Titik Temu

Amrullah Ibrahim
Chapter #14

Menutup Pintu, Mengunci Hati

Suara deru mesin bus malam yang melaju kencang di atas jalan tol trans-Jawa terdengar monoton, berpadu dengan dengung angin malam yang menghantam kaca jendela. Di kursi deretan tengah, Fathan duduk termenung dengan pandangan kosong menatap ke luar jendela yang gelap gulita. Kota Bandung dengan segala kenangan manis dan rumah sakit tempat mereka sempat merajut asa kini telah tertinggal jauh di belakang, melebur bersama pekatnya malam. Di dalam ransel kumal yang ia dekap erat di dadanya, tersimpan sebuah kotak velour hitam kecil—kotak yang sama yang beberapa hari lalu nyaris menjadi saksi bisu lamaran paling emosional dalam hidupnya, kini berubah menjadi benda mati yang terasa sangat berat untuk dibawa pulang.

"Udah sampai mana nih, Bang?" tanya kondektur bus dengan suara serak, mencolek bahu Fathan pelan untuk memeriksa tiket perjalanan.

Fathan mengerjap beberapa kali, mencoba menarik kesadarannya dari lamunan panjang yang melelahkan. "Ah, iya, Pak. Kurang lebih setengah jam lagi mungkin sampai terminal Jakarta ya?"

"Iya, sebentar lagi masuk tol Jakarta. Siapin barang-barangnya ya biar nggak ketinggalan," jawab sang kondektur ramah sebelum berlalu menyusuri lorong bus yang remang-remang.

Fathan menghela napas panjang, menghembuskan udara lelah dari dadanya. Hubungan yang ia bangun dengan Nisa selama berbulan-bulan, yang diuji oleh jarak ratusan kilometer, layar telepon genggam, hingga air mata di ruang rawat inap, akhirnya harus menemui babak akhir yang paling sunyi. Keputusan itu diambil bukan karena kebencian yang mendalam, melainkan karena kelelahan yang sudah melampaui batas kewarasan emosional mereka berdua. Setelah pertikaian panjang dan air mata terakhir yang tumpah sebelum kepulangannya, mereka sepakat untuk berhenti menyiksa diri di dalam ilusi hubungan jarak jauh yang kian hari kian merapuhkan jiwa.

Setibanya di Jakarta menjelang subuh, suasana ibu kota menyambutnya dengan kabut tipis dan udara dingin yang menusuk tulang. Fathan berjalan seorang diri keluar dari area terminal menuju pangkalan taksi online. Tidak ada lagi pesan singkat dari Nisa yang menanyakan apakah ia sudah sampai dengan selamat. Tidak ada lagi panggilan video pagi hari yang menjadi alarm alami pengantar aktivitasnya. Yang ada hanyalah keheningan absolut yang merayap di setiap langkah kakinya.

Sesampainya di kamar kosannya yang sempit di kawasan Setiabudi, suasana terasa jauh lebih asing dari biasanya. Tumpukan kertas kerja, cangkir kopi bekas kemarin lusa, dan kalender meja yang masih melingkari tanggal rencana pertemuannya tempo hari menyambut kedatangannya dengan bisu.

Fathan melempar ranselnya begitu saja ke atas kasur, lalu berdiri mematung di tengah ruangan. Ia menatap sekeliling kamarnya, melihat berbagai memorabilia yang berserakan: foto-foto polaroid mereka saat berlibur di pantai tahun lalu, mug berpasangan dengan tulisan inisial nama mereka, hingga tumpukan surat cinta dan tiket bioskop tua yang disimpan rapi di dalam kotak kaleng bekas biskuit.

"Udah cukup. Semuanya udah selesai," gumam Fathan pelan pada dinding kamarnya yang kosong.

Ia tahu, jika ia terus memelihara kenangan-kenangan itu, ia tidak akan pernah bisa bernapas dengan lega di kota ini. Kenangan itu tidak lagi menjadi sumber kekuatan, melainkan racun perlahan yang menggerogoti kewarasannya setiap kali ia melihat sudut-sudut ruangan tempat mereka dulu sering menghabiskan waktu bersama via sambungan video.

❖ ❖ ❖

Pagi itu, matahari terbit tanpa menyisakan kehangatan apa pun di dada Fathan. Begitu jam dinding menunjukkan pukul tujuh pagi, ia langsung bergerak cepat tanpa keraguan. Ia mengambil sebuah kardus mi instan kosong dari sudut lemari, lalu mulai mengumpulkan semua benda yang berhubungan dengan Nisa.

Satu per satu memorabilia itu ia masukkan ke dalam kardus dengan gerakan mekanis yang dingin. Foto polaroid dibuang begitu saja tanpa memandang senyuman lebar yang terukir di sana. Mug berpasangan ia banting pelan ke dalam kardus hingga pecah berkeping-keping. Kotak kaleng berisi surat dan tiket bioskop diseret kasar dari atas meja.

"Fathan, lu waras nggak sih? Main banting-banting barang pagi-pagi gini tetangga sebelah bisa protes lho!" seru Budi, teman sekantor sekaligus tetangga kamar kos sebelah, yang tiba-tiba membuka pintu kamar Fathan yang tidak terkunci rapat.

Fathan mendongak sejenak, menatap Budi dengan sorot mata yang datar, tanpa ekspresi, mirip sorot mata robot yang tidak memiliki nyawa. "Gue lagi bersih-bersih, Bud. Biar kamar gue nggak kelihatan kayak gudang rongsokan."

Budi mengerutkan dahi, memperhatikan kardus penuh memorabilia dan pecahan keramik di lantai dengan tatapan heran. "Bersih-bersih apaan kalau mukanya kayak mayat hidup gitu? Lu kan baru balik dari Bandung kemarin malam. Jangan bilang lu... putus sama Nisa?"

"Udah, nggak usah dibahas lagi. Semuanya udah icip-icip masa lalu, dan sekarang udah basi," jawab Fathan ketus, suaranya terdengar dingin tanpa ada celah untuk didebat.

Budi tertegun sejenak, merasakan ada atmosfer aneh yang mengelilingi sahabatnya itu. Biasanya Fathan adalah tipe pria yang hangat, mudah tertawa, dan selalu bersemangat menceritakan kisah cintanya. Namun, sosok yang berdiri di hadapannya sekarang tampak seperti cangkang kosong—kehilangan seluruh jiwa dan warnanya.

"Lu serius mau buang semua itu, Than? Sayang banget, itu kan kenangan kalian selama setahun lebih," ucap Budi mencoba mengingatkan.

Fathan mendengus sinis, mengangkat kardus penuh barang-barang tersebut dengan kedua tangannya. "Kenangan kalau cuma bikin otak eror dan kerjaan berantakan, nggak ada gunanya buat dipelihara. Mulai hari ini, gue mau fokus total sama karir. Nggak ada lagi waktu buat galau-galauan nggak jelas."

Tanpa mendengarkan ucapan Budi lebih lanjut, Fathan melangkah keluar kamar menuju tempat pembuangan sampah di ujung lorong kosan. Ia membuang seluruh kardus berisi memorabilia itu ke dalam bak sampah besar tanpa menoleh sedikit pun ke belakang.

Titik jepit pertama resmi tertutup rapat. Di dalam dada Fathan, pintu menuju perasaan rapuh, rindu, dan ketergantungan emosional pada orang lain telah ia banting dan kunci rapat-rapat. Ia memilih untuk mematikan hatinya, mengubah dirinya menjadi sosok baru yang tidak lagi mengenal rasa sakit, rasa sedih, ataupun rasa cinta.

❖ ❖ ❖

Hari-hari berikutnya di kantor berjalan dalam kecepatan penuh yang melelahkan. Fathan menjelma menjadi sosok pekerja yang benar-benar berbeda. Ia datang paling pagi sebelum lampu koridor kantor dimatikan, dan baru pulang larut malam ketika petugas kebersihan mulai menyapu lantai ruangan. Meja kerjanya kini bersih dari segala macam hiasan; tidak ada lagi foto, tidak ada lagi cangkir kopi unik, yang ada hanya layar monitor komputer yang menyala terang menampilkan lembar kerja keuangan dan grafik data yang rumit.

Lihat selengkapnya