Titik Temu

Amrullah Ibrahim
Chapter #23

Rumah Baru di Atas Kertas

Cahaya matahari pagi menyusup lembut melalui celah jendela kaca lantai dua puluh lima gedung perkantoran di kawasan Sudirman. Udara Jakarta terasa segar, setidaknya untuk ukuran kota metropolitan yang tak pernah tidur. Di dalam ruang kerja privat yang menghadap langsung ke panorama gedung-gedung pencakar langit, Fathan duduk di atas kursi putar kulit berwarna hitam. Di hadapannya, sebuah meja kerja besar dipenuhi dengan lembaran-lembaran kertas sketsa desain, kalkulasi finansial, dan grafik karier yang tersusun rapi.

Pintu kaca terbuka tanpa suara, memperlihatkan Varisha yang berjalan masuk dengan membawa dua cangkir kopi panas. Perempuan berblazer krem itu meletakkan salah satu cangkir di atas meja kerja Fathan sebelum akhirnya menarik kursi dan duduk tepat di hadapannya.

"Minum dulu, Fath. Jangan kebawa ambisi mulu dari pagi, nanti lambung lu protes," tegur Varisha lembut sambil tersenyum tipis, menampilkan lesung pipit di pipi kanannya.

Fathan mendongak dari tumpukan kertas grafiknya, lalu tersenyum hangat menyambut kehadiran perempuan yang kini telah menjadi belahan jiwanya sekaligus rekan strategis paling diandalkan dalam hidupnya. "Siap, Bos. Makasih ya kopinya. Lu emang paling ngerti kalau gua lagi mode fokus tingkat dewa."

"Jelas dong, kalau nggak diawasin, lu bisa lupa waktu dan berakhir sakit maag lagi," balas Varisha setengah meledek sambil menyeruput kopinya pelan. "Saréhat mah nomor hiji, Fath, ulah hayang gancang beunghar tapi awak hancur."

Fathan tertawa renyah mendengar selipan bahasa Sunda yang sudah sangat akrab di telinganya itu. Hubungan mereka memang tidak dibangun di atas dasar drama percintaan remaja yang penuh air mata dan drama cemburu buta seperti masa lalunya bersama Nisa. Hubungan Fathan dan Varisha adalah sebuah aliansi yang kokoh, matang, dan sangat rasional. Mereka berdua adalah arsitek bagi masa depan mereka sendiri.

"Ngomong-ngomong soal masa depan, lembaran data promosi jabatan kuartal ini udah keluar di meja HRD," ujar Fathan serius sambil menggeser selembar dokumen kepada Varisha. "Dan hasilnya sesuai prediksi kita berdua."

Varisha meletakkan cangkirnya, lalu mengambil lembaran kertas tersebut dengan gerakan tangannya yang anggun. Matanya dengan cepat memindai setiap baris nama dan jabatan baru yang tertera di sana. Senyum puas langsung terkembang di bibirnya.

"Puji syukur, alhamdulillah. Lu resmi naik jadi Creative Director regional, dan gua dipromosikan jadi VP of Strategic Marketing," kata Varisha dengan nada takjub bercampur bangga. "Tah, ieu mah hasil kerja keras urang duaan salami dua tahun terakhir. Teu sia-sia urang sering begadang di kantor nepi ka subuh."

"Ini baru permulaan, Var," jawab Fathan mantap, menatap lurus ke dalam mata Varisha. "Sesuai rencana jangka panjang yang udah kita susun di atas kertas bulan lalu, target kita selanjutnya adalah merampungkan investasi properti pertama sebelum akhir tahun ini, lalu melangkah ke jenjang yang lebih serius."

Varisha mengangguk setuju, matanya berbinar penuh keyakinan. Tidak ada keraguan sedikit pun di wajah perempuan itu. Bagi mereka, pernikahan bukan lagi sekadar urusan romantisme buta atau desakan tradisi keluarga di kampung halaman, melainkan sebuah proyek kehidupan jangka panjang yang dirumuskan secara matang—mulai dari portofolio keuangan, perencanaan karier, hingga pembagian peran yang adil di masa depan.

Refleksi masa lalu sempat terlintas sejenak di benak Fathan. Dulu, ia pernah merasa hidupnya buntu di stasiun kereta saat meratapi cincin yang kehilangan tuannya bersama bayang-bayang Nisa. Namun kini, semua kenangan pahit itu terasa begitu jauh. Nisa adalah tentang menunggu dengan pasrah, sementara Varisha adalah tentang merencanakan, membangun, dan bergerak maju bersama-sama menaklukkan dunia.

❖ ❖ ❖

Siang harinya, suasana di ruang rapat utama lantai sepuluh terasa lebih santai namun tetap produktif. Fathan dan Varisha memimpin rapat koordinasi tertutup yang hanya dihadiri oleh para kepala divisi inti perusahaan. Di atas meja panjang tersaji portofolio finansial dan draf proposal investasi properti yang akan mereka ambil di kawasan Jakarta Selatan.

"Jadi, berdasarkan analisis risiko yang udah kita hitung matang-matang semalam, pembelian unit apartemen di dekat stasiun MRT ini jauh lebih menguntungkan dibanding beli rumah tapak di pinggiran kota untuk saat ini," jelas Fathan sambil menunjuk grafik kenaikan harga properti di layar proyektor. "Selain akses transportasi yang gampang buat mobilitas kerja kita berdua, nilai investasinya juga naik rata-rata belasan persen tiap tahun."

Salah satu manajer keuangan, Rudi, mengangguk setuju sambil merapikan kacamatanya. "Analisisnya solid banget, Pak Fathan. Dari segi cash flow bulanan juga masih sangat aman setelah dipotong alokasi tabungan nikah dan dana darurat."

Varisha menambahkan dengan nada tegas dan lugas, "Leres pisan, Kang Rudi. Urang kedah tiasa ningali jauh ka payun. Ulah ngan saukur meuli barang anu gengsi hungkul tapi engkéna malah nyusahkeun kana kaséhatan finansial kulawarga."

Fathan melirik Varisha sekilas, merasa kagum pada cara perempuan itu menyampaikan argumen finansial dengan sangat rasional namun tetap membumi. Tidak ada gengsi berlebihan di antara mereka. Semua keputusan diambil berdasarkan data empiris, kemampuan finansial riil, dan visi masa depan yang realistis.

"Ada sanggahan atau usulan lain dari tim?" tanya Fathan kepada seluruh peserta rapat.

"Cukup jelas, Pak. Kami dukung penuh rencana investasi dan langkah strategis kalian berdua," jawab Rudi mewakili rekan-rekan yang lain.

"Baik, kalau begitu rapat kita cukupkan sampai di sini. Terima kasih atas kerja samanya, teman-teman," tutup Fathan sambil mengetuk meja pelan.

Begitu ruangan rapat kembali kosong dan pintu tertutup rapat, Varisha menghembuskan napas panjang, menyandarkan tubuhnya di kursi dengan santai. "Alhamdulillah, lancar presentasi dinten ayeuna mah. Tinggal léngkah satuluyna, nyaéta nguruskeun perizinan KPR jeung persiapan administrasi nikah urang," ucap Varisha sambil tersenyum menggoda ke arah Fathan.

Fathan terkekeh pelan, lalu beranjak dari kursinya untuk menghampiri Varisha yang duduk di seberang meja. Ia menarik kursi kecil dan duduk tepat di sebelah perempuan itu, merapikan beberapa helai rambut Varisha yang sedikit berantakan.

"Lu bener-bener partner hidup terbaik yang pernah ada, Var. Gua gak nyangka hidup gua bakal sesimetris ini perencanaannya," puji Fathan tulus.

Varisha mencubit pelan lengan Fathan sambil tertawa kecil. "Ah, sok nggombal waé bapak direktur mah. Padahal mah ieu téh murni hasil kerja keras urang duaan, sanés ulin siluman."

Meskipun terdengar sangat terstruktur seperti proposal bisnis korporat, Fathan justru menemukan kedamaian yang luar biasa dalam hubungan ini. Tidak ada lagi rasa cemas berlebihan, tidak ada lagi ketakutan akan perbedaan latar belakang sosial, dan tidak ada lagi air mata penyesalan seperti di masa lalu. Semuanya berjalan di atas jalur yang jelas, rasional, dan penuh rasa hormat satu sama lain.

Lihat selengkapnya