaman ini tidak semakin melebar. Jari-jarinya dengan cepat mencari kontak sang kekasih dan menekan tombol panggil hijau. Sambungan itu berdering beberapa kali sebelum akhirnya diangkat di seberang sana.

"Halo, Nis," sapa Fathan dengan nada suara yang sengaja dilembutkan, meski lelah sangat jelas terpancar dari kerongkongannya.

"Halo, Fan. Tumben ditelepon, biasanya juga baru ngechat tengah malem kalau udah kelar lembur," jawab Nisa dari seberang sambungan. Suaranya terdengar dingin dan ketus, jauh berbeda dari biasanya yang selalu riang menyambut kepulangannya.

"Tadi aku baru beres mandi, Nis. Emang sengaja telepon karena mau bahas pesan kamu tadi. Kamu kenapa lagi sih? Jangan mulai deh, aku baru aja lepas dari kerjaan yang bikin stres seharian di gudang," kata Fathan, mulai terpancing nada defensifnya.

"Stres? Emang cuma kamu doang yang stres di Jakarta sana? Aku di sini juga capek, Fan! Tiap hari ngadepin tekanan kerjaan, terus malemnya sendirian di kamar kos. Giliran butuh ditemenin ngobrol atau sekadar didengerin, pacar sendiri malah sibuk mikirin target tabungan mulu!" semprot Nisa, suaranya mulai meninggi di ujung telepon.

"Ya Tuhan, Nis, aku nyari uang di sini buat siapa lagi kalau bukan buat modal nikah kita tahun depan? Kalau aku nggak kerja keras dan ngambil lemburan, kapan kita punya tabungan cukup buat resepsi dan cicilan rumah?" Fathan ikut meninggikan suaranya, rasa lelah fisiknya kini berpadu sempurna dengan emosi yang membara di dalam dada.

"Bukan masalah uangnya, Fathan! Emang dasar kamu tuh nggak peka!" Nisa memotong dengan nada penuh kekecewaan.

❖ ❖ ❖

Perdebatan melalui sambungan telepon itu kian memanas, berubah menjadi arena saling lempar argumen yang tak berkesudahan. Jarak ratusan kilometer yang memisahkan Jakarta dan kota asal mereka seolah mendadak merenggang, memperlebar jurang komunikasi di antara keduanya. Fathan merasa apa yang dilakukannya sudah sangat maksimal, sementara Nisa merasa pengorbanannya selama ini diabaikan begitu saja demi ambisi finansial semata.

"Elu tuh ya, giliran ditegor malah sewot. Emang dasar cowok Jakarta, makin lama makin belagu!" seru Nisa menggunakan logat yang sedikit tertekan emosi.

"Lah, kok jadi bawa-bawa gaya hidup Jakarta sih, Nis? Jelas-jelas gue banting tulang di sini demi masa depan kita berdua. Elu di sana malah nggak mau ngertiin posisi gue yang lagi berjuang mati-matian!" balas Fathan dengan nada tinggi, tak mau kalah.

"Berjuang, berjuang mulu alesannya! Capek gue denger kata-kata itu terus tiap kali kita berantem," ucap Nisa dengan suara yang mulai bergetar, menyiratkan tangis yang tertahan di balik amarahnya. "Yang gue butuhin tuh bukan cuma uang tabungan di rekening digital kamu, Fan! Yang gue butuhin itu kehadiran fisik kamu di sini. Temenin gue jalan pas akhir pekan, duduk bareng ngobrol tanpa harus dibatesin layar HP, dan meluk gue pas gue lagi capek!"

Fathan terdiam sejenak. Kalimat itu menohok ulu hatinya, namun ego yang terlanjur membuncah membuatnya enggan mengalah begitu saja. Ia mengusap wajahnya yang kasar dengan tangan kiri, mencoba meredam gejolak amarah yang mendesak naik ke kepalanya.

"Nis, sadar dong. Kita tuh lagi LDR. Jarak kita jauh, ongkos transportasi bolak-balik itu nggak murah. Kalau tiap bulan gue harus mudik cuma buat nemenin kamu jalan-jalan weekend doang, tabungan kita bakal ludes sebelum sempat kekumpul!" Fathan mencoba menjelaskan dengan suara yang sedikit ditekan agar tidak berteriak di dalam kamar kosnya yang berdinding tipis.

"Tuh kan, lu selalu aja ngitungin duit! Lu lebih milih uang tabungan itu ketimbang perasaan gue!" balas Nisa sengit.

"Bukannya ngitungin duit, Nis, tapi logis aja! Emang lu mau nanti pas udah nikah kita malah numpang hidup di garasi mertua gara-gara uang resepsi kurang? Mikir dong pakai logika!" Fathan membentak tanpa sadar.

Sambungan telepon mendadak terhening. Di seberang sana, Nisa tidak langsung menjawab. Hanya terdengar suara napasnya yang memburu dan isakan kecil yang tertahan. Suasana hening itu justru membuat Fathan merasa bersalah, namun gengsinya terlalu besar untuk langsung meminta maaf.

Lihat selengkapnya