Titik Temu

Amrullah Ibrahim
Chapter #15

Arsitek Kesendirian

Langit ibu kota sore itu tampak membentang luas dengan gradasi warna jingga dan kelabu yang memesona, dilihat dari balik dinding kaca tebal berlapis kedap suara di lantai dua puluh gedung pencakar langit kawasan Sudirman. Fathan berdiri tegak dengan setelan jas hitam berpotongan rapi, memegang segelas air mineral di tangan kanannya. Di usianya yang kini menginjak kepala tiga, penampilannya sudah jauh berbeda dari pemuda kuyu berbaju kusam yang dulu tinggal di kamar kos petak sempit kawasan Palmerah. Tidak ada lagi sisa-sisa debu gudang logistik atau peluh berlebih yang menempel di tubuhnya. Ia telah menjelma menjadi seorang manajer operasional regional yang disegani, memegang kendali atas arus logistik perusahaan multinasional dengan omzet miliaran rupiah.

Namun, di balik kesuksesan gemilang yang terpampang nyata di ruang kerjanya yang mewah ber-AC sentral, tersimpan sebuah ironi yang sunyi. Meja kerjanya bersih tanpa ada satu pun bingkai foto keluarga atau kenangan masa lalu; yang ada hanyalah jajaran monitor komputer canggih dan tumpukan dokumen digital yang menuntut perhatian konstan. Kesuksesan finansial yang ia bangun selama bertahun-tahun dengan mengorbankan segalanya kini berada di genggamannya, tetapi harganya teramat mahal untuk dibayar.

Pintu ruang kerjanya diketuk pelan, lalu terbuka menampilkan sosok asisten pribadinya, seorang gadis muda bernama Siska yang membawa berkas laporan akhir tahun.

"Permisi, Pak Fathan. Ini laporan audit logistik regional kuartal keempat sudah selesai diverifikasi oleh tim pusat," ujar Siska sopan sambil meletakkan map tebal di atas meja kerja mahoni.

Fathan berbalik, menatap Siska dengan senyuman tipis yang profesional. "Terima kasih, Siska. Nanti saya pelajari sebelum rapat evaluasi besok pagi. Ada jadwal lain lagi sore ini?"

"Udah nggak ada lagi, Pak. Agenda hari ini udah clear semua. Kalau bapak mau langsung pulang atau istirahat, dipersilakan," jawab Siska ramah sebelum meminta izin untuk meninggalkan ruangan.

Fathan mengangguk pelan. Ia kembali membalikkan tubuhnya menghadap dinding kaca raksasa yang memperlihatkan panorama kota Jakarta dari ketinggian. Di bawah sana, jutaan manusia tampak bergerak seperti semut di tengah kemacetan jalan raya yang mulai diterangi lampu-lampu kendaraan. Ia menarik napas dalam-dalam, menikmati udara dingin buatan ruangan yang steril dari polusi luar. Secara materi, ia telah menjadi arsitek bagi masa depannya sendiri. Ia merancang setiap batu bata kesuksesannya dengan presisi matematika yang ketat, memastikan tidak ada satu pun ruang bagi kegagalan finansial.

"Gimana, Fan? Puas lu sekarang udah di atas?" gumam Fathan pelan pada bayangannya sendiri yang terpantul di kaca jendela.

Tidak ada jawaban, selain dengung halus pendingin ruangan dan keheningan yang mencengkeram. Kesendirian yang ia jalani bukanlah sebuah ketidaksengajaan, melainkan sebuah desain yang ia pilih secara sadar demi menghindari luka dan kekecewaan masa lalu.

❖ ❖ ❖

Keheningan di ruang kerja mewah itu mendadak terusik ketika ponsel pribadi Fathan yang tergeletak di atas meja berdering nyaring. Layar benda persegi itu menampilkan panggilan masuk dari nomor lama yang sudah bertahun-tahun tidak pernah muncul di daftar panggilannya. Fathan mengerutkan kening, merasakan debar aneh di dadanya. Dengan gerakan ragu, ia meraih ponsel tersebut dan menggeser tombol hijau untuk menerima panggilan.

"Halo," sapa Fathan dengan suara berat yang terkontrol.

"Halo, Fathan... Ini aku, Nisa," suara lembut namun menyisakan kegetiran terdengar dari seberang sambungan.

Fathan terdiam sejenak. Udara di dalam ruangannya mendadak terasa lebih dingin dari biasanya. "Nisa... Wah, udah lama banget ya kita nggak ngobrol. Ada apa, Nis? Semuanya baik-baik aja kan di sana?"

Lihat selengkapnya