Deru mesin kereta api kelas ekonomi jurusan Jakarta-Merak berdengung konstan, menciptakan getaran halus yang menjalar hingga ke tulang punggung Fathan. Di luar jendela kereta, pemandangan kota perlahan-lahan berubah dari gugusan beton pencakar langit ibu kota menjadi deretan rumah petak kumuh, lalu berganti hamparan sawah hijau yang mulai menguning di batas cakrawala. Fathan duduk di kursi sisi jendela, menatap kosong pada bayangan wajahnya sendiri yang terpampang samar pada kaca kereta yang berdebu. Di dalam tas ransel lusuhnya, tersimpan sebuah tiket kereta lanjutan dan satu kotak kecil berisi oleh-oleh khas Jakarta yang ia beli khusus untuk Nisa. Hari ini seharusnya menjadi hari di mana ia menepati janjinya untuk datang langsung ke Lampung, mengetuk pintu rumah Nisa, dan memeluk perempuan itu setelah sekian lama terpisah oleh jarak.
Namun, di dalam dadanya, ada beban tak kasat mata yang terasa jauh lebih berat ketimbang ransel yang ia pangku. Telepon selulernya di dalam saku jaket bergetar pelan. Sebuah pesan singkat dari Nisa masuk, terpampang di layar utama sebelum Fathan sempat membukanya secara penuh.
"Fan, lu beneran jadi ke sini kan? Jangan php lagi ya, gue tunggu di rumah," begitu bunyi pesan dari Nisa, singkat namun menyiratkan kerinduan sekaligus ketakutan yang sudah bertumpuk-tumpuk lamanya.
Fathan menarik napas panjang, meraba saku jaketnya dengan tangan yang terasa dingin. Ia tahu Nisa sedang menunggu dengan penuh harap di ujung pelabuhan sana. Hubungan mereka memang sempat membaik setelah malam penuh kebisuan beberapa waktu lalu, namun ketakutan internal di dalam diri Fathan tidak pernah benar-benar lenyap. Setiap kilometer yang ditempuh oleh roda besi kereta ini terasa seperti hitungan mundur menuju sebuah pengadilan akhir. Ia merasa dirinya dan Nisa sedang berdiri di atas rel kereta yang sama—menatap ke arah tujuan yang serupa di masa lalu—tetapi perlahan-lahan menyadari bahwa arah gerak batin mereka kini telah bergeser ke jalur yang saling menjauh.
"Lu yakin mau lanjut, Fan? Kalau nanti pas nyampe sana malah makin runyam gimana?" gumam Fathan pelan pada dirinya sendiri, suaranya tenggelam di antara deru bising gerbong kereta yang padat penumpang.
Seorang bapak paruh baya yang duduk di seberangnya, mengenakan kemeja flanel pudar dan topi oranye, melirik sekilas ke arah Fathan sambil merokok kretek di sambungan antar-gerbong sebelum kembali masuk. "Kenapa, Mas? Kusut amat mukanya. Mau pulang kampung apa mau ngelamar kerja?" tanya bapak itu ramah, mencoba mencairkan ketegangan di wajah Fathan.
Fathan tersenyum kaku, menggeleng pelan. "Mau nemuin pacar, Pak. LDR, udah lama nggak ketemu."
"Wah, anak muda. LDR itu ujian iman paling berat, Mas. Kalau nggak kuat di ongkos ya kuat di mental. Tapi yang penting niatnya tulus, insya Allah lancar," balas bapak itu sambil tertawa kecil, menepuk bahu Fathan sekilas sebelum kembali menikmati perjalanannya.
Kata-kata bapak itu justru menghunjam tajam ke dalam hati Fathan. Niat tulus memang ada, tetapi mentalnya sedang rapuh. Ia merasa belum cukup pantas untuk berdiri di hadapan keluarga Nisa sebagai seorang lelaki sukses seperti yang ia janjikan di bawah pohon mahoni lima tahun lalu. Keraguan itu terus merayap naik, menggerogoti setiap jengkal keyakinan yang susah payah ia bangun selama di Jakarta.
❖ ❖ ❖
Kereta akhirnya tiba di Stasiun Serang, sebuah kota persinggahan sebelum para penumpang melanjutkan perjalanan menuju Pelabuhan Merak untuk menyeberang ke Pulau Sumatra. Suasana peron stasiun tampak cukup sibuk dengan para pedagang asongan yang menawarkan berbagai makanan kemasan dan suara pengeras suara stasiun yang berdengung nyaring mengumumkan kedatangan kereta api lokal. Fathan berdiri dari tempat duduknya, menyandang ransel di pundak kanan, dan berjalan keluar gerbong bersama arus manusia yang turun. Udara kota Serang menyambutnya dengan sengatan terik matahari siang yang membakar kulit.
Ia melangkah menuju area tunggu luar stasiun, berniat mencari angkutan umum yang akan membawanya ke terminal bus menuju pelabuhan. Namun, langkah kakinya mendadak terhenti di dekat sebuah warung kopi sederhana beratap seng. Ponsel di tangannya bergetar hebat; panggilan masuk dari Nisa terpampang jelas di layar. Fathan menelan ludah, dadanya bergemuruh kencang. Dengan tangan sedikit gemetar, ia menggeser tombol hijau untuk menerima panggilan tersebut.
"Halo, Fan? Lu udah di mana? Ini udah jam berapa, kok belum ngabarin lagi kalau udah nyampe pelabuhan?" suara Nisa terdengar di seberang, bernada tidak sabar bercampur cemas.
Fathan memejamkan matanya sejenak, mencari kekuatan untuk berbicara jujur. "Nis... gue jujur ya. Gue sekarang baru sampe Serang, kota persinggahan sebelum ke Merak."
"Serang? Lah, dari tadi ngapain aja emang? Kenapa masih di Serang?" nada suara Nisa langsung meninggi, menyiratkan kekecewaan yang mendalam.
"Gue... gue lagi mikir-mikir ulang, Nis. Jujur, badan gue capek banget, terus pikiran gue lagi kalut soal kerjaan di Jakarta yang ditinggal begitu aja," alasan demi alasan meluncur dari mulut Fathan, meski ia tahu itu hanyalah bentuk kepanikan dirinya menghadapi kenyataan.