Malam Minggu di kawasan Menteng, Jakarta Pusat, menawarkan ketenangan yang kontras dengan hiruk-pikuk hari biasa di area perkantoran SCBD. Lampu-lampu taman kota memancarkan cahaya kuning temaram, menerangi jalur pejalan kaki yang bersih dari sampah serta deretan bangku kayu panjang yang dikelilingi semak-semak hias tertata rapi. Di salah satu bangku sudut taman itulah Fathan dan Varisha duduk berdampingan, menikmati angin malam yang berhembus lembut membawa kesejukan setelah seharian kota ini diguyur panas terik. Di hadapan mereka, secangkir kopi hangat yang dibeli dari kedai seberang jalan mengepulkan uap tipis ke udara malam yang sunyi.
Namun, ketenangan suasana di luar tidak sejalan dengan gemuruh pikiran yang sedang berkecamuk di dalam dada Fathan. Wajahnya tampak sedikit tegang, matanya menatap lurus ke arah pantulan cahaya lampu taman di atas paving block, sementara jemarinya gelisah mengetuk-ngetuk permukaan cangkir kertas yang dipegangnya. Baru saja sore tadi, Varisha menerima tawaran karier prestisius dari kantor pusat agensi mereka untuk memimpin divisi strategi baru di cabang regional Asia Tenggara yang berpusat di Singapura—sebuah lompatan besar yang sudah lama diidam-idamkan oleh setiap profesional ambisius di industri kreatif.
"Jadi... lu beneran bakal nerima tawaran pindah ke Singapura itu, Var?" tanya Fathan akhirnya, memecah keheningan di antara mereka dengan suara yang terdengar sedikit kaku dan berat.
Varisha menoleh, menatap Fathan dengan sorot mata yang tajam namun penuh kelembutan. Ia bisa menangkap dengan jelas bayang-bayang kekhawatiran yang terselip di balik sikap rasional yang coba ditampilkan oleh lelaki di sampingnya itu. "Iya, Fan. Surat penawarannya udah dikirim HRD tadi sore, dan batas waktu konfirmasinya minggu depan. Peluang kayak gini jarang banget dateng dua kali buat karier urang."
Fathan mengangguk pelan, mencoba tersenyum untuk menunjukkan dukungan penuhnya. "Bagus dong, itu kan emang impian lu dari dulu semenjak kita pertama kenal. Lu pantes dapet posisi itu, Var. Kemampuan dan kerja keras lu emang nggak ada tandingannya."
"Tapi katingali jelas tina panon maneh yén aya kateuteu genah, Fan. Ulah waka pura-pura tegar kitu ka urang," sanggah Varisha lembut, menyentuh punggung tangan Fathan yang sedang memegang cangkir kopi.
Fathan menghela napas panjang, tidak bisa lagi menyembunyikan getar kegelisahan di dalam suaranya. "Bukannya nggak dukung, Var. Gue jujur bangga banget sama lu. Cuma... bayangin aja, Singapura-Jakarta itu bukan jarak yang dekat. Gue takut kita balik lagi ngadepin pola LDR yang dulu pernah bikin trauma masa lalu gue hancur berantakan."
Varisha tersenyum tipis, merapatkan duduknya untuk memberikan kehangatan di tengah malam yang mulai dingin. "Tah eta nu dipikasieun ku maneh téh, nya? Trauma baheula."
❖ ❖ ❖
Fathan menunduk, menatap cangkir kopinya yang kini hampir mendingin. Ingatannya sekilas melayang kembali pada masa-masa kelam ketika ia terjebak dalam hubungan jarak jauh yang penuh tuntutan dan kebisuan di masa lalu—sebuah memori tentang janji naif di bawah pohon mahoni di Lampung yang berujung pada kekecewaan mendalam sebelum akhirnya ia temukan kedewasaan bersama Varisha di Jakarta. Ketakutan akan kehilangan orang yang dicintai akibat terhalang jarak fisik dan perbedaan dunia kembali mencengkeram hatinya secara perlahan.
"Gue trauma bukan karena nggak percaya sama lu, Var. Tapi gue takut jarak dan kesibukan baru di sana bakal bikin kita makin jauh, kayak rel kereta yang beda arah," aku Fathan jujur, suaranya terdengar parau menahan beban emosional yang menumpuk.
Varisha menarik napas dalam-dalam, lalu membuangnya perlahan sambil menatap lurus ke mata Fathan di bawah temaram lampu taman. "Fan, dengkeun urang. Hubungan urang jeung batur di masa lalu téh béda pisan. Waktu harita mah maneh jeung mantan maneh téh kénéh nuju mereskeun égo séwang-séwangan, sarta loba kénéh kateupastian dina hirup."
"Tapi Singapura itu beda negara, Var. Bukan cuma beda kota kayak Jakarta-Bandung," balas Fathan dengan nada cemas yang masih kentara.
"Bener, jarakna jauh. Tapi ari haténa mah geus dewasa mah, kilometer téh ngan ukur angka dina peta, Fan," kata Varisha tegas namun menenangkan. "Urang duaan geus lain budak rumaja nu gampang nyerah ku kaayaan. Urang silihrojong ambisi, sarta urang geus boga pondasi kapercayaan nu kuat pisan."
Fathan terdiam mendengarkan setiap kalimat yang meluncur dari bibir Varisha. Ada ketegasan yang rasional sekaligus kehangatan emosional yang meruntuhkan benteng kekhawatirannya satu per satu. Varisha tidak pernah meminta Fathan untuk menjadi lelaki lemah yang bergantung padanya, melainkan mengajak Fathan untuk berdiri sejajar sebagai mitra hidup yang matang dalam menghadapi segala tantangan zaman.
"Lu bener-bener nggak takut kalau hubungan kita diuji jarak sejauh itu, Var?" tanya Fathan lirih, mencari kepastian di dalam sorot mata perempuan di hadapannya.