Matahari sore di kota kembang menyemburkan pendar kemerahan yang dramatis, memantul megah di atas lembaran kaca raksasa gedung galeri arsitektur pusat kota Bandung. Di dalam ruangan utama yang luas dan beraroma cat dinding baru serta kertas cetak biru, suara tawa riang dan tepuk tangan menggema meriah. Para staf, arsitek muda, dan dewan juri sayembara desain tata kota baru berdiri berkerumun, merayakan pengumuman resmi yang baru saja terpampang di layar utama proyektor. Nama Varisha keluar sebagai juara pertama, memenangkan tender desain revitalisasi kawasan heritage yang selama ini menjadi impian terbesar dalam hidupnya.
Varisha menutup mulutnya dengan kedua tangan, matanya langsung berkaca-kaca menahan gelombang haru yang membuncah di dalam dadanya. Tanpa bisa menahan diri lagi, ia melompat kegirangan di tempat, berputar kecil sambil mengangkat kedua tangannya ke udara. Kegembiraan yang meluap-luap itu terpancar jelas dari setiap gerakannya, menular kepada semua orang yang berdiri di sekelilingnya.
"Alhamdulillah ya Allah! Nuhun pisan, Gusti!" jerit Varisha histeris dalam balutan emosi yang luar biasa bahagia, menggunakan logat Sunda yang kental dan spontan. Ia langsung menghambur memeluk rekan-rekan kerjanya satu persatu yang berbaris memberikan ucapan selamat.
Di tengah riuh rendah suara ucapan selamat dan binar lampu blitz kamera ponsel yang mengabadikan momen bersejarah itu, Fathan berdiri terpaku di sudut ruangan. Ia mengenakan setelan jas formal abu-abu muda, tersenyum lebar di hadapan publik, namun ada sensasi aneh yang mendadak merayap di dalam rongga dadanya. Tepat ketika Varisha menoleh ke arahnya dengan senyuman paling bangga dan mematikan yang pernah Fathan lihat, denyut jantung Fathan justru terasa melambat drastis. Sebuah keheningan mendadak tercipta di dalam kepalanya, seolah memisahkan dirinya dari hiruk-pikuk euforia kemenangan di sekelilingnya.
"Wah, hebat euy si Varisha! Desainnya bener-bener tembus jadi juara utama, Fan. Lu sebagai konsultan pendamping pasti bangga banget dong?" puji Pak Dirman, salah seorang petinggi proyek, sambil menepuk bahu Fathan cukup kencang.
Fathan mengerjap seketika, berusaha menarik sudut bibirnya membentuk senyuman profesional. "Iya, Pak. Varisha emang luar biasa kerjanya. Desainnya layak menang."
"Heh, Fathan! Kunaon malah ngalamun di situ? Sini gabung, ulah jadi patung maneh teh!" panggil Varisha riang dari tengah kerumunan, melambaikan tangan dengan penuh semangat menggunakan logat Sunda yang hangat.
Fathan melangkah mendekat, namun ketakutan purba yang entah sejak kapan bersemayam di dasar hatinya tiba-tiba bangkit menggelitik tenggorokan. Ia merasa sedang menyaksikan seseorang melesat tinggi terbang menggapai bintang, sementara dirinya mendadak merasa kerdil dan tertinggal di bawah.
❖ ❖ ❖
Perayaan kecil berlanjut di sebuah restoran rooftop mewah yang menghadap langsung ke arah lampu-lampu kota Bandung yang mulai berpendar indah di malam hari. Angin malam berhembus sejuk, membawa aroma pinus dan kehangatan tawa dari meja panjang yang dipesan khusus untuk merayakan kemenangan Varisha. Gelas-gelas jus buah dan moktail berdenting ringan di udara, diiringi obrolan hangat tentang masa depan proyek besar yang akan segera mereka garap bersama dalam beberapa bulan ke depan.
Varisha duduk di sebelah Fathan, wajahnya masih memancarkan rona kebahagiaan yang belum sepenuhnya reda. Matanya berbinar-binar terang di bawah temaram lampu gantung restoran.
"Fan, jujur ya, dari tadi siang waktu namaku disebut jadi juara pertama, rasanya tuh kayak mimpi. Asa keur ngalamun waé urang teh," ucap Varisha penuh semangat sambil menatap Fathan lekat-lekat.
Fathan tersenyum tipis, meneguk air mineral dari gelasnya pelan. "Emang mimpi yang diwujudkan lewat kerja keras, Rish. Lu pantes banget dapetin itu semua."
"Tapi tanpa dukungan dan masukan kritis dari lu selama kita garap konsep tata kota ini, mungkin hasilnya nggak bakal sesempurna ini, Fan. Nuhun pisan ya udah sabar ngadepin sifat egois urang selama ini," tambah Varisha tulus, jemarinya menyentuh punggung tangan Fathan sekilas di atas meja.
Sentuhan hangat itu alih-alih menenangkan, justru membuat debar jantung Fathan semakin tidak beraturan. Ada rasa sesak yang tiba-tiba mencengkeram dadanya. Di saat Varisha baru saja membuka pintu gerbang kesuksesan terbesar dalam kariernya, Fathan justru disergap oleh bayangan kelam tentang ketidakpastian. Ia menyadari satu hal yang selama ini ia tepis jauh-jauh: Varisha kini telah terbang terlalu tinggi, menjadi arsitek ternama yang namanya akan diperhitungkan di tingkat nasional, sementara dirinya hanyalah seorang profesional korporat yang kariernya terikat pada sistem perusahaan tempat ia bekerja.
"Sama-sama, Rish. Lu emang dari dulu punya kapasitas itu," jawab Fathan dengan nada suara yang terdengar sedikit datar, berusaha menutupi gejolak batinnya.