Titik Temu

Amrullah Ibrahim
Chapter #13

Cincin yang Kehilangan Tuannya

Malam itu, Stasiun Cikini terasa begitu lengang, menyisakan deru angin malam yang membawa debu jalanan ibu kota. Di bawah lampu peron yang temaram dan berkedip-kedip malas, Fathan berdiri mematung. Tangannya merogoh saku jaket kulitnya yang sudah mulai mengelupas, menggenggam sebuah benda kecil berlogam dingin. Fathan menatap cincin di sakunya di bawah lampu stasiun yang temaram. Ia tidak menangis, ia justru merasa mati rasa. Cincin itu tidak akan pernah berpindah tangan.

"Lu masih di sini, Than? Kirain udah jalan dari tadi," suara suara serak Derry memecah lamunan Fathan, datang sambil menenteng dua gelas kopi plastik dari minimarket stasiun.

Fathan menggeleng pelan, pandangannya tidak lepas dari permukaan rel kereta yang membentang kosong di depannya. "Belum, Der. Kaki gua kayak berat banget buat melangkah keluar dari area stasiun ini. Kayak ada yang nahan."

Derry menghela napas panjang, lalu menyodorkan salah satu gelas kopi hangat ke hadapan sahabatnya itu. "Udah, jangan dilawan terus rasa penasarannya. Kejadian sore tadi emang di luar nalar kita semua. Tapi hidup kan musti tetep jalan, bro."

"Gimana bisa jalan normal kalau beban di kepala gua rasanya mau pecah, Der?" balas Fathan dengan suara parau. Ia menerima kopi itu, namun tidak berniat meminumnya. "Cincin ini... benda ini saksi bisu dari semua janji yang dia ucapkan sebelum semuanya hancur berantakan."

Derry melirik sekilas ke arah saku jaket Fathan yang menggembung. "Lu yakin mau nyimpen itu terus? Maksud gua, barang bukti kayak gitu malah bikin lu makin susah move on dari bayang-bayang kejadian kemarin sore."

"Gua harus yakin, karena cuman benda ini satu-satunya hal nyata yang tersisa dari Diana," Fathan mendesis tajam. "Lu inget kan gimana antusiasnya dia waktu nunjukin cincin itu minggu lalu di kawasan Menteng? Dia bilang cincin itu bakal jadi simbol awal hidup baru kita."

Derry terdiam sejenak, mengingat kembali percakapan mereka beberapa hari lalu sebelum petaka itu merenggut segalanya. Suasana stasiun semakin malam semakin terasa sunyi, hanya ditemani suara gesekan angin dari kabel listrik lintas rel terpadu.

"Iya, gua inget banget," ucap Derry akhirnya dengan nada melunak. "Tapi takdir berkata lain, Than. Kadang rencana manusia emang gak ada apa-apanya kalau semesta udah berkehendak lain."

"Makanya gua merasa mati rasa sekarang, Der," Fathan menatap kosong ke arah kegelapan jalur rel. "Rasa sakitnya udah lewat batas maksimal, sampai-sampai hati gua gak sanggup lagi buat sekadar ngerasa sedih atau nangis."

❖ ❖ ❖

Kereta rel listrik terakhir melintas dengan kecepatan sedang, menciptakan terpaan angin kencang yang menerbangkan debu dan helaian rambut Fathan. Suara besi beradu dengan rel berderit nyaring, seolah menyanyikan melodi kepedihan yang dirasakan Fathan malam itu.

"Kereta terakhir udah lewat, Than. Kalau lu gak segera keluar, gerbang stasiun bakal dikunci petugas," ujar Derry sambil melirik jam tangan digitalnya yang menunjukkan pukul sebelas malam lebih.

Fathan mengabaikan peringatan itu. Ia justru mengeluarkan cincin perak berukir melati tersebut dari dalam sakunya, membiarkan pantulan cahaya lampu stasiun yang kuning redup menyentuh permukaan logamnya. "Lu liat ukiran ini, Der? Dia sendiri yang milih desain ini khusus buat hari pernikahan kita bulan depan."

Derry mengusap wajahnya dengan kedua tangan, merasa frustrasi melihat kondisi sahabatnya yang terjebak dalam lingkaran penyesalan. "Than, please deh. Jangan siksa diri lu kayak gini. Diana pasti gak bakal tenang di sana kalau liat lu hancur berantakan begini."

"Gimana gua bisa tenang, Der, kalau di detik-detik terakhir sebelum kecelakaan itu terjadi, gua malah sempet-sempetnya berantem sama dia gara-gara masalah sepele?" Fathan mengepalkan tangannya kuat-kuat hingga logam cincin itu menusuk telapak tangannya sendiri. Rasa sakit fisik itu tidak seberapa dibanding sesak di dadanya.

"Itu kan cuma salah paham, gak ada yang nyangka bakal kejadian musibah di jalan tol tol jorr kemarin," sanggah Derry dengan nada sabar. "Namanya juga orang mau nikah, pasti emosi gampang naik turun karena stres persiapan."

"Tapi pertengkaran terakhir itu yang jadi penyesalan seumur hidup gua, Der!" suara Fathan meninggi, memecah keheningan malam stasiun. "Kata-kata terakhir gua ke dia sebelum dia banting pintu mobil dan milih naik taksi online... itu kata-kata paling egois yang pernah gua ucapin."

Seorang petugas kebersihan stasiun berjalan melewati mereka sambil membawa sapu ijuk, melirik curiga ke arah dua pemuda yang masih nongkrong larut malam di peron. Derry segera memberi gestur meminta maaf kepada petugas itu.

"Udah, kecilin suara lu, diliatin bapaknya tuh," bisik Derry memperingatkan. "Intinya sekarang lu musti hadapi kenyataan. Diana udah gak ada, dan cincin itu sekarang jadi tanggung jawab moral lu."

❖ ❖ ❖

Suasana semakin senyap ketika petugas stasiun mematikan sebagian besar lampu peron, menyisakan pencahayaan remang-remang yang menciptakan bayangan panjang di lantai keramik. Fathan dan Derry memutuskan untuk bergeser duduk di bangku panjang besi yang terletak di dekat loket tiket.

"Lu inget gak waktu kita bertiga nongkrong di Senopati sebulan lalu?" Fathan membuka percakapan kembali, suaranya kini melunak, terdengar begitu lelah. "Diana ketawa kenceng banget pas lu cerita soal pengalaman konyol lu waktu PDKT sama anak kantor."

Lihat selengkapnya