Titik Temu

Amrullah Ibrahim
Chapter #36

Kelelahan yang Mengakar

Suara ketukan hujan yang menghantam seng kanopi jendela kamar kos Fathan terdengar begitu monoton, seirama dengan detak jarum jam dinding yang berputar lambat tanpa ampun. Di ruangan sempit berukuran tiga kali tiga meter itu, Fathan duduk di atas kasur lipatnya yang tipis, menatap dinding kosong berwarna putih kusam dengan tatapan hampa. Tidak ada lagi tumpukan blueprint arsitektur megah, tidak ada lagi deretan buku sketsa bangunan komersial, dan tidak ada lagi ambisi membara untuk menaklukkan dunia konstruksi ibu kota. Semuanya telah lenyap, terkikis oleh waktu dan kelelahan yang sudah berakar jauh di dalam sanubarinya.

Usia Fathan kini telah menginjak kepala tiga, namun jika ia bercermin di depan cermin kecil kamar mandinya, ia melihat sosok pria paruh baya yang kehilangan gairah hidup. Rambutnya mulai ditumbuhi uban halus di bagian pelipis, matanya cekung dengan lingkaran hitam pekat akibat kurang tidur bertahun-tahun, dan bahunya merosot menanggung beban eksistensi yang terasa begitu sia-sia. Ia telah menarik diri sepenuhnya dari dunia cinta yang penuh luka dan dunia karier korporat yang kompetitif.

Kini, Fathan hidup dalam mode autopilot. Setiap hari berjalan dengan pola yang sama persis: bangun tidur saat fajar, pergi bekerja sebagai pengawas bangunan lepas dengan upah pas-pasan, pulang ke kos saat malam buta, lalu termenung di dalam gelap hingga subuh menjelang. Bagi Fathan, jatuh cinta adalah sebuah kesalahan fatal—sebuah kekeliruan kalkulasi emosional yang telah meruntuhkan seluruh fondasi masa depannya.

Pintu kamar kosnya diketuk pelan dari luar, membuyarkan lamunan panjang Fathan.

"Mang, ieu aya paket titipan ti warung," suara Bu Endang, pemilik kos, terdengar ramah dari balik pintu kayu yang catnya sudah mengelupas.

Fathan bangkit dengan langkah berat, membuka pintu sedikit, lalu menerima bungkusan kecil berisi obat maag dan vitamin murah yang ia pesan secara daring. "Nuhun ya, Bu. Maaf merepotkan terus," ucap Fathan dengan suara parau.

"Aduh, Mang Fathan teh naha bet betah waé cicing di kamar poék waé? Geus kolot mah kuduna mah néangan jodo, lain kalah ka ngenyot roay sorangan di kamar," tegur Bu Endang menggunakan campuran bahasa Sunda sambil menatap Fathan penuh prihatin. (Aduh, Mang Fathan teh kenapa betah banget diam di kamar gelap terus? Sudah tua mah harusnya nyari jodoh, bukan malah menyendiri sendirian di kamar.)

Fathan tersenyum tipis, senyuman hambar yang menyembunyikan kepedihan mendalam. "Teu nanaon, Bu. Tos males mikiran nu kitu mah. Hirup ayeuna geus lieur ku urusan beuteung," balas Fathan singkat, lalu menutup kembali pintunya perlahan. (Tidak apa-apa, Bu. Sudah malas memikirkan yang begitu mah. Hidup sekarang sudah pusing sama urusan perut.)

Ia kembali duduk di tepi kasur. Pikirannya melayang jauh menembus ruang dan waktu, mengenang kembali masa-masa ketika ia masih menjadi seorang mahasiswa arsitektur yang penuh idealisme bersama Nisa di perpustakaan tua kampus. Betapa naifnya mereka dulu, percaya bahwa cinta dan mimpi besar bisa berjalan beriringan tanpa hambatan berarti. Dan sekarang, apa yang tersisa dari semua impian itu? Reruntuhan asa yang berserakan di atas meja kerjanya yang kosong. Fathan merasa usianya menua sia-sia, terbakar habis di atas puing-puing patah hati yang tidak pernah benar-benar sembuh.

❖ ❖ ❖

Keesokan paginya, Fathan berangkat menuju lokasi proyek pembangunan ruko sederhana di kawasan pinggiran kota. Ia tidak lagi memegang kendali sebagai arsitek utama seperti dulu; kini ia hanya bekerja sebagai buruh pengawas lapangan harian yang bertugas memastikan adukan semen dan kerangka besi sesuai dengan instruksi mandor. Di bawah terik matahari pagi yang menyengat, Fathan mengenakan topi proyek kusam dan rompi keselamatan berwarna oranye yang sudah pudar.

"Woi, Fathan! Éta acian témbok di blok B bisi retak mun kurang cai!" teriakan Mang Udin, sang kepala tukang, memecah kebisingan suara mesin molen pengaduk semen.

Fathan mengangguk pelan dari kejauhan, mengangkat tangan kanannya sebagai tanda mengerti. Ia melangkah mendekati tembok bangunan yang sedang dikerjakan, memeriksa tekstur plesteran dengan teliti. Gerakannya mekanis, tanpa antusiasme, seperti robot yang digerakkan oleh baterai sisa.

Di tengah kesibukan proyek tersebut, seorang pemuda pekerja muda bernama Jaka mendekati Fathan sambil membawa segelas teh botol dingin.

"Istirahat heula, Mang. Geus ti tatadi nangtung waé di handap panonhari," ujar Jaka ramah sambil menyodorkan sebotol minuman. (Istirahat dulu, Mang. Sudah dari tadi berdiri terus di bawah panas.)

Fathan menerima minuman itu, mengucapkan terima kasih pelan, lalu duduk di atas tumpukan bata merah di bawah bayang-bayang kanopi seng proyek. "Nuhun, Jak. Urang rada pusing saeutik," kata Fathan sambil menyeka keringat di dahinya dengan lengan baju. (Terima kasih, Jak. Aku sedikit pusing.)

"Mang Fathan mah ti baheula katingalina téh jiga jalma nu loba teuing pikiran. Boga masalah kulawarga atawa kabogoh, Mang?" tanya Jaka penasaran, duduk di sebelah Fathan sambil membuka bungkus rokok kreteknya. (Mang Fathan mah dari dulu kelihatannya teh kayak orang yang terlalu banyak pikiran. Punya masalah keluarga atau pacar, Mang?)

Fathan tertawa hambar, menatap cairan teh di dalam botol kaca yang dipegangnya. "Kabogoh? Cinta? Éta mah carita jaman baheula, Jak. Ayeuna mah hirup teh cukup ku mikiran kumaha poé ieu bisa dahar jeung bisa sare tibra," jawab Fathan datar. (Pacar? Cinta? Itu mah cerita jaman dulu, Jak. Sekarang mah hidup teh cukup dengan mikirin gimana hari ini bisa makan dan bisa tidur nyenyak.)

"Ah, teu seru hirup teh mun teu boga gairah mah, Mang. Jiga nu hirup tapi maot," timpal Jaka santai menyalakan rokoknya. (Ah, tidak seru hidup teh kalau tidak punya gairah mah, Mang. Kayak yang hidup tapi mati.)

Kata-kata Jaka, meskipun diucapkan secara santai oleh seorang buruh muda, menghujam tepat ke ulu hati Fathan. "Hidup tapi mati." Itulah definisi paling akurat mengenai kondisinya saat ini. Titik jepit pertama mulai mencekik lehernya ketika ia menyadari bahwa keputusannya untuk menarik diri dari segala hal yang berbau emosional justru telah mengubahnya menjadi mayat hidup—bernapas, bekerja, tetapi kehilangan jiwa sepenuhnya. Kelelahan yang mengakar bukan lagi sekadar kelelahan fisik akibat kerja keras, melainkan kelelahan eksistensial yang membuat setiap detik napasnya terasa begitu berat dan tidak bermakna.

❖ ❖ ❖

Hari-hari berikutnya berlalu dalam kesunyian yang semakin pekat. Fathan semakin menutup diri dari dunia luar. Telepon genggamnya jarang ia aktifkan, kecuali untuk keperluan mendesak dari mandor proyek. Ia tidak lagi memedulikan kabar dari teman-teman lamanya di Jakarta atau keluarganya di Bandung. Dunia Fathan kini telah menyusut menjadi sebatas kamar kos sempit dan lokasi proyek konstruksi yang berdebu.

Suatu sore, sepulang dari tempat kerja, Fathan memutuskan untuk mampir ke sebuah warung kopi sederhana di dekat terminal bus kota. Udara sore mendung, rintik gerimis mulai turun membasahi jalanan aspal yang kotor. Ia duduk di pojok ruangan warung kopi itu, memesan segelas kopi hitam pahit tanpa gula, menikmati kesendirian di tengah kebisingan orang-orang yang lalu-lalang.

Saat ia sedang menyesap kopinya, tanpa sengaja matanya menangkap sosok seorang perempuan paruh baya penjual koran keliling yang sedang berteduh di depan warung. Wajah perempuan itu, gerakannya, dan cara ia merapikan plastik penutup korannya mengingatkan Fathan pada ibunya di kampung halaman. Seketika itu juga, gelombang rasa bersalah yang luar biasa besar menghantam dadanya.

Lihat selengkapnya