Titik Temu

Amrullah Ibrahim
Chapter #17

Perempuan Bernama Varisha

Udara sore di kawasan SCBD, Jakarta Selatan, terasa begitu pekat oleh aroma kopi mahal dan kepulan asap tipis dari knalpot mobil-mobil mewah yang terjebak kemacetan jam pulang kantor. Di lantai 22 sebuah gedung pencakar langit tempat divisi kreatif agensi periklanan tempat Fathan bekerja, kesibukan masih menggila. Ketukan jemari di atas papan ketik terdengar bersahut-sahutan dengan suara mesin pencetak dokumen yang berdengung konstan. Fathan, dengan kemeja lengan panjang yang lengannya sudah dilipat hingga siku dan dasi yang sedikit longgar, tengah memandangi layar monitornya yang penuh dengan draf tata letak kampanye digital terbaru.

Sudah berbulan-bulan berlalu sejak keputusannya yang berat di stasiun Serang kala itu—sebuah titik balik di mana ia memilih memutar arah kembali ke ibu kota alih-alih menemui masa lalunya di Lampung. Hidup tidak berhenti hanya karena sebuah patah hati; ia harus terus berputar, menuntut Fathan untuk menyelam lebih dalam ke dalam pusaran kerja keras demi bertahan hidup di kota yang tidak pernah tidur ini. Di tengah rutinitas yang monoton dan melelahkan itu, pintu kaca divisi kreatif tiba-tiba bergeser terbuka, memecah fokus seluruh orang di ruangan tersebut.

Seorang wanita berpostur semampai dengan setelan blazer abu-abu gelap melangkah masuk dengan penuh percaya diri. Rambut sebahu yang ditata rapi membingkai wajahnya yang tegas namun memesona. Matanya tajam mengamati setiap sudut ruangan, memancarkan aura profesionalisme tingkat tinggi yang langsung menarik perhatian semua mata yang memandangnya. Ia adalah Varisha, anggota baru yang direkrut langsung oleh direktur utama untuk memperkuat divisi strategi kreatif yang selama ini keteteran menghadapi klien-klien korporat besar.

"Selamat sore semuanya. Saya Varisha. Mulai hari ini saya bergabung di divisi ini, semoga kita bisa kerja sama dengan baik untuk proyek-proyek ke depannya," ucap Varisha dengan suara yang tenang, jelas, dan sama sekali tidak menyiratkan keraguan.

Fathan yang duduk di sudut meja kerjanya hanya tertegun sejenak, mengamati bagaimana perempuan itu langsung memegang kendali atas perhatian seluruh rekan satu tim tanpa perlu bersusah payah mencari simpati. Ada sesuatu yang sangat kontras jika dibandingkan dengan bayang-bayang masa lalunya di kampung halaman. Varisha bukanlah tipikal gadis naif yang menunggu kepastian atau merajut angan-angan kosong di bawah rindangnya pohon mahoni; ia adalah representasi perempuan urban yang mandiri, tajam, ambisius, dan tidak gampang terintimidasi oleh tekanan keras dunia korporat ibu kota.

"Wah, parah sih, ini mah saingan berat buat kita semua kalau soal presentasi klien," bisik Doni, rekan sekantor Fathan, sambil menyenggol bahu Fathan pelan dari meja sebelah.

Fathan tersenyum tipis, merapikan beberapa berkas di hadapannya. "Bagus dong, biar tim kita nggak kerja asal-asalan lagi. Emang lu mau ditegur bos mulu gara-gara konsep kampanye kita ditolak?" balas Fathan dengan nada santai, meski matanya masih diam-diam mencuri pandang ke arah meja baru Varisha di dekat jendela besar yang menghadap langsung ke arah lampu-lampu kota yang mulai menyala terang.

❖ ❖ ❖

Kehadiran Varisha di divisi kreatif langsung memberikan dampak yang signifikan sejak hari pertama. Wanita itu tidak membuang waktu untuk beradaptasi dengan basa-basi yang tidak penting. Ketika rapat evaluasi mingguan digelar keesokan paginya di ruang rapat utama berdinding kaca transparan, Varisha langsung mengambil alih panggung presentasi dengan data analitik yang tajam dan gagasan visual yang segar. Fathan duduk di barisan kursi belakang, mengamati setiap gerakan dan intonasi suara Varisha yang penuh perhitungan namun tetap elegan.

"Konsep yang dipaparkan tim sebelumnya terlalu klise dan menyasar emosi yang usang. Konsumen sekarang nggak butuh janji manis atau cerita melankolis; mereka butuh bukti nyata dan relevansi langsung dengan gaya hidup modern," kritik Varisha tajam di hadapan kepala divisi dan seluruh anggota tim, tanpa sedikit pun rasa canggung.

Beberapa orang di dalam ruangan tampak menelan ludah mendengar ketegasan tersebut, sementara kepala divisi hanya mengangguk setuju atas argumen yang dibawakan Varisha. Fathan merasa ada angin segar yang menerpa kepalanya. Selama ini ia terlalu terjebak dalam lingkaran penyesalan masa lalu, meratapi janji-janji masa muda yang rapuh. Melihat Varisha yang begitu mandiri, berani, dan tidak mudah goyah oleh tekanan, Fathan merasa cara pandangnya terhadap perempuan dan arti sebuah hubungan mulai bergeser secara perlahan.

Begitu rapat selesai dan ruangan kembali kosong, Fathan membereskan catatannya dan berpapasan dengan Varisha di dekat mesin pembuat kopi otomatis sudut ruangan.

"Presentasi lu tadi lumayan telak buat beberapa orang di sini, Var," sapa Fathan basa-basi sambil tersenyum kecil, meletakkan cangkirnya di atas meja.

Varisha menoleh, menatap Fathan dengan sorot mata tajam namun tersenyum tipis di ujung bibirnya. "Bukannya emang itu yang dibutuhin agensi ini, Fan? Kalau kita cuma main aman, klien bakal kabur ke kompetitor dalam sebulan."

"Iya juga sih. Lu emang dari dulu selalu sefokus ini kalau kerja?" tanya Fathan penasaran.

"Dulu? Kita kan baru kenal hari ini, Fan. Jangan coba-coba sok akrab ya," jawab Varisha setengah bergurau namun tetap menegaskan batas profesionalismenya.

Fathan tertawa kecil, merasa tertantang oleh sikap dingin yang menyegarkan itu. "Hehehe, sori-sori. Abisnya aura lu kayak senior galak yang siap mangsa anak baru, padahal lu sendiri anak baru di sini."

"Teh, ari maneh geus bérés can éta laporan analisa data konsumén keur klien nu anyar? Ulah waka heureuy baé, bisi kaburu ditagih ku si bos," timpal Varisha tiba-tiba dengan logat Sunda yang kental dan mengalir lancar, membuat Fathan terkejut sekaligus tergelitik.

Fathan mengangkat kedua tangannya menyerah. "Siap, Bos Varisha. Laporan langsung dikerjakan sekarang juga!"

Lihat selengkapnya