
Udara sore di kota Bandung berembus membawa aroma basah sisa hujan yang baru saja mereda di atas aspal jalanan Braga. Di sebuah kafe berarsitektur kolonial dengan jendela-jendela kaca besar, Varisha duduk gelisah di kursi kayu jati tua. Di hadapannya tergeletak sebuah amplop cokelat tegap berlogo universitas ternama di London, lengkap dengan tiket pesawat dan surat tawaran beasiswa penuh program pascasarjana bidang tata kota internasional. Beasiswa itu adalah impian terbesarnya sejak masa kuliah, sebuah tiket emas untuk mengubah seluruh jalan hidupnya di kancah global.
Namun, di seberang meja, Fathan duduk dengan pandangan lurus menatap cangkir kopi hitamnya yang mengepulkan uap tipis. Wajah pria itu tampak lelah, menyimpan beban emosional yang teramat berat setelah percakapan panjang mereka mengenai masa depan hubungan yang telah mereka jalin bertahun-tahun.
"Risha, lu beneran udah bulet tekad mau ngambil beasiswa itu?" tanya Fathan dengan suara berat, mencoba menahan getar di tenggorokannya.
Varisha menelan ludah, menatap amplop cokelat di depannya dengan perasaan berkecamuk. "Fan, lu tahu kan ini kesempatan seumur hidup sekali? London, Fan. Kota impian gue buat belajar langsung penataan ruang urban modern."
"Tapi itu artinya kita harus terpisah ribuan kilometer selama dua tahun penuh, Ris," potong Fathan cepat, nada suaranya menyiratkan kepedihan yang mendalam. "Gue capek LDR. Hubungan kita kemarin hampir hancur karena jarak, dan sekarang lu mau ngulang hal yang sama?"
"Bukannya ngulang, Fan! Tapi ini soal masa depan karier gue," balas Varisha mulai terbawa emosi, jemarinya meremas erat ujung meja kayu. "Kenapa lu seolah-olah nyuruh gue milih antara karier impian gue atau hubungan kita? Emang enggak bisa kita jalanin dua-duanya?"
Fathan menggelengkan kepala pelan, menatap Varisha dengan sorot mata penuh keputusasaan. "Gimana caranya jalanin dua-duanya kalau jaraknya beda benua, Ris? Orang tua gue juga udah nanyain kapan kita mau serius nikah. Kalau lu ke London sekarang, otomatis rencana pernikahan kita tahun depan batal total."
Perbincangan sore itu terasa begitu mencekam. Di balik keindahan arsitektur kafe klasik Bandung yang romantis, Varisha dihadapkan pada sebuah ultimatum internal yang sangat kejam: melepaskan impian emasnya ke London demi membangun rumah tangga bersama Fathan, atau mengejar karier gemilang di luar negeri dan merelakan pria yang sangat dicintainya itu pergi selamanya.
"Aduh, aing téh bingung kedah kumaha, Fan," keluh Varisha lirih, mencampur bahasa Sunda halus dan logat Bandung untuk meluapkan rasa frustrasinya. (Aduh, saya bingung harus bagaimana, Fan.)
Fathan menghela napas panjang, mencoba meredam gejolak amarah di dadanya. "Pilihanana aya di maneh, Ris. Mau milih masa depan di London atau tetap di sini bersama rencana kita? Tapiinget, moal aya jalan tengah pikeun kaputusan nu sakieu gedéna." (Pilihannya ada di kamu, Ris. Mau pilih masa depan di London atau tetap di sini bersama rencana kita? Tapi ingat, tidak akan ada jalan tengah untuk keputusan sebesar ini.)
Varisha terdiam membisu. Hatinya terbelah dua. Di satu sisi, ia sangat mencintai Fathan dan mendambakan keluarga kecil yang hangat bersama pria itu di tanah Sunda ini. Namun, di sisi lain, ambisi intelektual dan impian masa kecilnya untuk menaklukkan dunia arsitektur global memanggil-manggil dengan sangat kuat dari balik amplop cokelat di hadapannya. Pemicu dilema ini telah membakar habis ruang kompromi di antara mereka.
❖ ❖ ❖
Hari-hari berikutnya berjalan seperti neraka emosional bagi Varisha dan Fathan. Keputusan besar itu tidak bisa ditunda lebih lama lagi karena batas akhir konfirmasi penerimaan beasiswa tinggal menghitung hari. Di tengah kesibukan pekerjaan sebagai konsultan perencana wilayah di sebuah lembaga swasta di Bandung, Varisha sering kali mendapati dirinya melamun di depan layar komputer, menatap dokumen beasiswa London tanpa mampu mengetik satu huruf pun.
Suatu sore, di sebuah warung kopi tradisional di kawasan Dago yang tenang, Varisha menemui sahabat karibnya, Neng Rina, untuk mencurahkan isi hatinya yang sedang kalut.
"Rin, kumaha tah mun maneh aya di posisi urang? Pilih beasiswa ke London tapi ninggalkeun Fathan, atawa cieu di Bandung nikah jeung manéhna tapi leungit kasempetan emas?" tanya Varisha panik sambil mengaduk teh manis hangatnya yang sudah mendingin. (Rin, gimana tuh kalau kamu ada di posisi aku? Pilih beasiswa ke London tapi ninggalin Fathan, atau diem di Bandung nikah sama dia tapi ilang kesempatan emas?)
Rina menyeruput kopi hitamnya pelan, lalu menatap Varisha dengan pandangan serius. "Wah, éta mah pilihan beurat pisan, Ris. Tapi ceuk urang mah, lalaki anu bener-bener nyaah téh bakal ngrojong kasempetan alus awéwéna, lain kalah ka maksa milih salah sahiji." (Wah, itu mah pilihan berat banget. Tapi kata aku mah, cowok yang bener-bener sayang tuh bakal dukung kesempatan bagus ceweknya, bukan malah maksa milih salah satu.)
"Tapi Fathan bener, Rin. Hubungan kita geus lila, jeung kolot urang duaan geus hayang ningali urang gancang rumahtangga," bantah Varisha dengan suara gemetar, menahan air mata yang mendesak keluar. (Tapi Fathan bener, Rin. Hubungan kita udah lama, dan orang tua kita berdua udah pengen lihat kita cepet berumah tangga.)
"Nya enya bener, tapi lamun maneh kapaksa cicing di dieu tulisan hatinya ngagolak ku kuciwa, engkéna rumah tangga maneh moal sehat, Ris. Bakal loba silih salahkeun," nasihat Rina bijak. (Ya emang benar, tapi kalau kamu terpaksa diem di sini terus dalem hatinya bergejolak sama kecewa, nantinya rumah tangga kamu gak bakal sehat, Ris. Bakal banyak saling salahkan.)
Kata-kata Rina menghunjam telak ke dalam pikiran Varisha. Titik jepit pertama ini mulai menjepit rasionalitasnya. Di satu sisi, ia takut dicap sebagai wanita egois yang mementingkan karier di atas komitmen cinta. Di sisi lain, ia tahu persis bahwa mengorbankan beasiswa London demi menuruti tekanan sosial pernikahan hanya akan menanam benih kepahitan abadi di dalam relung hatinya.
Setibanya di rumah malam itu, Varisha mendapati Fathan sudah menunggu di teras depan kosannya. Wajah pria itu tampak kuyu, memegang ponsel dengan jemari yang gelisah.
"Ris, dari mana aja? Ditelepon gak diangkat," tegur Fathan begitu Varisha turun dari angkutan umum.
"Maaf, Fan, tadi ngobrol heula jeung Rina di Dago. HP abdi silent bieu," jawab Varisha pelan, membuka pagar kecil kosan. (Maaf, Fan, tadi ngobrol dulu sama Rina di Dago. HP aku silent tadi.)
Fathan mengikuti langkah Varisha masuk ke dalam kamar kos yang rapi. Tanpa basa-basi, pandangan mata Fathan langsung tertuju pada amplop cokelat besar dari universitas London yang tergeletak di atas meja belajar.
"Jadi... kapan batas akhir keputusan lu harus dikirim ke London, Ris?" tanya Fathan to the point, suaranya terdengar dingin namun menyiratkan luka yang dalam.
Varisha menarik napas panjang, memberanikan diri menatap mata Fathan secara langsung. "Lusa, Fan. Lusa adalah hari terakhir konfirmasi."
Suasana kamar kos mendadak sunyi senyap. Titik jepit pertama itu kini berdiri di hadapan mereka, menuntut sebuah kejelasan yang tidak lagi bisa dihindari oleh janji-janji manis masa lalu.
❖ ❖ ❖
Ketegangan mencapai puncaknya pada malam sebelum batas akhir konfirmasi beasiswa. Fathan dan Varisha sepakat untuk bertemu sekali lagi di sebuah taman kota di pusat Bandung yang mulai sepi. Lampu-lampu taman bernuansa kuning temaram menyinari jalan setapak basah, menciptakan suasana melankolis yang pas untuk sebuah perpisahan atau keputusan besar.
Mereka duduk berdampingan di atas bangku taman besi tempa. Angin malam lembang berembus dingin, menusuk hingga ke tulang sumsum, namun tidak lebih dingin daripada jarak emosional yang terbentang di antara mereka berdua.
"Ris, urang hayang jawaban jujur ti maneh poé ieu," ucap Fathan memecah keheningan, menoleh menatap Varisha lekat-lekat. "Maneh rék mangkat ka London atawa tetep cicing di dieu jeung urang?" (Ris, aku mau jawaban jujur dari kamu hari ini. Kamu mau berangkat ke London atau tetap diam di sini sama aku?)
Varisha menutup wajahnya dengan kedua telapak tangan, isak tangis tertahan akhirnya pecah dari bibirnya. "Fan... ulah kieu teuing ka abdi. Maneh nyaho pan impian abdi ti saprak kuliah hoyong sakola ka luar negeri," ucap Varisha terisak dalam bahasa Sunda campur Indonesia. (Fan... jangan begini banget ke aku. Kamu tahu kan impian aku dari semenjak kuliah pengen sekolah ke luar negeri.)