Suara bising roda koper yang berderit di atas lantai keramik terminal keberangkatan internasional Bandara Soekarno-Hatta terdengar bergemuruh, berpadu dengan suara pengumuman penerbangan yang menggema lewat pelantang suara. Udara di dalam gedung terminal terasa padat oleh bau parfum, keringat dingin para pelancong, serta ketegangan emosional yang tak kasat mata. Di tengah kerumunan manusia yang hilir mudik mendorong troli dan melambaikan tangan perpisahan, Fathan berdiri mematung di balik garis pembatas besi stainless steel.
Matanya tidak lepas dari satu sosok perempuan yang mengenakan mantel musim dingin ringan berwarna krem. Varisha. Rambut sebahu perempuan itu tergerai rapi, bergerak pelan mengikuti ayunan langkah kakinya yang mantap menuju pintu pemeriksaan paspor imigrasi. Di tangan kanannya, sebuah paspor biru dan tiket penerbangan langsung menuju London tergenggam erat.
"Fathan, maneh bener-bener teu hayang ngudag manéhna sakeudeung deui ka hareup?" bisik Dimas pelan sambil menepuk pundak Fathan dengan raut wajah penuh rasa iba.
Fathan menggelengkan kepalanya perlahan, bibirnya terkatup rapat membentuk garis tipis. Sorot matanya menyiratkan gelombang emosi yang berkecamuk hebat di dalam dadanya—antara rasa bangga yang luar biasa melihat perempuan yang dicintainya melangkah menggapai mimpi besar, dan rasa sakit yang menusuk tajam karena menyadari kenyataan pahit di balik kepergian itu.
"Teu perlu, Dim," jawab Fathan dengan suara parau yang hampir tenggelam di antara bisingnya suasana bandara. "Maneh apal sorangan, lamun kuring ngudag manéhna ayeuna, éta téh sarua jeung kuring mangku beungbeuratan deui kana léngkah Varisha. Biar manéhna indit kalayan bébas."
Dimas menghela napas panjang, meresapi keputusan berat yang diambil oleh sahabatnya itu. "Heueuh, kuring ngarti, Euy. Tapi pasti beurat pisan rasana mah, pan?"
Berat? Kata itu bahkan tidak cukup untuk menggambarkan badai yang sedang merobek-robek rongga dada Fathan saat ini. Beberapa minggu lalu, mereka sempat terjebak dalam perdebatan sengit di sebuah kafe di Dago Atas—sebuah pertengkaran yang dipicu oleh ketakutan Fathan akan bayang-bayang masa lalu dan ambisi besar Varisha untuk meniti karier akademik di benua Eropa. Namun, badai emosi itu telah mereda menjadi sebuah kedewasaan yang sunyi. Mereka memilih berpisah bukan karena cinta yang padam, melainkan demi memberikan ruang bagi masing-masing untuk bertumbuh.
Di hadapan mereka, langkah Varisha kini semakin mendekati bilik kaca pemeriksaan petugas imigrasi. Sebelum menyerahkan paspornya, Varisha menghentikan langkahnya sejenak. Ia membalikkan badan, memindai lautan manusia di area penjemputan hingga akhirnya manik matanya menemukan sosok Fathan yang berdiri kaku di balik garis pembatas.
Jarak di antara mereka hanya terpaut belasan meter, namun rasanya sejauh ribuan mil. Melalui tatapan mata yang basah oleh air mata, Varisha melemparkan senyuman paling tulus dan hangat yang pernah ia berikan kepada Fathan—sebuah isyarat perpisahan tanpa kata-kata, menyiratkan bahwa cinta di antara mereka tetap hidup di dalam hati meski raga harus terpisah jarak dan waktu yang amat panjang.
Fathan membalas senyuman itu dengan susah payah, mengangkat tangan kanannya perlahan untuk melambaikan salam terakhir. Tenggorokannya terasa tercekat, seolah ada batu besar yang menyumbat saluran pernapasannya. Ia melihat punggung Varisha berbalik kembali, menyerahkan dokumen perjalanan kepada petugas, lalu melangkah anggun melintasi pintu kaca imigrasi hingga akhirnya bayangan tubuh perempuan itu benar-benar lenyap dari pandangan, tertelan oleh kerumunan penumpang di dalam sana.
Koper yang pergi membawa seluruh harapan baru, sementara Fathan tertinggal seorang diri di balik garis pembatas, menatap kosong pada ruang hampa tempat Varisha baru saja menghilang.
❖ ❖ ❖
Suasana di sekitar area terminal keberangkatan mendadak terasa begitu sepi bagi Fathan, meskipun ratusan manusia masih berlalu-lalang di sekitarnya. Langkah kaki para penumpang yang tergesa-gesa, suara koper beroda plastik, hingga deru mesin pendingin ruangan seolah melebur menjadi dengung monoton yang berdengung di dalam telinganya.
"Than, hayu urang kaluar ka area parkir sakedap, di dieu mah sesak teuing udarana," ajak Siska lembut sambil merapikan tas ranselnya, mencoba mencairkan keheningan yang menyiksa di antara mereka bertiga.
Fathan tidak langsung merespons. Pandangannya masih terpaku lurus pada pintu kaca imigrasi yang tertutup rapat, seolah-olah ia sedang menunggu pintu itu terbuka kembali dan memunculkan sosok Varisha yang tersenyum lebar sambil memegang tiket kepulangan. Namun, yang ada di balik kaca itu hanyalah barisan antrean orang asing yang tidak dikenalnya.
"Enya, hayu, Dim, Siska... Duluan wé ka handap, kuring rék ka toilet sakedap," jawab Fathan datar, mencoba menarik napas dalam-dalam untuk menstabilkan detak jantungnya yang berantakan.
"Sok, ditunggu di basement ya, Than. Ulah lila teuing, bisi maneh kabawa sedih sosoranganan di dieu," pesan Dimas sebelum ia dan Siska beranjak meninggalkan Fathan menuju lift bandara.
Fathan memutar langkahnya perlahan menuju koridor sudut terminal yang agak sepi. Ia menyandarkan punggungnya pada dinding beton dingin, lalu menutup matanya rapat-rapat. Ironi hidup ini terasa begitu kejam sekaligus menggelitik nuraninya. Dulu, ia pernah kehilangan seseorang akibat jarak antarkota yang dipenuhi ilusi digital dan kecurigaan yang merusak. Namun kali ini, rasa kehilangan itu terasa jauh lebih nyata, jauh lebih dalam, dan jauh lebih menakutkan.
Ia tidak kehilangan Varisha karena pertengkaran, perselingkuhan, atau hilangnya rasa cinta. Ia kehilangan perempuan itu karena sebuah angka waktu yang mutlak dan tidak bisa ditawar: lima tahun masa studi pascasarjana di benua yang berbeda, di bawah zona waktu yang terbentang jauh dari jam biologis tubuhnya di Indonesia.
Lima tahun. Angka itu berputar-putar di dalam kepalanya bagaikan vonis waktu yang panjang. Dalam kurun waktu lima tahun, banyak hal bisa berubah. Musim berganti, kota-kota bertransformasi, dan manusia di dalamnya mengalami pendewasaan atau justru perlahan-lahan asing satu sama lain.
"Lima taun lain waktu nu sakeudeung, Euy..." gumam Fathan lirih pada dirinya sendiri, membuka matanya perlahan dan menatap pantulan wajahnya sendiri di kaca pembatas jendela koridor. Wajahnya tampak lelah, menyisakan guratan penyesalan masa lalu sekaligus kelegaan semu yang rapuh.
Titik jepit pertama ini menjerat kesadaran Fathan pada realitas mutlak bahwa keputusannya untuk tidak mengejar atau menahan Varisha adalah pilihan yang benar secara moral, namun sangat menyiksa secara batin. Ia memilih merelakan masa depannya terbang ke London agar Varisha tidak terbebani oleh ketakutannya sendiri, namun sebagai gantinya, ia harus membayar harga mahal berupa kesepian panjang yang siap menantinya sekembalinya ia ke Bandung nanti.
❖ ❖ ❖
Selepas dari bandara, perjalanan pulang menuju kota Bandung menggunakan mobil sewaan ditemani oleh keheningan yang pekat. Dimas dan Siska yang duduk di kursi depan tampak mengerti betul kondisi mental Fathan yang sedang berantakan, sehingga mereka memilih untuk tidak banyak bicara sepanjang perjalanan tol Cipularang yang basah oleh sisa hujan siang hari.
Fathan duduk di kursi belakang, menyandarkan kepalanya pada kaca jendela mobil sambil menatap pemandangan bukit-bukit hijau Priangan yang diselimuti kabut tipis sore itu. Pikirannya melayang jauh kembali ke masa-masa awal ia mengenal Varisha di kantor cabang Bandung—tentang bagaimana perempuan itu dengan sabar meruntuhkan dinding es di hatinya, menemaninya melewati malam-malam lembur yang panjang, hingga bersama-sama menyembuhkan luka lama akibat trauma hubungan jarak jauh di masa lalu.