Titik Temu

Amrullah Ibrahim
Chapter #35

Pertanyaan pada Langit Kosong

Malam merayap lambat di kota Bandung, menyisakan udara dingin yang menusuk pori-pori kulit setelah sepekan diguyur hujan tanpa henti. Di dalam ruang kerja kantor cabang proyek tata kota yang kini tampak temaram, Fathan seorang diri duduk termenung di balik meja kerjanya yang luas. Lampu utama ruangan telah dimatikan, menyisakan seberkas cahaya kuning temaram dari lampu meja baca yang menyorot langsung ke permukaan kayu mahoni. Di atas meja itu, tepat di sebelah tumpukan dokumen cetak biru proyek revitalisasi kawasan heritage, tergeletak sebuah cangkir keramik putih polos milik Varisha. Cangkir kecil itu masih menyisakan noda kecokelatan bekas kopi hitam kesukaan perempuan tersebut, tertinggal begitu saja sejak sore tadi sebelum Varisha berpamitan untuk urusan keluarga ke luar kota.

Fathan menatap cangkir itu lekat-lekat, seolah benda mati tersebut mampu memantulkan kembali bayangan tawa riang dan suara lembut Varisha yang menggunakan logat Sunda khas. Setiap sudut ruangan ini mendadak terasa begitu luas sekaligus menyesakkan, dipenuhi oleh sisa-sisa kehadiran perempuan yang telah berhasil merobohkan benteng pertahanan emosional yang ia bangun bertahun-tahun lamanya di Jakarta. Namun, takdir rupanya kembali mempermainkan alur waktu mereka. Sebuah keputusan mendadak mengenai penugasan proyek baru membuat Varisha harus memilih jalan karier yang membawanya terbang jauh ke luar pulau, meninggalkan Bandung dan meninggalkan Fathan di persimpangan jalan yang sunyi.

"Baru aja kemarin kita janji buat nggak saling lari dari ketakutan, Rish... kenapa sekarang takdir malah misahin kita lewat jarak yang lebih kejam lagi?" gumam Fathan pelan, suaranya bergetar berat di dalam keheningan ruang kerja yang kosong.

Ia menyandarkan punggungnya ke kursi kerja kulit, memejamkan mata sejenak untuk meredam rasa perih yang mendadak menghantam ulu hatinya. Rasanya baru kemarin ia merayakan perdamaian batinnya di dalam mobil di tengah guyuran hujan lebat bersama Varisha. Kini, ia kembali terlempar ke dalam pusaran kesunyian yang sama, menemui kenyataan pahit bahwa kedewasaan emosional dan cinta yang matang sekalipun tidak serta-merta mampu menaklukkan kejamnya garis waktu yang dituliskan semesta.

❖ ❖ ❖

Keheningan malam di dalam ruang kerja itu kian terasa pekat, ditekan oleh detak jarum jam dinding antik yang berbunyi monoton—tik, tok, tik, tok—seolah menghitung mundur sisa-sisa kewarasan Fathan. Ia membuka matanya kembali, lalu mengulurkan tangan kanannya untuk menyentuh gagang cangkir keramik milik Varisha yang sudah terasa dingin. Dinginnya permukaan keramik itu menjalar hingga ke ujung jemarinya, membawa sensasi hampa yang teramat sangat.

Ponsel di atas meja bergetar pelan, menampilkan layar yang menyala terang. Fathan langsung meraihnya dengan harapan ada pesan masuk dari Varisha yang mengabarkan kepulangannya. Namun, layar itu hanya menampilkan pemberitahuan email otomatis dari kantor pusat di Jakarta mengenai jadwal penerbangan dinas luar kota Fathan pekan depan. Rasa kecewa langsung menghantam dadanya dengan telak. Hubungan jarak jauh yang sempat terkubur bersama masa lalunya kini seolah hidup kembali, menghantui setiap jengkal langkah yang sedang ia bangun di tanah Pasundan ini.

"Nya enya ge beda carita, tapi naha kudu LDR deui, Gusti?" keluh Fathan lirih, tanpa sadar melontarkan gumaman dalam bahasa Sunda campur aduk yang belakangan sering ia tiru dari kebiasaan Varisha sehari-hari.

Ia teringat percakapan terakhir mereka sebelum Varisha berangkat ke bandara tadi pagi. Tidak ada tangisan histeris, tidak ada drama pelukan erat seperti sinetron. Yang ada hanyalah tatapan mata yang basah namun penuh ketegasan dan penerimaan. Varisha telah memegang teguh janjinya untuk tidak lari dari kenyataan, namun tuntutan profesional dan impian besar arsitektur menuntut perempuan itu untuk melangkah ke arah yang berlawanan dengan arah angin Fathan.

"Urang kudu indit, Fan. Misi urang di dieu geus lekasan, tapi carita urang mah ulah waka tamat," begitu pesan terakhir Varisha sebelum masuk ke dalam taksi online yang membawanya pergi meninggalkan gedung kantor.

Fathan menghela napas panjang, membuang pandangannya ke arah luar jendela kaca besar yang memperlihatkan jalanan kota Bandung yang lengang diguyur sisa hujan. Pikirannya melayang jauh menembus batas ruang dan waktu, membandingkan kepedihan hari ini dengan kepedihan masa lalunya bersama Nisa di Jakarta bertahun-tahun yang lalu.

❖ ❖ ❖

Di tengah kesunyian malam yang semakin larut, Fathan mulai mempertanyakan kembali seluruh skenario hidup yang telah ia jalani selama ini. Dulu, sewaktu di Jakarta, ia menyalahkan jarak dan kekurangan finansial sebagai penyebab utama retaknya komunikasi dan hancurnya hubungan cintanya dengan Nisa. Ia berpikir bahwa kuncinya adalah menjadi orang sukses secara karier dan mapan secara materi, agar tidak ada lagi alasan bagi waktu dan jarak untuk memisahkan dua orang yang saling mencintai.

Lihat selengkapnya