Titik Temu

Amrullah Ibrahim
Chapter #26

Bayang-Bayang Jarak yang Kembali

Udara malam kota Bandung meresap dingin melalui celah kaca jendela ruang tamu apartemen minimalis milik Fathan. Di luar sana, lampu-lampu jalanan berkelap-kelip menyerupai kunang-kunang kota yang lelah, sementara deru kendaraan dari jalan raya utama terdengar samar seperti dengungan lebah dari kejauhan. Di atas meja kayu jati di hadapannya, tergeletak sebuah amplop surat berwarna putih bersih dengan stempel pos internasional berlogo perguruan tinggi ternama di Eropa. Surat itu bukan miliknya, melainkan milik Maya, perempuan yang baru beberapa bulan terakhir mengisi hari-harinya dengan gelombang kedekatan yang menenangkan.

Fathan menatap amplop itu dengan tatapan kosong, sementara cangkir kopi hitam di tangannya mengepulkan uap tipis yang perlahan buyar di udara. Di dalam dadanya, sebuah alarm darurat berbunyi nyaring, membangkitkan kembali memori-memori lama yang selama bertahun-tahun ia kubur dalam-dalam di dasar kesadarannya. Trauma masa lalu itu kembali mencengkeram erat tenggorokannya, menghadirkan kembali rasa sesak yang persis sama seperti ketika Nisa, masa lalunya, memilih untuk terbang jauh meninggalkan tanah Sunda demi ambisi akademis lintas benua.

Pintu kamar mandi terbuka, dan Maya melangkah keluar mengenakan piyama tidur berwarna biru muda sambil mengeringkan rambutnya yang basah menggunakan handuk kecil. Senyum manis terukir di wajah perempuan itu, memancarkan antusiasme yang membara.

"Fan, kamu udah ngebuka surat dari Amsterdam itu?" tanya Maya riang, menghampiri meja dan duduk di sofa sebelah Fathan.

Fathan mengangkat kepalanya perlahan, menatap mata Maya yang berbinar-binar penuh harapan. "Belum, May. Aku baru ninggalin amplopnya di atas meja," jawab Fathan dengan suara berat yang sengaja ia kendalikan agar tidak bergetar.

Maya menghela napas girang, jemarinya meraih amplop putih tersebut dengan tangan gemetar penuh antisipasi. "Beasiswa riset pascasarjana ini akhirnya keluar juga, Fan. Kesempatan emas buat aku ngambil spesialisasi tata kota hijau langsung di Belanda selama dua tahun penuh!" serunya penuh semangat.

Mendengar kata-kata itu, dunia di sekeliling Fathan seolah mendadak runtuh ke dalam keheningan yang memekakkan telinga. Bayangan masa lalu kembali menyerbu kepalanya tanpa ampun. Ia tahu betul apa artinya hubungan jarak jauh antarkota, apalagi hubungan antarbenua yang terbentang ribuan kilometer antara Bandung dan Amsterdam. Pengalaman pahit bertahun-tahun lalu bersama Nisa belum sepenuhnya kering dari ingatannya, dan kini takdir seolah dengan sengaja melemparkannya kembali ke lubang hitam yang sama.

"Dua tahun, May?" tanya Fathan lirih, menatap Maya dengan pandangan nanar. (Dua tahun, May?)

"Iya, Fan. Cuma dua tahun, tapi dampaknya bakal luar biasa buat karier aku ke depannya," jawab Maya antusias, tanpa menyadari badai emosi yang sedang berkecamuk di dalam dada pria di hadapannya. "Aku yakin kita bisa ngejalaninnya. Jarak kan cuma angka, komunikasi sekarang gampang."

Fathan menggelengkan kepalanya pelan, senyuman hambar tersungging di bibirnya. "Maya, aing téh apal pisan kumaha rasana LDR téh. Urang pernah ngalaman éta jeung jalma nu baheula, jeung tungtungna ukur mangrupa kanyeri nu teu daék pareum," ucap Fathan dengan nada campuran Sunda yang menyiratkan kepedihan mendalam. (Maya, aku teh tau persis gimana rasanya LDR teh. Aku pernah ngalaman itu sama orang yang dulu, dan ujungnya cuma berupa kepedihan yang gak mau padam.)

Maya tertegun sejenak, senyum di wajahnya memudar perlahan. Ia meletakkan kembali amplop itu ke atas meja. "Tapi aku bukan perempuan masa lalumu itu, Fan. Kenapa kamu harus menyamakan aku sama dia?" tanya Maya, nada suaranya mulai meninggi menyiratkan kekecewaan.

Ketegangan langsung menyelimuti ruangan tamu yang sempit itu. Fathan merasa terjebak dalam bayang-bayang masa lalu yang datang menagih janji ketakutannya. Ia tahu hubungan mereka baru seumur jagung, namun bayangan jarak yang kembali membentang di depan mata membuat sekujur tubuhnya kaku menahan rasa takut kehilangan untuk kesekian kalinya.

❖ ❖ ❖

Malam semakin larut, keheningan di dalam apartemen Fathan terasa semakin menyesakkan dada. Setelah perdebatan singkat yang berakhir dengan keheningan kaku, Maya memilih untuk masuk ke kamar tamu, meninggalkan Fathan sendiri di ruang keluarga bersama segelas kopi dingin yang tak tersentuh.

Fathan bangkit dari sofa, melangkah pelan menuju jendela kaca besar yang memperlihatkan kerlip lampu kota Bandung dari lantai atas. Kota ini tetap tenang, indah, dan romantis bagi siapa saja yang jatuh cinta. Namun bagi Fathan, kota ini adalah saksi bisu atas dua babak kehidupan yang terpola secara identik: mencintai seseorang dengan tulus, lalu dipisahkan oleh sebuah amplop penerimaan beasiswa luar negeri yang membawa pergi orang tersayang ke belahan dunia lain.

Ia menarik napas panjang, memejamkan mata sejenak untuk menenangkan degup jantungnya yang tidak beraturan. Pikirannya melayang menembus batas waktu, membandingkan kejadian hari ini dengan apa yang terjadi bertahun-tahun lalu bersama Nisa.

"Waktu bener-bener kejem," gumam Fathan lirih pada kaca jendela yang berembun karena hawa dingin malam. (Waktu bener-bener kejam.)

Ia merasa waktu sedang mempermainkannya dengan kejam, mengulang pola cerita yang sama persis namun dengan aktor yang berbeda. Dulu Nisa, sekarang Maya. Pola penolakan, ketakutan akan jarak, dan pilihan berat di ujung batas kembali menghantui setiap jengkal kewarasannya. Fathan tahu ia harus mengambil sikap, namun trauma masa lalu telah melumpuhkan keberanian di dalam hatinya.

❖ ❖ ❖

Keesokan paginya, suasana di apartemen terasa dingin dan kaku. Maya keluar dari kamar tamu dengan pakaian kerja rapi, membawa tas jinjing di bahunya. Tidak ada sapaan ceria seperti biasanya; yang terdengar hanya bunyi gesekan sepatu di lantai keramik dan desahan napas berat dari keduanya.

Fathan duduk di meja makan, menatap cangkir teh hangat di depannya tanpa minat. Ia tahu ia harus membuka percakapan untuk meredakan ketegangan, namun rasa takut terjebak dalam memori masa lalu membuat lidahnya terasa kelu.

Lihat selengkapnya