Titik Temu

Amrullah Ibrahim
Chapter #11

Pesan yang Mengubah Semesta

Hujan gerimis kembali turun membasahi kaca jendela ruang kerja Fathan di lantai dua puluh lima, mengingatkannya pada hari pertama ia berjumpa dengan Nisa di perpustakaan tua kampus bertahun-tahun silam. Meskipun waktu telah berjalan dan kariernya sebagai arsitek utama di firma swasta ternama telah mapan, bayang-bayang masa lalu itu tidak pernah sepenuhnya enyah dari kepalanya. Hubungan mereka memang telah resmi berakhir setelah perpisahan menyedihkan di perpustakaan lama, namun sisa-sisa kenangan manis itu masih sering menyelinap di sela-sela kesibukannya yang padat.

Suatu malam menjelang pukul sepuluh, Fathan duduk sendirian di meja kerjanya yang luas. Lampu ruangan dimatikan, menyisakan pijar kekuningan dari lampu meja baca dan kilau lampu kota Jakarta yang membentang luas di luar jendela besar. Ia baru saja merampungkan revisi desain akhir untuk sebuah proyek bangunan komersial di kawasan Menteng. Punggungnya terasa kaku, matanya perih, dan secangkir kopi hitam di samping laptopnya sudah lama mendingin tanpa sempat disentuh.

Ponsel di atas meja tiba-tiba bergetar nyaring, memecah kesunyian malam yang pekat. Fathan meraih benda pipih tersebut dengan sebelah tangan, menduga itu adalah pesan dari rekan kerjanya atau klien yang meminta revisi mendadak. Namun, begitu layar menyala, nama pengirim pesan itu membuat detak jantungnya berhenti seketika.

Pesan itu datang dari Nisa.

Seketika itu juga, udara di dalam ruangan terasa menipis. Fathan menatap layar ponselnya berulang-ulang, seolah ia salah membaca nama atau isi pesan tersebut. Jemarinya mendadak dingin, sekujur tubuhnya kaku, dan dunia di sekitarnya seolah runtuh tanpa suara dalam satu kalimat singkat yang tertera jelas di layar:

Fan, maaf banget baru ngabarin. Tapi orang tuaku kemarin baru saja mutusin buat menjodohkanku dengan anak tetangga sebelah rumah. Semuanya terjadi cepat banget, dan aku enggak punya kuasa buat nolak.

Fathan tertegun. Kalimat itu membunuh setiap tarikan napasnya. Pesan singkat tersebut bukan sekadar pemberitahuan biasa; itu adalah palu godam raksasa yang menghantam sisa-sisa benteng pertahanan emosional yang selama ini ia bangun dengan susah payah. Penjodohan? Di era modern seperti ini, kata itu terdengar begitu asing, namun kenyataannya menghantam Fathan dengan telak dan menyakitkan.

"Bohong... Ini pasti cuma mimpi buruk," bisik Fathan lirih pada dinding ruang kerjanya yang kosong.

Ia membaca pesan itu sekali lagi, lalu sekali lagi, hingga setiap hurufnya terasa menusuk matanya. Selama ini, alasan terbesar mereka berpisah adalah perbedaan jalur karier, kelelahan mental, dan zona waktu emosional yang tidak sejalan. Fathan selalu meyakini bahwa suatu saat nanti, jika mereka berdua telah dewasa dan menemukan kembali versi terbaik dari diri masing-masing, takdir mungkin akan memberi mereka kesempatan kedua. Namun, gagasan tentang kesempatan kedua itu kini hancur berkeping-keping, direnggut oleh tradisi keluarga dan keputusan sepihak orang tua Nisa.

Ingatannya melompat kembali ke masa-masa indah di perpustakaan kampus. Betapa mereka pernah berjanji untuk merajut masa depan bersama, menertawakan dunia yang naif, dan meyakini bahwa cinta sejati mampu mengalahkan apa pun. Dan sekarang, semua janji suci itu dikalahkan begitu saja oleh seorang tetangga sebelah rumah yang bahkan tidak pernah dikenal Fathan.

Rasa sesak yang luar biasa membuncah di dadanya. Fathan meletakkan ponselnya kasar ke atas meja, berdiri dengan tergesa-gesa, hingga kursi kerjanya terdorong mundur dan membentur dinding dengan bunyi debuman yang cukup keras. Ia merasa kehilangan pijakan. Dunianya yang selama ini ditata rapi di atas prinsip logika arsitektural dan ketepatan struktur runtuh seketika, menyisakan puing-puing kepedihan yang teramat sangat.

❖ ❖ ❖

Tanpa pikir panjang, Fathan menyambar jaket kulitnya di atas sofa, mengambil kunci mobil, dan bergegas meninggalkan ruang kerjanya. Lift malam itu terasa bergerak begitu lambat, seolah sengaja mempermainkan kepanikan yang sedang membakar sekujur tubuhnya. Begitu pintu lantai dasar terbuka, ia berlari kecil menuju area parkir basement di tengah rintikan hujan yang mulai lebat.

Di dalam mobil, tangannya yang gemetar mencoba menyalakan mesin. Ia tidak peduli lagi pada jam istirahat atau tumpukan dokumen proyek yang harus diserahkan besok pagi. Yang ada di dalam kepalanya hanya satu: ia harus mendengar langsung penjelasan dari Nisa. Kalimat di layar ponsel itu terlalu kejam untuk diterima begitu saja tanpa konfirmasi langsung.

Ia menekan pedal gas dalam-dalam, membelah jalanan ibu lintas ibu kota yang mulai sepi di tengah malam. Sepanjang perjalanan, Fathan mencoba menghubungi nomor telepon Nisa berulang-ulang kali.

Sambungan terhubung, namun tidak ada jawaban.

"Angkat, Nis. Tolong angkat teleponnya," gumam Fathan penuh frustrasi sambil terus menyetir dengan kecepatan tinggi, air matanya mulai menggenang di pelupuk mata, mengaburkan pandangan lampu-lampu jalanan kota Jakarta yang basah.

Setelah panggilan kelima, akhirnya suara lembut namun terdengar sangat lelah menyapa dari ujung sambungan.

"Halo, Fan... Kenapa malem-malem nelpon?" suara Nisa terdengar parau, seolah ia baru saja menangis lama di kamarnya.

Fathan mencengkeram setir mobilnya dengan buku-buku jari yang memutih. "Nis, lu serius sama pesan yang lu kirim tadi? Lu becanda kan? Ini gak mungkin!"

Di ujung sana, Nisa menarik napas panjang yang terdengar begitu berat. "Gue enggak lagi becanda, Fan. Semuanya bener. Kemarin keluarga tetangga datang buat melamar secara resmi, dan ibu sama bapak langsung nerima tanpa minta persetujuan gue dulu."

"Kenapa lu enggak nolak, Nis?!" suara Fathan meninggi, nyaris berteriak di dalam kabin mobilnya yang sempit. "Lu bukan anak kecil lagi! Lu punya hak atas hidup lu sendiri!"

"Lu pikir gue enggak nolak, Fan?!" balas Nisa dengan nada suara yang ikut bergetar, pertahanan emosionalnya runtuh seketika. "Gue udah nangis-nangis di depan ibu, gue udah jelasin kalau gue punya prinsip sendiri soal masa depan gue! Tapi ibu nangis, Fan... Beliau bilang utang budi keluarga kita ke keluarga mereka udah terlalu banyak. Ini satu-satunya cara gue buat bales budi orang tua gue."

Fathan tertegun mendengar jawaban itu. Alasan klasik yang begitu kuno, namun sangat mematikan. Ikatan keluarga, utang budi, dan tekanan sosial di lingkungan rumah Nisa ternyata jauh lebih kuat daripada kenangan indah dan cinta masa muda yang pernah mereka bangun bersama.

"Tapi kita udah janji, Nis... Kita udah lewatin semuanya," ucap Fathan lirih, suaranya kini melemah, menyisakan kepedihan yang mendalam.

"Janji masa lalu itu udah kedaluwarsa, Fan," jawab Nisa terisak pelan di ujung telepon. "Takdir kita ternyata bukan buat bersatu. Tolong... jangan bikin ini jadi semakin berat buat gue."

Sambungan telepon itu terputus sepihak. Fathan menatap layar ponselnya yang kembali gelap dengan tatapan kosong. Mobilnya berhenti di lampu merah yang kosong, sementara air mata akhirnya tumpah membasahi pipinya. Titik jepit pertama ini menghimpit dadanya dengan begitu kuat, merenggut sisa-sisa harapan terakhir yang selama ini ia simpan rapat-rapat di dalam hatinya.

❖ ❖ ❖

Lihat selengkapnya