
Langit sore di atas kota Bandung menyapukan warna jingga keemasan yang memantul indah di kaca-kaca gedung perkantoran kawasan Riau. Di sebuah kedai kopi bergaya minimalis yang tenang, Fathan duduk di kursi kayu dekat jendela besar. Di hadapannya terbentang laptop yang menyala terang, menampilkan tabel anggaran proyek renovasi gedung yang harus ia selesaikan sebelum tenggat waktu minggu depan. Suasana kafe yang sunyi dipadu aroma biji kopi arabika pilihan menciptakan ketenangan tersendiri bagi pikirannya yang sejak pagi tadi berkutat dengan angka-angka rumit.
Tidak berselang lama, bunyi lonceng kecil di pintu masuk kafe berdenting lembut. Seorang perempuan berbalut mantel rajut warna beige melangkah masuk dengan langkah pasti, membawa sebuah map arsip biru di tangannya. Senyumnya mengembang begitu ia menangkap sosok Fathan di sudut ruangan. Nisa berjalan mendekat, lalu menarik kursi di seberang Fathan tanpa banyak suara, seolah gerakan itu sudah menjadi kebiasaan yang melekat secara alami di antara mereka berdua.
"Lama ya nunggunya, Fan? Macet tadi di Pasteur parah pisan," sapa Nisa lembut sambil meletakkan tas jinjingnya di atas kursi kosong sebelah.
Fathan menutup layar laptopnya setengah, lalu tersenyum tipis menyambut kedatangan perempuan itu. "Teu nanaon, Nis. Urang oge kakara pisan nepi lima menit nu katukang. Kumaha urusan klien di kantor tadi, lancar?" tanyanya balik, nada suaranya terdengar santai tanpa beban kekhawatiran berlebih. (Tidak apa-apa, Nis. Aku juga baru banget sampai lima menit yang lalu. Gimana urusan klien di kantor tadi, lancar?)
"Alhamdulillah lancar, sanajan rada pusing kudu nguruskeun révisi deui ti awal," jawab Nisa sambil menghela napas lega, memesan segelas caffe latte hangat kepada pelayan yang datang menghampiri meja mereka.
Hubungan Fathan dan Nisa memang tidak pernah diwarnai oleh drama percintaan remaja yang melelahkan. Tidak ada kecurigaan berlebihan, tidak ada amarah meledak-ledak hanya karena pesan lambat dibalas, atau cemburubuta yang menguras energi batin. Mereka berdua menjalani hubungan sebagai dua orang dewasa yang sama-sama sibuk dengan karier, target masa depan, dan tanggung jawab profesional masing-masing. Ketika keduanya sibuk dengan proyek besar, mereka tahu betul cara memberikan ruang privat satu sama lain tanpa merasa diabaikan.
"Tah, ieu dokumen anu dipenta ku anjeun kamari," kata Nisa sambil menyerahkan map arsip biru kepada Fathan. "Bisi peryogi dikeureuyeuh wengi ayeuna kanggo rapat énjing." (Nih, dokumen yang diminta sama kamu kemarin. Kali aja perlu dikerjain malam ini buat rapat besok.)
Fathan menerima map tersebut, jemarinya bersentuhan sekilas dengan tangan Nisa. Ada kehangatan yang menjalar di dada Fathan, bukan getaran cinta monyet yang menggebu-gebu, melainkan ketenangan batin yang solid. "Nuhun pisan, Nis. Anjeun mah ti baheula tara pernah gagal mun mantuan urang," puji Fathan tulus, menatap mata Nisa lekat-lekat. (Makasih banyak, Nis. Kamu mah dari dulu gak pernah gagal kalau bantu aku.)
"Ah, biasa waé, Fan. Tos biasa silih tulungan," balas Nisa tersenyum simpul, menyeruput kopi hangat yang baru saja disajikan oleh pelayan kafe.
Di tengah kesibukan harian mereka yang padat merayap—Fathan dengan dunia arsitektur dan konstruksinya, serta Nisa dengan manajemen proyek korporatnya—waktu terasa berjalan dengan ritme yang sangat seirama. Mereka tidak perlu membuang energi untuk hal-hal sepele, karena setiap detik kebersamaan selalu diisi dengan dukungan nyata dan visi hidup yang searah.
❖ ❖ ❖
Hari berganti hari, minggu berganti minggu. Tanpa terasa, ritme kehidupan yang mereka jalani telah berjalan selama berbulan-bulan dalam harmoni yang nyaris sempurna. Sore di kedai kopi Braga kini telah berganti menjadi malam yang sunyi di dalam sebuah mobil SUV hitam milik Fathan yang melaju tenang membelah jalanan kota Bandung menuju kawasan Dago Pakar. Lampu-lampu kota terlihat berkilauan dari ketinggian, menyerupai taburan berlian yang membentang di atas permadani hitam malam hari.
Fathan mengemudikan kendaraannya dengan satu tangan, sementara tangan kirinya dengan santai memutar stasiun radio lokal yang memutar alunan musik jazz instrumental bernuansa lembut. Di sebelah kursi pengemudi, Nisa duduk tenang sambil memandangi pemandangan lampu kota melalui jendela kaca mobil yang sedikit terbuka, membiarkan udara malam Lembang yang sejuk menyentuh kulit wajah mereka berdua.
"Urang bungah pisan tiasa pendak sareng jalma anu saluyu kieu, Fan," ucap Nisa tiba-tiba memecah keheningan di dalam kabin mobil, menoleh ke arah Fathan dengan senyuman tipis di bibirnya. (Aku senang banget bisa ketemu sama orang yang sejalan gini, Fan.)
Fathan melirik sekilas ke arah Nisa, lalu kembali fokus menatap jalanan aspal di depan. "Urang ogé ngarasakeun hal nu sarua, Nis. Hirup karasa leuwih gampang lamun boga pasangan anu ngartikeun kasibukan sewang-sewangan," balas Fathan dengan suara berat yang menenangkan. (Aku juga ngerasain hal yang sama, Nis. Hidup terasa lebih gampang kalau punya pasangan yang ngartikeun kesibukan masing-masing.)
Mobil perlahan berbelok memasuki area parkir sebuah restoran keluarga yang dikelilingi pohon pinus rindang. Tempat itu dipilih bukan karena kemewahannya, melainkan karena suasananya yang tenang dan jauh dari kebisingan pusat kota, tempat yang sempurna bagi dua orang dewasa untuk menikmati makan malam tanpa gangguan setelah seharian penuh berkutat di bawah tekanan pekerjaan kantor masing-masing.
❖ ❖ ❖
Begitu mereka duduk di meja kayu sudut restoran terbuka dengan pemandangan langsung ke lembah lampu kota Bandung, pelayan datang membawa buku menu. Namun, sebelum mereka sempat memilih makanan, ponsel di dalam saku jas Fathan berdering nyaring, memecah ketenangan malam itu. Fathan mengeluarkan ponselnya, melihat nama manajer senior konstruksi tertera di layar datar.