Cahaya lampu meja kerja berwarna kuning temaram memantul di atas layar laptop yang menampilkan sebuah dokumen PDF berhalaman panjang. Di sekelilingnya, suasana apartemen mungil di kawasan Sudirman terasa begitu senyap, hanya menyisakan deru pelan pendingin ruangan dan suara ketukan hujan rintik-rintik di kaca jendela luar. Fathan mematung di kursi kerjanya, menatap lurus pada sebuah kalimat tebal di paragraf ketiga surat resmi penerimaan beasiswa luar negeri yang baru saja mendarat di kotak masuk surel pribadinya.
"Lima tahun..." gumam Fathan pelan, suaranya nyaris tenggelam di dalam ruangan yang sunyi. Tangannya yang memegang tetikus mendadak terasa dingin.
Ia tidak langsung bersorak gembira sebagaimana layaknya orang yang baru saja memenangkan lotre akademik terbesar dalam hidupnya. Beasiswa magister yang berlanjut langsung ke program riset doktoral itu bukan durian runtuh yang instan; itu adalah komitmen waktu sepanjang setengah dekade penuh. Di usia yang menginjak angka kepala tiga, lima tahun bukan lagi sekadar rentang waktu yang bisa diabaikan begitu saja dengan dalih mengejar cita-cita tanpa batas.
Pintu kamar terbuka perlahan, menampilkan Varisha yang berjalan mendekat dengan mengenakan piyama tidur motif garis-garis lembut, membawa dua cangkir teh chamomile hangat di atas nampan kecil. Perempuan itu melirik ekspresi wajah suaminya yang tampak kaku, lalu meletakkan cangkir tersebut di meja kerja sebelum menarik kursi di sebelah Fathan.
"Kenapa muka lu ditekuk begitu, Fath? Surat dari kampus luar negerinya udah keluar ya?" tanya Varisha lembut, matanya menatap layar laptop sekilas. "Aya naon, beurat katingalna mah?"
Fathan menghela napas panjang, mengalihkan pandangannya dari layar ke arah sang istri. "Iya, suratnya udah keluar, Var. Dan isinya... ternyata jauh lebih panjang dari perkiraan awal kita."
"Panjang kumaha maksudna?" Varisha mengernyitkan dahi, mulai merasa penasaran. "Coba jelaskeun ka urang, ulah satengah-satengah kitu."
"Beasiswa ini bukan cuma program magister dua tahun, Var. Tapi langsung integrated sampai program riset doktoral. Total durasinya... lima tahun penuh di luar negeri," ungkap Fathan berat, jemarinya mengetuk-ngetuk permukaan meja secara monoton.
Varisha terdiam sejenak, mencerna informasi tersebut. Lima tahun. Bukan waktu yang singkat bagi pasangan suami istri yang baru saja merajut lembaran rumah tangga mereka di atas fondasi rasionalitas dan perencanaan matang di ibu kota. Lima tahun berarti separuh dekade terbentang di antara jarak benua, zona waktu yang berbeda, serta dinamika karier dan hubungan yang harus diatur ulang dari akar.
"Lima tahun..." ucap Varisha mengulang angka tersebut, suaranya terdengar datar namun menyiratkan gelombang pikiran yang berputar kencang di dalam kepalanya. "Lila gé pisan, nya. Tapi da ari rezeki élmu mah pan ti baheula gé urang duaan geus sapuk."
"Bukan masalah rezeki ilmunya, Var. Tapi lu hitung deh umur gua pas lulus nanti," Fathan mendesah berat, jemarinya memutar kalender digital di layar ponselnya. "Lamun ditambah lima taun, umur gua geus nginjak 35 tahun, belum lagi mikirin rencana kita soal momongan, cicilan apartemen, jeung stabilitas karier jangka panjang. Angka di kalender ayeuna bener-bener teu mihak kana kesabaran nu teu pasti deui."
Di titik inilah realitas pahit mulai menghantam kesadaran mereka. Selama ini, Fathan dan Varisha terbiasa merencanakan segala sesuatu secara presisi seperti insinyur merancang bangunan. Namun, takdir akademik sering kali menuntut pengorbanan logistik dan waktu yang jauh melampaui batas kenyamanan sebuah perencanaan linear.
❖ ❖ ❖
Perdebatan rasional di ruang kerja malam itu berlanjut hingga larut malam. Tidak ada nada tinggi atau drama air mata; yang ada hanyalah suara ketukan jempol di atas meja dan lembaran kertas kalkulasi finansial serta proyeksi karier yang berserakan di hadapan mereka. Varisha melipat kedua tangannya di dada, menatap suaminya dengan sorot mata analitis yang selama ini menjadi ciri khasnya di ruang rapat kantor.
"Fath, lamun urang ukuranna sieun ku umur, iraha deui urang boga kasempetan emas kieu?" tukas Varisha tenang namun menusuk logika. "Kecerdasan jeung kasempetan beasiswa pinuh kieu tara datang dua kali dina hirup."
"Gua paham banget risikonya secara akademis, Var. Tapi masalahnya bukan cuma di gua sendirian sekarang," sanggah Fathan, nada suaranya mulai meninggi karena beban pikiran yang menumpuk. "Kita ini udah nikah, Var. Kita punya komitmen buat bergerak bersama, bukan malah mencatatkan jarak benua di saat kita baru aja mulai menata rumah tangga."
Varisha menghela napas, lalu merapikan helai rambutnya ke belakang telinga. "Muhun, urang terang pisan kana komitmen éta. Tapi naha lu poho kana visi awal urang? Urang mah sapuk hayang maju bareng, sanés silih tahan demi sieun ku angka umur."
"Lu gak ngerti, Var. Lima tahun itu waktu yang panjang banget buat ukuran biologis dan psikologis kita," Fathan memijat pelipisnya yang mulai berdenyut nyeri. "Lamun gua indit sorangan salila lima taun ka benua séjén, kumaha nasib hubungan urang? Kumaha lamun jarak éta bener-bener ngarobah sagala hal nu geus ku urang bangun?"
Varisha menatap tajam ke dalam mata suaminya, tidak terima dengan keraguan yang tersirat dari ucapan Fathan. "Tah, di dinya letak kasalahan mental lu, Fath! Lu masih kabawa trauma ku masa lalu nu sieun ditinggalkeun atawa sieun jarak. Padahal urang mah sanés batur nu gampang éléh ku kaayaan."
Fathan tertegun mendengar teguran telak dari istrinya itu. Kalimat Varisha seolah membedah sisi paling rapuh dari mentalitas Fathan yang selama ini terkubur di balik topeng profesionalisme korporat. Trauma masa lalu bersama bayang-bayang stasiun dan kegagalan hubungan jarak jauh di masa mudanya tiba-tiba berkelebat kembali, menciptakan ketakutan irasional terhadap angka lima tahun di depan mata.
"Bukannya gua trauma, Var... tapi gua realistis," bela Fathan dengan suara melunak. "Coba pikirkeun deui kalawan sirah tiis. Lima taun di luar negeri lain waktu nu sakeudeung. Urang kudu mecatkeun loba hal di dieu."
"Enya, urang gé teu bilang ieu gampang," jawab Varisha dengan nada suara yang sedikit melunak, menyadari beban mental yang sedang dipikul suaminya. "Tapi ulah waka nyokot kaputusan dumasar kana rasa sieun. Urang boga waktu sapopoe kanggo ngitung matang-matang tanpa kudu panik."