
Lampu-lampu sorot di Terminal 3 Bandara Internasional Soekarno-Hatta memantulkan cahaya putih menyilaukan dari lantai marmer yang mengkilap. Suara pengumuman penerbangan internasional berdengung silih berganti dari pelantun suara, bersahutan dengan deretan koper beroda yang diseret oleh para pelancong terburu-buru. Di sudut ruang tunggu keberangkatan internasional yang dipadati manusia, Fathan dan Varisha berdiri berhadapan dalam keheningan yang terasa jauh lebih memekakkan telinga ketimbang bisingnya suasana bandara.
Fathan menatap lurus ke dalam mata perempuan yang selama lima tahun belakangan ini telah menjadi belahan jiwa, mitra kerja, sekaligus pengisi separuh napas hidupnya. Namun malam ini, sorot mata Varisha yang biasa memancarkan binar kecerdasan dan keyakinan, tampak begitu lelah, kosong, dan dipenuhi oleh tirai keputusasaan yang tebal. Di antara mereka, dua koper besar berukuran kabin berdiri tegak sebagai saksi bisu atas sebuah perpisahan yang tidak pernah mereka bayangkan sebelumnya.
"Var, lu beneran udah mikirin keputusan ini matang-matang?" suara Fathan bergetar berat, tertahan di tenggorokan yang terasa kering. "Kita udah berjuang bareng ngelewatin benua, ngelewatin riset doktoral yang gila-gilaan, kenapa sekarang semuanya malah berakhir di sini?"
Varisha menunduk sejenak, merapikan syal rajut abu-abu yang melingkar di lehernya sebelum kembali mendongak menatap Fathan. Wajah cantiknya tampak pucat di bawah sorot lampu bandara. "Fath, urang geus capé," ucap Varisha lirih, suaranya nyaris tenggelam oleh deru mesin pesawat yang sedang bersiap di landasan pacu luar sana. "Urang duaan geus lain deui jalma nu sawaktu ngora kénéh. Ambisi jeung karier urang ayeuna geus narik urang ka arah jalur nu béda pisan."
"Jalur yang beda gimana maksud lu?" Fathan mengerutkan kening, rasa tidak terima bergejolak hebat di dadanya. "Kantor pusat nawarin posisi promosi direktur regional ke kita berdua, dan kita bisa ngatur jadwalnya!"
"Enya, tapi posisi éta maréntahkeun urang pikeun misah benua deui, Fath!" sergah Varisha dengan nada suara yang mulai meninggi, terselip kepedihan yang mendalam. "Anjeun kapilih mingpin proyek riset global di Jerman, sedengkeun abdi kedah nyekel kendali kantor cabang anyar di Singapura. Urang duaan geus kajiret ku ambisi profésional nu teu bisa dikawinkeun deui."
Fathan tertegun. Realitas pahit dari dunia korporat multinasional tingkat tinggi baru saja menghantam mereka dengan telak. Selama ini, mereka percaya bahwa cinta yang dibangun di atas fondasi rasionalitas, perencanaan karier, dan kerja keras bersama akan mampu menaklukkan segala rintangan dunia. Namun mereka lupa, terkadang takdir profesional bukan lagi tentang siapa yang mau mengalah demi pasangan, melainkan tentang ambisi besar yang sama-sama tidak bisa ditawar lagi.
"Kita bisa atur long-distance relationship lagi kayak dulu, Var," bujuk Fathan putus asa, jemarinya mencoba meraih tangan istrinya yang terasa dingin. "Urang bisa bolak-balik sabulan sakali."
Varisha menarik pelan tangan dari genggaman Fathan, lalu tersenyum getir—senyum paling menyayat hati yang pernah Fathan saksikan seumur hidupnya. "LDR kumaha maksud anjeun, Fath? Hubungan urang téh lain keur ulin, ieu kahirupan nyata. Lamun diteruskeun maksakeun kaayaan, urang ngan saukur bakal jadi dua urang asing nu cicing dina hate nu kosong."
Suasana di sekitar mereka seolah membeku. Lima tahun perjuangan akademik di luar negeri, puluhan proyek sukses yang mereka bangun bersama, cicilan apartemen di Jakarta, hingga lembaran rencana masa depan yang tersusun rapi di atas kertas—semuanya runtuh berkeping-keping di ruang tunggu bandara ini. Takdir dunia profesional tidak lagi merestui kebersamaan mereka; ambisi besar yang dulu menyatukan langkah mereka, kini justru menjadi pisau tajam yang merampas cinta itu sendiri.
❖ ❖ ❖
Pengumuman penerbangan dengan nomor tujuan Frankfurt kembali menggema dari pengeras suara bandara, mengingatkan Fathan bahwa waktu keberangkatannya tinggal hitungan menit. Jantungnya berdegup kencang, bukan karena antusiasme menempuh perjalanan jauh ke daratan Eropa, melainkan karena kesadaran bahwa detik-detik kebersamaan mereka di dunia ini sedang dihitung mundur oleh detik jam dinding.
"Var, inget gak waktu pertama kali kita adu argumen di ruang rapat lantai dua puluh?" suara Fathan melunak, mencoba menarik kembali kenangan manis saat awal mula hubungan mereka bersemi di tengah benturan ide korporat. "Waktu itu lu nyebut gua 'asal capruk', tapi justru dari situlah gua sadar kalau lu perempuan paling hebat yang pernah gua temuin."
Varisha menunduk, air mata yang sejak tadi ia tahan akhirnya tumpah juga membasahi pipinya. "Inget pisan, Fath... eta téh mémang kenangan nu panghadéna dina hirup abdi," jawab Varisha terbata-bata, menyeka sudut matanya dengan punggung tangan. "Tapi kenangan waé teu cukup pikeun nyambungkeun takdir urang nu geus beda jalur."
"Kenapa takdir harus sekejam ini, Var?" Fathan mendesis tertahan, rasa sesak menghimpit rongga dadanya hingga ia kesulitan bernapas. "Dulu, waktu gua ditinggal Nisa di stasiun karena masalah restu keluarga, gua pikir itu adalah titik kepedihan paling parah. Tapi ternyata, berpisah dengan seseorang yang sangat kita cintai bukan karena kebencian, melainkan karena takdir karier... itu jauh lebih menyiksa."
Varisha menggelengkan kepalanya perlahan. "Ulah dibandingkeun cara hirup nu baheula jeung ayeuna, Fath. Nisa téh bagian tina mangsa lalu anjeun, sedengkeun abdi... abdi téh bagian tina lalampahan ambisi anu ayeuna nuntut urang pikeun sadar diri."
Seorang petugas keamanan bandara melirik ke arah mereka sekilas karena melihat gelagat pasangan yang tampak emosional di tengah kerumunan penumpang. Fathan mengabaikan tatapan itu; dunianya saat ini sedang runtuh total, dan tidak ada hal lain di muka bumi ini yang lebih penting selain perempuan di hadapannya saat ini.
"Gua gak rela, Var," bisik Fathan dengan suara parau yang nyaris tak terdengar. "Gua masih hayang leumpang bareng anjeun, ngawangun imah nu bener-bener imah, lain saukur apartemen transit."
"Sami, abdi oge bener-bener beurat, Fath," balas Varisha jujur, menatap suaminya dengan sorot mata penuh cinta yang tak berkurang sedikit pun. "Tapi sadar atuh, lamun urang tetep maksakeun maksad urang dieu, duanana bakal hancur. Abdi miboga impian gedé di Singapura, jeung anjeun oge miboga riset penting di Jerman. Urang duaan geus jadi budak ambisi sorangan."
Kata-kata Varisha menohok sangat telak. Budak ambisi. Kalimat itu merangkum seluruh perjalanan hidup mereka selama beberapa tahun terakhir. Mereka adalah arsitek andal bagi karier masing-masing, namun gagal total mempertahankan keutuhan rumah tangga di atas altar kesuksesan dunia korporat global.