Matahari sore di Singapura memantulkan kilau keemasan yang menyilaukan dari dinding-dinding kaca pencakar langit di kawasan Marina Bay. Di dalam ruang kerjanya yang luas di lantai 40, Varisha berdiri mematung di dekat jendela besar, menatap lalu-lalang kendaraan di bawah sana yang tampak seperti semut. Di atas meja kerjanya yang tertata rapi, sebuah map biru tebal berisi dokumen penugasan permanen dari kantor pusat tergeletak terbuka. Dokumen itu adalah lembaran takdir yang selama ini ia kejar dengan segenap ambisi, tetesan keringat, dan kerja keras tanpa kenal lelah sejak hari pertama ia menginjakkan kaki di dunia profesional. Namun, di balik keberhasilan gemilang tersebut, ada rasa sesak yang menghimpit dadanya dengan begitu kuat, menciptakan gumpalan air mata yang tertahan di pelupuk matanya.
Hubungan jarak jauh antara Singapura dan Jakarta yang selama ini mereka jalani dengan penuh keyakinan rasional ternyata mulai menunjukkan celah-celah kerapuhan. Panggilan video yang tadinya rutin setiap malam kini mulai sering terlewat karena perbedaan jadwal yang padat, rapat regional yang panjang, serta tuntutan posisi baru Varisha yang menuntut komitmen penuh seratus persen. Fathan di Jakarta, di sisi lain, sedang merintis puncak kariernya sendiri sebagai kepala divisi kreatif yang baru, berjuang mati-matian untuk membuktikan kapasitas dirinya tanpa harus selalu bergantung atau dibayangi oleh kesuksesan Varisha di negeri orang.
Ponsel di atas meja berdering lembut, menampilkan nama Fathan di layar utama dengan foto profil mereka berdua di taman Menteng beberapa bulan lalu. Varisha menarik napas panjang, menstabilkan getar di dadanya, lalu menggeser tombol hijau untuk menerima panggilan tersebut.
"Halo, Fan? Neng di dieu nuju istirahat sakedap," sapa Varisha dengan suara yang diusahakan setenang mungkin, meski nada lelah tetap terdengar jelas di telinganya sendiri.
"Halo juga, Var. Suara lu kok kayaknya capek banget? Lembur lagi ya di kantor pusat?" suara Fathan terdengar di seberang, hangat dan penuh perhatian seperti biasanya.
Varisha menggigit bibir bawahnya, menahan air mata yang mendesak hendak tumpah. "Ieu nembé bérés rapat sareng direksi regional, Fan. Aya sababaraha hal penting pisan nu peryogi ku urang di obrolkeun ayeuna."
"Hal penting apa, Var? Bikin deg-degan aja nada bicara lu," balas Fathan setengah bergurau, mencoba mencairkan ketegangan yang mendadak merayap melalui sambungan telepon internasional tersebut.
Varisha menatap bayangan pantulan dirinya sendiri pada kaca jendela yang jernih. Ia tahu saat penentuan ini tidak bisa lagi ditunda-tunda. Keputusan besar harus diambil sebelum jarak fisik dan ambisi karier yang terlampau besar benar-benar menghancurkan sisa-sisa kehangatan cinta yang mereka bangun dengan susah payah di Jakarta.
❖ ❖ ❖
Keheningan sempat menggantung beberapa detik di antara sambungan telepon yang membentang ribuan kilometer tersebut, hanya menyisakan suara dengung halus sambungan satelit. Fathan di ujung sana, yang sedang duduk di meja kerjanya di kawasan SCBD, mulai merasakan firasat buruk menjalar di dalam dadanya. Nada suara Varisha yang biasanya tegas, ceria, dan penuh keyakinan kini terdengar rapuh, menyisakan getar emosional yang amat dalam.
"Var? Lu masih di situ kan? Ada apa sebenarnya? Jangan bikin gue cemas begini," ujar Fathan, nada suaranya berubah serius dan tegang.
Varisha memejamkan matanya sejenak, membiarkan butiran air mata yang sedari tadi ditahannya akhirnya lolos membasahi pipinya. "Fan, urang téh geus loba mikir sababaraha minggu ka pengker. Ngeunaan urang duaan, ngeunaan masa depan karier urang duaan nu beuki hereuy jarakna."
"Maksud lu apa, Var? Jangan ngomong yang aneh-aneh deh. Kita kan udah sepakat buat saling support karier masing-masing, jarak bukan masalah selama komitmennya kuat," potong Fathan cepat, suaranya sedikit meninggi menolak arah pembicaraan tersebut.
"Bukan masalah komitmenna, Fan, tapi realitasna!" sanggah Varisha dengan suara parau yang tertahan. "Urang sadar yén ambisi urang duaan téh gedé pisan. Mun urang maksakeun terus nalian hubungan ieu dina kaayaan dipisahkeun ku nagara jeung tanggung jawab gawe nu beuki numpuk, urang duaan bakal silih beungbeuran."
Fathan tertegun di ruang kerjanya. Jantungnya berdegup kencang seolah dihantam palu tak kasat mata. Ingatannya tiba-tiba melompat kembali pada masa lalu—pada rasa sakit ketika ia ditinggalkan oleh keraguan di stasiun Serang, pada ketakutan lama yang sempat ia taklukkan di taman Menteng. Apakah kini takdir sedang mempermainkannya sekali lagi? Apakah ambisi dan jarak sekali lagi akan merenggut perempuan yang paling ia cintai?