Gedung perkantoran pencakar langit di kawasan Sudirman itu berdiri tegak, menyerap cahaya matahari sore yang mulai meredup di balik kaca-kaca jendela raksasa. Di lantai delapan belas, di dalam kubikal berukuran dua setengah meter persegi yang diterangi lampu neon putih terang, Fathan menatap layar monitor dengan tatapan kosong namun penuh ketegangan. Jam di sudut kanan bawah layar menunjukkan pukul sembilan malam, tetapi suasana di lantai itu masih riuh oleh suara ketukan papan ketik dan dering telepon meja yang sesekali berdering nyaring.
Bagi Fathan, kubikal ini bukan lagi sekadar tempat mencari sesuap nasi atau meniti tangga karier dunia arsitektur. Tempat ini telah berubah wujud menjadi benteng pertahanan terakhir, sebuah bunker kedap suara tempat ia mengisolasi diri dari rasa sakit yang ditinggalkan oleh masa lalu. Sejak hari di mana pesan perjodohan itu meruntuhkan dunianya, Fathan memutuskan untuk menyerahkan seluruh sisa kewarasannya pada pekerjaan.
"Fan, ini revisi gambar struktur atap galeri seni yang lu minta kemarin udah gue koreksi. Mau dicek sekarang atau besok pagi?" tanya Rudi, rekan sekantornya, sambil meletakkan setumpuk kertas kalkir tebal di atas meja kubikal Fathan.
Fathan mengalihkan pandangannya dari layar monitor, mengusap wajahnya yang kusam dan dipenuhi sisa janggut tipis. "Siniin, Rud. Biar gue cek sekarang sekalian. Jangan ditunda, nanti keburu mepet deadline presentasi sama klien hari Kamis."
Rudi menghela napas panjang, menatap sahabat sekaligus rekan kerjanya itu dengan sorot mata prihatin. "Lu tuh ya, kerja mulu enggak kenal waktu. Ini udah jam sembilan malam lewat, Fan. Badan lu kan bukan robot. Emang enggak pengen rebahan atau sekadar nongkrong santai gitu?"
"Nongkrong buat apa? Buat bengong di apartemen sendirian terus mikirin hal enggak penting? Mendingan kerja, jelas hasilnya kelihatan dan dompet tebal," jawab Fathan dingin, nada suaranya datar tanpa emosi.
"Duh, teu emut pisan ka diri sorangan, maneh teh siga nu rek hirup saratus taun bae. Angot palebah kasép tapi jomblo akut kawas kieu, karunya teuing ka indung maneh di lembur," protes Rudi menggunakan bahasa Sunda logat Bandung yang kental, mencoba mencairkan ketegangan dengan nada bercanda. (Duh, tidak ingat diri sendiri, kamu teh seperti yang mau hidup seratus tahun saja. Apalagi ganteng tapi jomblo akut kayak gini, kasihan tahu ke ibu kamu di kampung.)
Fathan hanya tersenyum tipis, sebuah senyuman hambar yang sama sekali tidak mencapai matanya. "Geus ah, Rud. Tong ngomongkeun nu kitu waé. Gancang bere ka dieu gambarna, bisi kaburu kabur deui idena." (Sudah ah, Rud. Jangan membahas yang begitu terus. Cepat kasih ke sini gambarnya, keburu kabur lagi ide desainnya.)
Rudi menggelengkan kepala pelan sambil menyerahkan berkas tersebut. "Nya enya ge kerja keras teh alus, tapi ulah nepi ka poho kana bagéan hirup nu séjén, Fan. Bisi engké nyesal." (Ya memang benar kerja keras itu bagus, tapi jangan sampai lupa ke bagian hidup yang lain, Fan. Takutnya nanti menyesal.)
Setelah Rudi kembali ke kubikalnya sendiri, Fathan kembali membenamkan diri di balik tumpukan dokumen dan rancangan digital. Bagi Fathan, kesibukan ekstrem adalah obat bius paling manjur yang pernah diciptakan manusia. Setiap kali ia mulai merasa kosong, setiap kali bayangan tentang Nisa berkelebat di kepalanya, ia akan langsung membuka proyek baru, menghitung beban struktur beton, atau merevisi detail ornamen bangunan hingga larut malam.
Obat bius itu bekerja dengan sangat efektif. Kelelahan fisik berhasil meredam rasa sakit di dadanya. Di balik dinding kubikal yang sempit itu, ia merasa aman. Tidak ada lagi ruang untuk patah hati, tidak ada lagi celah untuk rindu, karena seluruh kapasitas otaknya telah terkunci rapat oleh angka, skala, dan tenggat waktu.
❖ ❖ ❖
Namun, obat bius sehebat apa pun pasti memiliki batas waktu kedaluwarsa. Pada suatu dini hari, ketika sebagian besar lampu di lantai kantor telah dipadamkan dan hanya menyisakan beberapa titik lampu darurat, Fathan merasakan serangan sunyi yang luar biasa hebat. Ia menyandarkan punggungnya yang kaku pada kursi kantor beroda, memejamkan mata rapat-rapat, dan membiarkan keheningan malam menyergapnya.
Di dalam kesunyian itu, pertahanan mental yang ia bangun dengan susah payah mulai menunjukkan retakan. Pikirannya melayang kembali ke masa-masa kuliah di perpustakaan tua, ketika hidup terasa begitu ringan dan penuh warna. Ia teringat bagaimana tawanya dan Nisa berpadu di antara rak-rak buku sejarah, bagaimana mereka merajut mimpi-mimpi naif tentang masa depan yang tidak pernah menjadi kenyataan.
"Kenapa harus sesakit ini?" gumam Fathan pelan pada kegelapan ruang kerjanya.
Ia membuka laci meja kubikalnya yang terkunci rapat. Di dalam laci itu, tersembunyi sebuah benda yang selama ini ia sembunyikan dari pandangan siapa pun: sebuah buku harian usang bersampul kulit cokelat—pemberian Nisa di hari perpisahan mereka dulu. Fathan ragu-ragu menyentuh sampul buku tersebut, merasakan tekstur kulit yang mulai mengelupas di beberapa bagian.
Tiba-tiba, ponsel di atas meja berdering nyaring, memecah kesunyian dini hari. Fathan terperanjat, buru-buru memasukkan kembali buku harian itu ke dalam laci dan menguncinya. Ia meraih ponselnya dengan tangan yang sedikit gemetar. Sebuah pesan WhatsApp dari ibunya di kampung halaman terpampang di layar.
Fathan menatap layar ponsel itu dengan dada yang mendadak sesak. Pesan sederhana dari ibunya membawa gelombang rasa bersalah yang teramat dalam. Selama ini, ia menggunakan kesibukan kantor sebagai perisai untuk menghindari rasa sakit hati, tetapi ia lupa bahwa di kampung halaman, ada seorang ibu tua yang menunggu kepulangannya dengan penuh harap.
Ia mengetik balasan dengan lambat.
Begitu pesan terkirim, Fathan menghela napas panjang. Titik jepit pertama ini menghimpitnya di antara dua dunia: dunia pelarian profesional di balik meja kubikal yang dingin, dan dunia nyata di luar sana yang menuntut kehangatan keluarga serta keberanian untuk melangkah maju dari masa lalu. Ia menyadari bahwa menjadi seorang workaholic bukanlah solusi permanen untuk menyembuhkan luka batin; itu hanyalah cara menunda kehancuran yang lambat laun akan meruntuhkan dirinya dari dalam.
❖ ❖ ❖
Hari-hari berikutnya berjalan dengan ritme yang semakin gila. Fathan tidak lagi hanya lembur sampai malam, ia bahkan beberapa kali tidur di ruang istirahat kecil kantor demi mengejar target penyelesaian desain proyek komersial skala besar. Rekan-rekan kerjanya mulai merasa khawatir melihat perubahan drastis pada diri Fathan yang dulunya ramah dan santai, kini berubah menjadi sosok pendiam, kaku, dan terobsesi pada kesempurnaan kerja.
Suatu siang, saat matahari bersinar terik di luar jendela kaca gedung, Rudi menghampiri meja kubikal Fathan sambil membawa segelas es kopi susu. Ia menarik kursi plastik di sebelah meja Fathan tanpa diundang.
"Fan, maneh teh kunaon sih sabenerna? Tiap poé lembur waé, nepi ka katingalina jiga nu kurang sare. Katingalina mah sanés nuju kerja, tapi siga nu keur lumpat tina hiji hal," tegur Rudi dengan nada serius, mencampur bahasa Sunda dan Indonesia untuk menarik perhatian sahabatnya itu. (Fan, kamu teh kenapa sih sebenarnya? Tiap hari lembur terus, sampai keliatannya seperti yang kurang tidur. Keliatannya mah bukan lagi kerja, tapi kayak yang lari dari suatu hal.)