Titik Temu

Amrullah Ibrahim
Chapter #18

Benturan Ide di Ruang Rapat

Lantai dua puluh gedung pencakar langit di kawasan Sudirman itu mendadak terasa pengap, meskipun pendingin ruangan menyala dengan suhu terendah. Di hadapan meja rapat berbentuk oval yang terbuat dari kayu jati tua, Fathan berdiri tegak sambil memegang laser pointer. Layar proyektor besar di ujung ruangan menampilkan grafik angka penjualan yang melandai tajam selama tiga kuartal berturut-turut. Di sekeliling meja, para manajer senior dari divisi pemasaran dan pengembangan produk tampak bergeming, menghindari tatapan mata sang direktur utama yang duduk di ujung meja.

"Kalau kita terus-terusan mengandalkan strategi lama yang konservatif ini, saya jamin produk kita bakal gulung tikar sebelum akhir tahun," ucap Fathan tajam, suaranya menggema di ruang rapat yang senyap. Ia menatap satu persatu wajah orang-orang yang usianya jauh lebih tua darinya. "Pasar anak muda udah berubah total. Mereka nggak lagi peduli sama merek jadul kalau user experience-nya ribet."

Belum sempat ada yang membuka mulut untuk menjawab, suara ketukan bolpoin yang berirama konstan tiba-tiba terdengar dari sisi seberang meja. Seorang perempuan berblazer navy rapi dengan rambut dicepol modern mengangkat wajahnya perlahan. Varisha, kepala divisi strategi digital yang baru direkrut dari perusahaan multinasional sebulan lalu, menatap Fathan dengan sorot mata yang menyalang tajam, sama sekali tidak ciut oleh intimidasi sang copywriter senior yang kini dipercaya memimpin proyek besar tersebut.

"Argumen Pak Fathan terlalu reaktif dan cuma berasumsi pada tren sesaat," potong Varisha dengan nada suara yang tenang, namun menusuk langsung ke ulu hati. "Emangnya Pak Fathan udah riset mendalam soal perilaku konsumen di kota-kota tier dua? Jangan sampe kita ganti strategi total, eh malah kehilangan core audience setia kita yang jumlahnya jutaan itu. Teh, tong asal capruk mun can tangtu benerna (Jangan asal ngomong kalau belum tentu benar)."

Fathan mengerjap, sedikit terkejut mendengar balasan yang begitu blak-blakan dari perempuan di depannya itu, lengkap dengan selipan logat Sunda yang keluar begitu saja di tengah ketegangan rapat korporat. Selama ini, jarang sekali ada karyawan baru yang berani memotong argumennya secara frontal di hadapan para petinggi perusahaan.

"Saya nggak asal capruk, Bu Varisha," balas Fathan sengit, sedikit merengut tidak terima. "Data kuartal kemarin udah jelas banget nunjukin penurunan drastis di segmen usia belasan sampai dua puluhan. Kalau kita nggak adaptasi sekarang, mah, kita bakal ketinggalan jauh sama kompetitor."

"Muhun, datana emang turun, tapi solusi Pak Fathan tuh ibarat mau ngecat ulang rumah tapi fondasinya keropos," sanggah Varisha tanpa ampun, jemarinya melipat dokumen di atas meja dengan elegan. "Masalah utamanya bukan di gaya bahasa iklannya, tapi di funneling pembelian yang terlalu berbelit-belit. Percuma bikin copywriting sekeren apa pun kalau aplikasinya error mulu pas di-checkout."

Ruangan rapat mendadak senyap. Beberapa kepala divisi saling melirik, ngeri melihat dua kepala keras dari divisi berbeda saling beradu argumen dengan panas. Namun di balik rasa kesalnya yang hampir mencapai ubun-ubun, Fathan justru merasakan gelombang kekaguman yang aneh menyelinap di dadanya. Selama bertahun-tahun berkarier di ibu kota, ia sudah terlalu sering dikelilingi oleh orang-orang "iya-iya saja" yang takut berbeda pendapat demi mencari aman di depan atasan. Varisha berbeda. Perempuan itu tidak hanya cerdas membaca data, tapi juga memiliki nyali besar untuk mempertahankan logikanya tanpa pandang bulu.

Refleksi tiba-tiba menghantam benak Fathan bagaikan kilat di siang bolong. Ingatannya melayang sekilas pada masa lalunya bersama Nisa—perempuan dari masa lalu yang mengajarkannya arti sebuah kesabaran, penantian panjang di stasiun, dan kepasrahan pada takdir keluarga. Nisa adalah tentang menunggu; tentang bagaimana Fathan harus menahan rindu di balik layar ponsel yang kaku dan merelakan segalanya perlahan-lahan runtuh oleh jarak.

Namun Varisha... perempuan di hadapannya ini berada di spektrum semesta yang sama sekali berbeda. Varisha bukan tentang menunggu di stasiun yang sepi. Varisha adalah tentang bergerak bersama, berlari kencang, saling beradu argumen di tengah badai korporat, dan menaklukkan dunia kerja secara berdampingan.

"Oke, kalau begitu silakan buktikan argumen Ibu Varisha," tantang Fathan dengan senyum tipis tersungging di sudut bibirnya, menerima benturan ide tersebut sebagai sebuah tantangan yang menyenangkan. "Kita adopsi pendekatan data dari tim Ibu, tapi copywriting dan eksekusi kreatifnya tetap lewat meja saya. Urang tempo, saha nu bakal bener tungtungna (Kita lihat, siapa yang nanti paling benar)."

Varisha membalas seringai itu dengan tatapan penuh percaya diri. "Mangga, saha sieun? Asal Pak Fathan siap mental aja kalau strategi saya terbukti jauh lebih efektif dari ide cemerlang bapak."

❖ ❖ ❖

Pertemuan panas di ruang rapat lantai dua puluh itu ternyata bukanlah akhir dari perdebatan mereka, melainkan gerbang pembuka dari serangkaian kerja sama intensif yang mau tidak mau harus mereka jalani setiap harinya. Dua minggu berikutnya, meja kerja Fathan dan Varisha diposisikan berhadap-hadapan di ruang kreatif terbuka lantai sembilan belas. Suasana yang awalnya dipenuhi aura permusuhan perlahan-lahan berubah menjadi medan tempur intelektual yang sangat produktif.

"Fath, revisi copy untuk banner digital yang semalem lu kirim tuh kurang greget," tegur Varisha tanpa basa-basi sambil meletakkan cangkir kopi hitam di atas meja Fathan. Ia membungkuk sedikit, menunjuk baris kalimat promosi di layar monitor Fathan. "Ini bahasanya terlalu kaku, kaya brosur pendaftaran PNS. Coba bikin yang lebih catchy tapi tetap masuk akal secara data demografi."

Fathan menghela napas lelah, meregangkan otot lehernya yang kaku akibat berjam-jam menatap layar komputer. "Kaku dari mana, Var? Itu udah gua sesuaikan sama standar bahasa brand kita selama tiga tahun ke belakang. Lu aja yang seleranya terlalu kekinian."

"Bukannya kekinian, Fath, tapi zaman tuh emang udah berubah," balas Varisha gemas, menarik kursi kerjanya dan duduk tepat di samping Fathan. "Coba baca ulang deh. 'Dapatkan kemudahan bertransaksi bersama kami.' Helo? Konsumen gen Z tuh paling alergi sama kata-kata formal basi kaya gitu. Mending ganti jadi: 'Belanja gampang, dompet aman, hidup tenang.' Singkat, padat, langsung ngena ke ulu hati."

Fathan terdiam sejenak, membaca ulang kalimat usulan Varisha di dalam kepalanya. Sialnya, ia harus mengakui dalam hati bahwa pilihan kata perempuan di sampingnya itu jauh lebih hidup dan membumi dibanding draf miliknya yang penuh diksi berat.

"Hmm... boleh juga sih," aku Fathan pelan, enggan memberikan pujian secara terang-terangan. "Tahu aja lu cara meracik kalimat buat anak muda zaman now."

"Ya jelaslah, makanya jangan kerja mulu di balik kubikal, sesekali nongkrong di coffee shop gaul biar nggak kudet," ledek Varisha sambil tersenyum miring, memperlihatkan lesung pipit di pipi kanannya yang membuat Fathan salah tingkah sedetik. "Ari diuk wae di kantor mah pikiran teh jadi Pondok jodo, panjang baraya."

Fathan tertawa kecil mendengarnya. "Naon deui eta babasan Sunda teh, teu nyambung pisan kana pagawean," protes Fathan menirukan logat Sunda dengan nada bercanda, meskipun sejatinya ia mulai terbiasa dengan celetukan-celetukan lokal yang sering dilontarkan Varisha setiap kali mereka sedang berdebat sengit.

Di titik inilah Fathan menyadari perbedaan yang amat kontras dalam perjalanan hidup percintaannya. Dulu, bersama Nisa, setiap perbedaan pendapat selalu diselimuti rasa takut akan perpisahan; ketakutan bahwa jarak dan pertentangan kecil akan merusak jalinan rapuh hubungan jarak jauh mereka. Setiap argumen terasa berat karena di ujung sana selalu ada ancaman hilangnya restu keluarga dan ketidakpastian masa depan.

Namun bersama Varisha, perbedaan pendapat justru menjadi bahan bakar yang menyenangkan. Tidak ada rasa takut ditinggalkan, tidak ada kecemasan tentang restu orang tua yang kaku. Yang ada hanyalah rasa hormat yang tumbuh secara natural terhadap kapasitas intelektual rekan kerjanya ini. Mereka berdua adalah dua roda gigi mesin yang saling mengait—kadang bergesekan dengan keras, namun justru membuat seluruh sistem berjalan dengan jauh lebih presisi dan bertenaga.

❖ ❖ ❖

Puncak dari kolaborasi intensif mereka diuji pada malam peluncuran kampanye digital nasional kuartal keempat. Jam dinding di ruang kreatif menunjukkan pukul 23.45 WIB. Lampu-lampu ruangan sudah banyak yang dipadamkan, menyisakan pijar terang dari layar monitor komputer di sudut meja Fathan dan Varisha. Seluruh tim pemasaran sudah pulang sejak dua jam lalu, meninggalkan mereka berdua untuk melakukan final check terakhir sebelum peluncuran server tepat tengah malam.

Lihat selengkapnya