Titik Temu

Amrullah Ibrahim
Chapter #30

Malam Penuh Diam

Langit Bandung malam itu mendadak runtuh dalam curahan air yang begitu deras. Awan hitam yang sejak sore menggantung rendah di atas kota kembang akhirnya tumpah ruah, menghantam atap mobil sedan hitam Fathan dengan suara bergemuruh yang memekakkan telinga. Di dalam kabin yang temaram, diterangi hanya oleh pantulan lampu jalan kota yang basah oleh air hujan, Fathan dan Varisha duduk berdampingan tanpa sepatah kata pun terucap. Suasana di dalam mobil terasa begitu pekat, seolah dipenuhi oleh beban emosi yang belum tuntas terselesaikan dari perdebatan sengit mereka beberapa waktu lalu.

Fathan mencengkeram lingkar kemudi erat-erat dengan kedua tangannya, pandangannya lurus ke depan menembus kaca depan mobil yang terus disapu oleh bilah wiper dengan gerakan monoton. Suara sreett-sreett dari wiper itu menjadi satu-satunya ritme yang mengisi keheningan panjang di antara mereka berdua. Di sebelah kanannya, Varisha duduk menyilang tangan di dada, bersandar kaku pada kursi penumpang dengan wajah menatap lurus ke arah jendela samping yang dipenuhi butiran air hujan yang berlomba mengalir ke bawah.

"Dingin ya, Rish?" suara Fathan akhirnya memecah keheningan, terdengar begitu berat dan serak di tengah deru hujan yang menghantam bodi mobil.

Varisha tidak langsung menoleh. Ia menarik napas pelan sebelum menjawab dengan nada datar, menggunakan logat Sunda yang terdengar tenang namun dingin. "Biasa waé, Fan. Henteu tiris teuing."

"Tapi suasana di antara kita sekarang jauh lebih dingin dari udara luar," timpal Fathan pelan, kepalanya menunduk menatap jemarinya sendiri di atas setir.

"Emang sengaja dibikin dingin biar kita berdua sadar posisi masing-masing, Fan," balas Varisha cepat, kepalanya menoleh menatap Fathan tajam dengan sorot mata yang menyiratkan kelelahan emosional yang amat sangat. "Maneh mah ti kamari kalah asyik jeung pikiran sorangan, sibuk melihara ketakutan yang dibikin-bikin."

Fathan tertegun mendengar teguran telak itu. Ia ingin membela diri, ingin mengeluarkan argumen-argumen rasional tentang bagaimana trauma masa lalu bekerja melindungi seseorang dari kehancuran. Namun tenggorokannya mendadak tercekat. Di hadapan perempuan Sunda yang memiliki kedewasaan emosional luar biasa itu, segala alasan yang ia siapkan terasa begitu klise dan kekanak-kanakan. Hujan di luar semakin menderu lebat, seolah sengaja mengisolasi mereka berdua dari dunia luar, memaksa mereka berhadapan langsung dengan retakan-retakan batin yang selama ini mereka coba sembunyikan di balik senyuman profesional kantor.

❖ ❖ ❖

Keheningan kembali merayap masuk ke dalam kabin mobil, jauh lebih berat dan menyesakkan dari sebelumnya. Fathan mematikan musik pengisi ruang agar tidak ada suara lain yang mengganggu selain suara hantaman air hujan pada kaca jendela. Di tengah kesunyian itu, Fathan merenungi kembali perjalanan hidupnya yang panjang—dari masa-masa sulit merantau di kamar kos sempit Palmerah Jakarta, pertengkaran hebat dengan Nisa di masa lalu, hingga kesuksesan finansial semu yang ia bangun di menara gading apartemen SCBD.

Ia selalu percaya bahwa waktu adalah obat terbaik untuk menyembuhkan segala luka. Ia pikir, dengan mengubur dalam-dalam kenangan pahit kegagalan masa lalunya, menyibukkan diri dengan target karier, dan membangun benteng pertahanan emosional yang kokoh, ia telah berhasil melewati masa-masa kelam itu dengan selamat. Namun malam ini, di dalam mobil yang terjebak hujan di sudut kota Bandung, Fathan mendapatkan sebuah pencerahan yang menghantam kesadarannya bagaikan petir di malam hari.

"Rish, lu pernah ngerasa nggak kalau waktu itu sebenarnya bukan obat?" bisik Fathan lirih, matanya masih menatap kosong ke arah jalanan aspal yang basah di luar sana.

Varisha mengerutkan keningnya, menoleh sekilas ke arah Fathan dengan tatapan penuh tanda tanya. "Maksud maneh kumaha? Waktu teh pan cenah mah bisa nyageurkeun sagala kanyeri?"

"Itu cuma mitos yang kita ciptakeun sendiri buat ngerasa tenang," jawab Fathan getir, sudut bibirnya terangkat membentuk senyuman pahit. "Kenyataannya, waktu nggak pernah menyembuhkan apa-apa. Waktu itu cuma tukang timbun yang puyeng nutupin luka-luka lama pake lapisan kesibukan, pencapaian, dan ego. Luka itu tetep ada di dalam sana, membusuk di dasar hati, sampai suatu hari ada pemicu kecil yang bikin semuanya meledak kembali."

Varisha tertegun mendengar analogi filosofis yang meluncur dari mulut Fathan. Ketegangan di wajahnya perlahan melunak, digantikan oleh rasa empati yang mendalam saat ia melihat bayangan kepedihan masa lalu terpantul jelas di mata pria di sebelah kirinya.

"Jadi... semua pertahanan diri lu salilana teh cuman bentuk pelarian dari luka masa lalu bareng mantan pacar lu di Jakarta?" tanya Varisha lembut, suaranya kini terdengar jauh lebih hangat tanpa ada nada menghakimi.

Lihat selengkapnya