Titik Temu

Amrullah Ibrahim
Chapter #20

Pengakuan di Kedai Kopi Seberang

Langit sore di kawasan Braga, Bandung, meredup perlahan, menyisakan bias warna jingga keemasan yang memantul di atas aspal basah sisa hujan sore tadi. Aroma wangi biji kopi sangrai berpadu dengan udara sejuk khas kota kembang, mengepul dari cerobong kecil sebuah kedai kopi bergaya kolonial yang terletak tepat di seberang gedung kantor tempat Fathan bekerja untuk proyek cabang terbaru. Di dalam kedai yang hangat dengan penerangan temaram lampu pijar kuning, Fathan duduk di kursi kayu jati tua bersama Varisha. Di atas meja kayu beralaskan taplak kain linen putih tersaji dua cangkir caffe latte panas yang mengepulkan uap tipis, serta sepiring kecil kue sus vanila khas Bandung.

Fathan menatap cangkirnya lekat-lekat, membiarkan keheningan sejenak menggelayut di antara mereka berdua. Setelah berminggu-minggu terlibat dalam diskusi proyek yang intens, hubungan profesional di antara mereka perlahan bergeser ke arah yang lebih personal. Varisha bukan tipe perempuan yang suka berbasa-basi atau melontarkan pertanyaan klise. Sejak awal pertemuan mereka di kota ini, perempuan berambut sebahu dengan tatapan mata setajam elang itu selalu memancarkan aura ketenangan dan ketegasan yang kontras dengan hiruk-pikuk ibu kota tempat Fathan berasal.

"Gimana, Fan? Kopi di Bandung masih kalah ya rasanya dibandingin kafe-kafe mahal di SCBD Jakarta tempat biasa lu nongkrong?" tanya Varisha memecah keheningan sambil menyeruput lattenya pelan. Bibirnya menyunggingkan senyum tipis yang sarat akan godaan ringan.

Fathan mendongak, tertawa kecil. "Bukan masalah kalah atau menang, rish. Malah gue lebih suka suasana sini. Di Jakarta tuh semua orang kayak lagi kejar-kejaran sama waktu, sampe rasanya mau ngopi aja kudu buru-buru."

"Emang dasarnya lu aja yang dulunya hidup kayak robot korporat, Fan. Kerja, ngejar target, tidur sebentar, terus kerja lagi," balas Varisha blak-blakan, tanpa tedeng aling-aling. Kalimat itu diucapkannya dengan logat Sunda yang halus namun tegas, logat Bandung asli yang sesekali terdengar melengking di ujung kata. "Punteun ya, bukan maksudnya menggurui, tapi muka lu tuh waktu pertama kali dateng ke sini keliatan banget kayak orang yang nanggung beban seisi bumi."

Fathan tertegun mendengar kejujuran itu. Biasanya, orang-orang di lingkarannya yang sekarang akan memuji kesuksesannya atau berhati-hati dalam berbicara agar tidak menyinggung status sosialnya. Namun Varisha berbeda. Perempuan itu melihat langsung menembus jas mahal dan arloji bermerek yang Fathan kenakan, membaca kelelahan batin yang selama ini ia sembunyikan di balik benteng kesuksesan finansialnya.

"Teu nanaon, Rish. Emang bener kok apa kata lu," jawab Fathan tersenyum pahit, menerima kejujuran itu dengan lapang dada. "Dulu hidup gue emang cuma berporos pada angka, laporan keuangan, dan target tabungan. Nggak ada ruang buat santai."

"Tah, gitu atuh daritadi jujur. Jangan dipendem mulu itu pundak teh, emang nggak pegel nanggung beban sendirian?" timpal Varisha lagi dengan nada santai, menggunakan sapaan bahasa Sunda yang akrab, teu nanaon dan tah, yang membuat Fathan merasa sangat cair tanpa ada sekat pembatas jabatan.

❖ ❖ ❖

Suasana di kedai kopi itu semakin nyaman seiring berjalannya waktu. Musik jazz akustik yang mengalun lembut dari pengeras suara sudut ruangan menemani percakapan mereka yang mulai merambah ke topik-topik yang lebih dalam. Varisha meletakkan cangkirnya di atas meja, lalu menatap Fathan dengan sorot mata yang menyelidik namun penuh respek. Tidak ada kilatan rasa iba atau tatapan kasihan yang selama ini paling dibenci oleh Fathan. Yang terpancar dari mata Varisha murni adalah rasa ingin tahu yang tulus terhadap perjalanan hidup seorang pria yang kini duduk di depannya.

"Fan, jujur ya, kadang gue penasaran setengah mati sama masa lalu lu," ucap Varisha memecah obrolan ringan mereka. "Lu kan sekarang udah di posisi puncak, mapan, bisa beli apa aja yang lu mau. Tapi kenapa tatapan mata lu tuh kadang masih keliatan kosong kayak nyimpen cerita sedih yang belum kelar?"

Fathan merenggangkan punggungnya, bersandar pada kursi kayu. Ia menarik napas panjang sebelum menjawab. "Cerita lama, Rish. Nggak ada yang terlalu istimewa sebenarnya. Cuma kisah klise tentang anak daerah yang merantau ke Jakarta, banting tulang siang malam, dan mengorbankan banyak hal demi sebuah ambisi."

"Ah, masa iya cuma sekadar kisah klise? Orang kalau berkorban segitunya pasti ada harga mahal yang udah dibayar di belakang. Sosoan ditutup-tutupi lagi," sanggah Varisha sambil mengangkat sebelah alisnya, tersenyum geli. "Hayoh ngaku, ada urusan percintaan masa lalu yang kandas di tengah jalan kan makanya lu jadi ‘arsitek kesendirian’ kayak sekarang?"

Tebakan telak itu membuat Fathan terhening sejenak. Ia tidak menyangka Varisha bisa membaca karakternya seakurat itu hanya dalam waktu beberapa minggu bekerja sama.

"Kok lu bisa nebak ke arah situ?" tanya Fathan penasaran.

"Gampang dibaca, Fan. Orang yang terlalu sibuk ngebangun benteng pertahanan diri biasanya karena dia pernah hancur lebur di masa lalu dan nggak mau ngerasain sakit yang sama untuk kedua kalinya," jawab Varisha tenang, tanpa keraguan sedikit pun dalam suaranya. "Leres kan tebakan urang?"

Lihat selengkapnya