Suara ketukan tuts kibor di dalam ruangan divisi perencanaan terasa berderap ritmis, berpadu dengan dengung mesin pendingin ruangan yang bekerja ekstra di malam hari. Jam dinding di sudut ruangan telah menunjukkan pukul sepuluh malam lewat lima belas menit. Di luar gedung kantor pusat, rintik hujan gerimis membasahi kaca jendela besar yang memantulkan kerlip lampu jalanan kota Bandung. Udara dingin khas dataran tinggi Priangan merayap pelan menembus dinding kaca, membuat siapa saja yang berada di dalam ruangan merapatkan jaket atau meniup-niup telapak tangan agar hangat.
Di sudut kubikel kerjanya, Fathan mengusap wajahnya yang kuyu. Matanya terasa pedih akibat terlalu lama menatap layar monitor komputer yang memancarkan cahaya putih menyilaukan. Di hadapannya terbentang lembar kerja digital berisi proposal proyek restorasi kawasan heritage yang tenggelam dalam tumpukan data revisi dari direksi. Proyek besar itu adalah pertaruhan terakhir divisinya bulan ini, dan tidak ada ruang sedikit pun untuk melakukan kesalahan kecil.
"Eh, Than, maneh serius mau nunteskeun ieu ayeuna pisan? Geus peuting lho, pan bisa diteruskeun deui enjing," suara lembut Riri memecah keheningan kubikel, membuyarkan lamunan Fathan dari deretan angka-angka anggaran.
Fathan menoleh ke arah meja seberang, tempat Riri—rekan satu tim yang ditugaskan mendampinginya menggarap proposal tersebut—tengah meregangkan kedua tangannya ke atas. Rambut sebahu Riri dicepol seadanya dengan sebuah pensil kayu, sementara cangkir keramik berisi kopi susu panas di mejanya mengepulkan uap tipis yang beraroma manis.
Fathan tersenyum tipis, menggeleng pelan. "Enggak bisa, Ri. Kalau bab anggaran ini nggak beres malam ini, besok pagi pas rapat pleno kita bakal dibantai habis-habisan sama Pak Direktur. Maneh hayang kita dipecat minggu hareup?"
Riri terkekeh kecil, menarik cangkir kopi susunya lalu menyeruputnya pelan. "Ya ampun, teu kudu sieun teuing kitu pisan, Euy! Pak Direktur gé manusa, paling diomongkeun hungkul sabari seuri. Tapi bener gé sih, lamun teu diberesan ayeuna, matak rieut sirah mikiranana."
Sejak kepulangan Fathan dari masa-masa kelam menutup diri dan menjadi "mesin kerja" tanpa rasa beberapa waktu lalu, hidupnya perlahan-lahan mulai mencair. Kehadiran rekan-rekan kerja yang suportif, terutama Riri yang selalu sabar menghadapi sifat dinginnya di awal kepindahan ke kantor cabang Bandung, berhasil meruntuhkan dinding baja yang ia bangun di sekeliling hatinya. Riri bukan sekadar rekan satu divisi; ia adalah sosok yang membawa kembali warna dan kehangatan ke dalam hari-hari Fathan yang tadinya monoton dan penuh beban.
"Nih, aslina bieu kuring meuli kopi sachet ti kantin handap. Lumayan jang ngalawan tunduh nu ti saprak sore nempuh," kata Riri sambil meletakkan sebuah cangkir ekstra berisi kopi hitam panas tepat di sebelah tumpukan berkas Fathan.
Fathan melirik cangkir itu, lalu menatap Riri dengan sorot mata yang melunak. "Wah, nuhun pisan, Ri. Maneh emang paling ngarti kana kaayaan beuteung jeung sirah kuring nu geus satengah mangprung ieu."
"Sami-sami, Bos! Geurainum atuh buru tiis, keburu matak masuk angin," balas Riri riang sambil kembali menarik laptopnya mendekat.
Malam-malam panjang di kantor yang dihabiskan dengan berbagi kopi dan tumpukan revisi proposal perlahan-lahan berubah menjadi rutinitas yang paling Fathan nantikan. Jika dulu lembur adalah siksaan batin yang mengingatkannya pada kepedihan masa lalu, kini lembur berubah menjadi ruang teduh tempat mereka bisa berbagi lelah, tawa, dan cerita di luar jam kerja yang kaku. Di balik dinding kaca kantor yang dingin itu, sebuah kehangatan kecil mulai merayap masuk ke dalam relung hati Fathan, menghidupkan kembali ruang di dadanya yang sempat lama mati rasa.
❖ ❖ ❖
Jarruk waktu merangkak menuju pukul sebelas malam. Suasana lantai kantor kini benar-benar sepi; nyaris seluruh lampu utama koridor telah dipadamkan oleh petugas keamanan, menyisakan pencahayaan temaram dari lampu kubikel mereka berdua. Suara ketukan kibor perlahan mereda, digantikan oleh suara desau angin malam yang menembus celah jendela gedung.
Riri menutup layar laptopnya dengan gerakan pelan, lalu menyandarkan punggungnya ke kursi kerja sambil menghela napas panjang. Ia menoleh ke arah Fathan yang masih sibuk memeriksa rumus sel di layar monitor komputer.
"Than, jujur ya, lamun kuring nanya, maneh tara bosen kitu hirup ngan saukur mikiran pagawean wae?" tanya Riri tiba-tiba, nada suaranya terdengar serius namun santai.
Fathan menghentikan gerakan jemarinya di atas kibor. Ia menoleh, menatap Riri yang sedang memandangnya dengan sorot mata penuh selidik di balik bias lampu meja.
"Bosen? Jelas bosen pisan, Ri. Tapi mun teu diginiin, hirup kuring asa euweuh tujuan," jawab Fathan jujur, nada suaranya menyiratkan kelelahan batin yang selama ini ia pendam sendiri.
Riri tersenyum tipis, menggelengkan kepalanya pelan. "Hirup mah lain ngan saukur udagan target kantor atawa duit nu loba, Than. Mun maneh terusan kieu, maneh ngan jadi robot hirup nu poho kumaha carana ngarasakeun bungahna peuting ieu."
"Terus kudu kumaha? Kuring geus biasa sorangan ti baheula, Ri," balas Fathan lirih, tatapannya menerawang menembus kaca jendela yang memantulkan bayangan mereka berdua.
Titik jepit pertama mulai menyergap percakapan itu. Pertanyaan sederhana dari Riri seolah membuka kembali kotak Pandora tentang masa lalunya—tentang bagaimana ia sempat hampir menghancurkan hidupnya sendiri akibat terjebak dalam ilusi hubungan jarak jauh dan keputusasaan yang mendalam. Ada rasa takut yang tiba-tiba mencuat di dadanya, takut jika ia terlalu membuka diri pada seseorang, ia akan kembali terluka di kemudian hari.
Riri tampaknya menyadari perubahan ekspresi di wajah Fathan. Wanita berambut sebahu itu merapatkan duduknya, menatap Fathan lekat-lekat dengan penuh kehangatan.
"Heueuh, kuring apal maneh boga carasa mangsa lalu nu pait, Than. Tapi lain berarti maneh kudu nutup panto hate salilana ka jalma séjén," ucap Riri lembut dalam bahasa Sunda campur Jakarta yang khas. "Hirup mah kudu wani muka lembaran anyar, lain terus-terusan cicing di tempat nu geus buruk."
Fathan tertegun. Kalimat itu begitu menohok, namun disampaikan dengan begitu tulus hingga tidak meninggalkan rasa tersinggung sedikit pun di hatinya. Selama ini ia menyangka dirinya sudah berhasil berdamai dengan masa lalu, padahal ia baru sekadar menyembunyikannya di bawah tumpukan target pekerjaan yang menumpuk.
"Maneh téh awéwé panganehna nu wani ngomong kitu payuneun kuring, Ri," ujar Fathan sambil tersenyum kecut, mencoba mencairkan ketegangan yang tiba-tiba melingkupi udara sekitar mereka.
"Ah, biasa waeé éta mah! Kuring mah ngan ngomong kanyataan nu aya dina sirah maneh wungkul," balas Riri sambil tertawa renyah, memecah kesunyian malam yang sempat terasa berat.
❖ ❖ ❖
Obrolan di kubikel kantor malam itu tidak lagi berkisar seputar urusan lembar kerja, anggaran proyek, atau revisi dari direksi. Topik pembicaraan mereka perlahan bergeser jauh, memasuki wilayah yang lebih personal—tentang mimpi-mimpi masa depan, harapan-harapan kecil yang belum sempat terwujud, dan sudut pandang mereka tentang arti kebahagiaan yang sesungguhnya.