Titik Temu

Amrullah Ibrahim
Chapter #37

Debu Buku dan Hening yang Damai

Pagi hari di Kota Palembang menyambut dengan hangatnya sinar matahari yang menembus celah-celah jendela kaca besar perpustakaan kota. Udara di dalam ruangan luas itu terasa sejuk, beraroma khas kertas tua, debu halus yang beterbangan, dan lembaran buku-buku lama yang tersusun rapi di rak-rak kayu jati setinggi langit-langit. Fathan duduk seorang diri di sudut paling sepi, di sebuah meja kayu panjang yang permukaannya sudah sedikit pudar termakan usia. Di hadapannya tertumpuk beberapa jilid buku sejarah dan sastra klasik, namun pandangannya justru melayang jauh keluar jendela, memperhatikan aliran Sungai Musi yang tenang di kejauhan sana.

Sudah beberapa bulan berlalu sejak perpisahan terhormatnya dengan Varisha lewat sambungan telepon internasional dari Singapura. Hidup Fathan di Jakarta dan kini saat ia menyempatkan waktu pulang sejenak ke tanah Sumatra telah bergeser ke ritme yang jauh lebih tenang, matang, dan damai. Tidak ada lagi ambisi membabi buta untuk segera menaklukkan dunia, tidak ada lagi ketakutan akan kegagalan, dan yang paling penting, tidak ada lagi bayang-bayang penyesalan masa lalu yang menghantui setiap langkah kakinya. Perpustakaan kota ini kini menjadi tempat pelarian favoritnya setiap kali akhir pekan tiba—sebuah ruang sunyi di mana ia bisa memulihkan batinnya dari bisingnya dunia korporat.

"Woi, dinda! Laju nian galak ngurung diri di pojokan ni, dem, cak wong linglung bae dari tadi kuperhatiin," sebuah suara logat khas Palembang yang santai mendadak memecah keheningan di sekitar meja Fathan.

Fathan terkejut kecil, lalu mendongak. Di hadapannya berdiri Ripki, teman masa kecilnya di Palembang yang kini bekerja sebagai pustakawan senior di gedung tersebut. Ripki mengenakan kemeja flanel lengan pendek dengan celana jeans belel, membawa secangkir kopi hitam hangat di tangan kanannya.

"Eh, ikak, Kiki! Ngagetin bae kau ni, dateng-dateng lgsung nyamperin," sapa Fathan sambil tersenyum lebar, merapikan tumpukan buku di depannya.

Ripki menarik kursi kayu di sebelah Fathan, lalu meletakkan cangkir kopi tersebut di atas meja. "Makano, jangan terlaluan khusyuk mumbul ke awang-wang mikirin gawean di Jakarta. Istirahatlah, dek, badan tu butuh santai. Ngapa, tumben nian akhir pekan ni milih nongkrong di perpus ketimbang jalah-jalan ke mal?"

Fathan tertawa kecil, meneguk sedikit udara segar yang masuk lewat ventilasi. "Bukannya malas, Ki. Justru aku ke sini nyari ketenangan. Di perpus ni tenang, dak keruh, pas nian buat kepalaku yang sempat puyeng seminggu kemarin."

"Alasan bae kau ni, Fan. Padahal aku tahu, tempat ikak ni lah yang dulu sering jadi saksi bisu kau galau waktu masih kuliah dulu, kan?" goda Ripki sambil menaikkan sebelah alisnya, tersenyum jenaka.

Fathan mengangguk pelan, matanya menerawang menatap rak-rak buku tua di sekeliling mereka. Memang benar, perpustakaan kota ini menyimpan banyak memori masa mudanya sebelum ia merantau jauh ke Jakarta dan berkelana dalam lika-liku cinta serta ambisi. Namun, bedanya dulu ia datang ke sini dengan sejuta beban dan pertanyaan tentang masa depan, sementara sekarang ia kembali ke tempat yang sama dengan hati yang sudah benar-benar merdeka dan damai.

❖ ❖ ❖

Ripki memperhatikan ekspresi wajah Fathan yang tampak jauh lebih tenang dibanding saat terakhir kali mereka bertemu setahun lalu. Sebagai sahabat yang sudah lama mengenal perangai Fathan, Ripki bisa membaca bahwa lelaki di hadapannya itu telah melewati badai emosional yang cukup panjang sebelum akhirnya menemukan ketenangan batin seperti sekarang.

"Tapi jujur ya, Fan, aku seneng liat kau sekarang. Agak beda rasanya, mukanya lebih adem, gak kayak waktu pertama kali merantau dulu yang keliatannya ambisius nian tapi gampang stres," komentar Ripki jujur sambil menyeruput kopi hitamnya.

Fathan tersenyum tipis, menyandarkan punggungnya pada kursi kayu. "Namanya juga proses, Ki. Dulu kan aku masih labil, mikirnya hidup ni harus buru-buru sukses, harus cepet pamer hasil ke semua orang. Pas udah ngerasain sendiri kerasnya Jakarta, baru sadar kalau ketenangan jiwa tu jauh lebih mahal harganya."

"Nah, bener kato kau tu! Jangan dengerin omongan tetangga atau gengsi ibukota. Yang penting ati tenang, perut kenyang, idup jalan terus tanpa beban," timpal Ripki dengan logat Palembang yang semakin kental dan bersemangat. "Oh ya, urusan percintaan kau gimana sekarang? Terakhir dengar cerita, kau sempat deket banget samo cewek Sunda yang hebat tu, kan?"

Pertanyaan langsung dari Ripki sempat membuat Fathan terdiam sejenak. Bayangan wajah Varisha yang tegas, cerdas, dan penuh ambisi di Singapura seketika melintas di benaknya. Namun, tidak ada lagi rasa sakit atau kepedihan di dadanya; yang ada hanyalah rasa hormat dan kenangan indah yang tersimpan rapi di dalam kotak memori hatinya.

"Kami udah ambil jalan masing-masing secara baik-baik, Ki," jawab Fathan tenang, suaranya terdengar stabil tanpa ada keraguan sedikit pun. "Dia punya jalan karier impiannya di Singapura, aku juga punya fokus hidupku sendiri di Jakarta. Daripada dipaksain LDR terus saling nyiksa, lebih baik berpisah secara terhormat."

Ripki manggut-manggut mendengar penjelasan sahabatnya itu. "Wah, dewaso nian sikap kau sekarang, Fan. Salut aku. Padahal putus cinta model begitu tuh biasanya bikin wong stress berbulan-bulan."

"Sempet stress lah, Ki, gak mungkin langsung ikhlas begitu saja," aku Fathan sambil tertawa kecil. "Tapi seiring berjalan waktu, aku sadar bahwa cinta yang dewasa itu bukan soal memaksakan diri memiliki, tapi soal merelakan seseorang untuk terbang menggapai mimpinya tanpa harus menjadi beban."

Lihat selengkapnya